ilustrasi Qatar (pexels.com/なかむーちょ Nakamuhcho)
Gak semua mata uang dalam daftar tersebut mengalami perubahan besar terhadap dolar AS. Dolar Hong Kong, dirham Uni Emirat Arab, riyal Qatar, dan riyal Arab Saudi tercatat bergerak kurang dari 0,2 persen terhadap dolar AS. Bahkan dirham UEA dan riyal Qatar tercatat gak mengalami perubahan atau berada di angka 0 persen. Kondisi ini bukan berarti mata uang tersebut secara alami selalu lebih kuat daripada dolar AS, lho.
Pergerakan yang sangat kecil tersebut berkaitan dengan kebijakan nilai tukar negara-negara tersebut. Mata uang mereka dipatok atau memiliki keterikatan yang sangat erat dengan dolar AS sehingga ruang pergerakannya memang dibatasi. Bagi negara-negara Teluk, keterikatan tersebut juga penting karena minyak sebagai komoditas utama mereka umumnya diperdagangkan menggunakan dolar AS. Jadi, ketika kamu melihat mata uang tertentu hampir tidak bergerak terhadap dolar, hal itu bisa saja merupakan hasil dari kebijakan nilai tukar, bukan semata-mata karena kondisi ekonominya lebih kuat.
Data sepanjang Juni 2025 hingga Juni 2026 menunjukkan betapa beragamnya kinerja mata uang dunia terhadap dolar AS. Peso Kolombia menjadi juara dengan penguatan 19,2 persen, sementara shekel Israel dan forint Hungaria juga mencatat kenaikan yang cukup tinggi. Di sisi lain, rupiah melemah 9,3 persen dan masuk jajaran mata uang dengan performa terlemah dalam daftar tersebut.
Buat kamu yang sering bertransaksi menggunakan dolar AS, kondisi nilai tukar seperti ini penting diperhatikan karena bisa berdampak pada biaya perjalanan, belanja barang impor, hingga investasi.