Bendera Vietnam (pexels.com/Hugo Heimendinger)
Vietnam juga memasang target meningkatkan PDB per kapita menjadi sekitar 8.500 dolar AS pada 2030. Angka tersebut kurang lebih setara dengan posisi Thailand saat ini. Namun, Ha menilai target tersebut masih menjadi peluang jangka menengah dan belum tentu dapat tercapai dalam waktu dekat.
Konsultan ekonomi sekaligus mantan penasihat ekonomi senior Bank Dunia untuk Vietnam, Raymond Mallon juga menilai Vietnam masih membutuhkan waktu untuk mengejar Thailand.
"Jika ekonomi Thailand tumbuh sekitar 2 persen-3 persen dan Vietnam mampu mempertahankan pertumbuhan 8 persen, Vietnam berpotensi menyamai PDB per kapita Thailand pada pertengahan 2030-an. Namun, skenario tersebut dinilai belum tentu terjadi karena kinerja ekonomi Thailand diperkirakan membaik;" tuturnya.
Vietnam memang memiliki sejumlah keunggulan manufaktur dibandingkan Thailand, terutama karena porsi industri baru seperti elektronik dan semikonduktor yang lebih besar. Perkembangan sektor tersebut turut didorong oleh derasnya investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI).
Berdasarkan data investasi ASEAN, aliran FDI ke Vietnam pada tahun lalu mencapai sekitar 20,4 miliar dolar AS. Angka tersebut berada di bawah Singapura sebesar 150,9 miliar dolar AS, dan Indonesia sebesar 21,4 miliar dolar AS.
Ha menilai, capaian tersebut menunjukkan daya tarik Vietnam sebagai tujuan investasi, meskipun pertumbuhan ekonomi kawasan tidak hanya ditopang oleh satu negara.
Di sisi lain, Mallon menilai, keberhasilan ekonomi Vietnam tidak terlepas dari kebijakan keterbukaan ekonomi atau doi moi yang dimulai pada 1980-an. Sejak saat itu, Vietnam mengalami pertumbuhan pesat dan berhasil menekan tingkat kemiskinan.
Meski demikian, ketergantungan terhadap ekspor membuat Vietnam tetap rentan terhadap guncangan eksternal. Salah satu risiko yang perlu diwaspadai adalah kebijakan tarif perdagangan Amerika Serikat (AS), yang merupakan pasar ekspor terbesar Vietnam.
Mallon menilai Vietnam memiliki fondasi ekonomi yang cukup kuat, didukung tingkat literasi tinggi, kualitas pendidikan dasar yang solid, serta tenaga kerja yang kompetitif dari sisi biaya dan fleksibilitas. Ia juga menyoroti perlambatan ekonomi China dan meningkatnya biaya tenaga kerja di negara tersebut sebagai salah satu faktor yang membuka peluang bagi Vietnam untuk menarik lebih banyak investor asing.
Sementara itu, Ha menilai penguatan basis manufaktur dan posisi Vietnam dalam rantai pasok internasional dapat meningkatkan daya tawar negara tersebut dalam kerja sama perdagangan, infrastruktur, dan teknologi. Namun, peningkatan pengaruh Vietnam di kawasan ASEAN diperkirakan membutuhkan waktu karena Indonesia masih unggul dari sisi skala ekonomi dan jumlah penduduk, sementara Singapura dan Malaysia memiliki keunggulan tersendiri dalam tingkat kematangan ekonomi.
IMF memperkirakan Vietnam dapat mempertahankan keunggulan tipis atas Indonesia hingga 2027. PDB per kapita Vietnam diproyeksikan mencapai 5.659 dolar AS, sedangkan Indonesia sebesar 5.550 dolar AS. Proyeksi tersebut sekaligus berbalik dari perkiraan IMF pada April lalu yang sebelumnya memperkirakan Indonesia masih akan unggul atas Vietnam pada 2026.