Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Hans Kwee Beberkan Alasan Pasar Modal RI Layak di Emerging Market

3 min read
Hans Kwee Beberkan Alasan Pasar Modal RI Layak di Emerging Market
Ilustrasi IHSG. (IDN Times/Aditya Pratama)
  • Hans Kwee menilai konsultasi MSCI untuk kemungkinan penurunan status Indonesia bukan keputusan final; pasar modal Indonesia tetap berstatus Emerging Market hingga keputusan paling lambat 30 Juni 2027.
  • Menurut Hans, rencana MSCI tidak selaras dengan FTSE Russell yang mempertahankan Indonesia sebagai Secondary Emerging Market, di tengah reformasi transparansi, free float, dan pengawasan perdagangan.
  • Kapitalisasi pasar Indonesia mencapai 572 miliar dolar AS dengan 1.017 instrumen tercatat; Indonesia juga memiliki sembilan saham yang memenuhi kriteria MSCI Standard Index.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Analis pasar modal Hans Kwee menilai usulan Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk menurunkan klasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market tidak mencerminkan kondisi pasar modal domestik. Menurut Hans, investor perlu menyikapi rencana tersebut secara rasional.

Dia menekankan, pengumuman MSCI pada 15 Oktober 2026 masih berupa pembukaan konsultasi pasar, bukan keputusan final untuk menurunkan status Indonesia. MSCI membuka periode konsultasi dengan pelaku pasar hingga 30 April 2027. Adapun keputusan akhir mengenai klasifikasi pasar modal Indonesia dijadwalkan diumumkan paling lambat pada 30 Juni 2027.

“Pengumuman MSCI pada 15 Oktober ini bukanlah pengumuman penurunan kelas atau downgrade seketika, melainkan pembukaan masa konsultasi publik hingga 30 April 2027. Sampai hari ini dan hingga pertengahan 2027 nanti, status Indonesia tetap resmi berada di Emerging Market,” ujar Hans dikutip, Sabtu (17/10/2026).

  1. 1. Rencana tersebut tidak sejalan dengan perkembangan pasar modal

    ilustrasi IHSG (IDN Times/Aditya Pratama)
    ilustrasi IHSG (IDN Times/Aditya Pratama)

    Hans menilai, rencana tersebut tidak sejalan dengan perkembangan pasar modal Indonesia. Ia mencontohkan keputusan FTSE Russell yang mempertahankan Indonesia dalam kategori Secondary Emerging Market tanpa memasukkannya ke dalam daftar pemantauan (watch list).

    “Oleh karena itu, pengumuman konsultasi dari MSCI ini terasa kontras dan tidak sejalan dengan apresiasi objektif yang telah diberikan oleh lembaga indeks global lainnya seperti FTSE,” katanya.

    Menurut dia, keputusan FTSE Russell menunjukkan adanya apresiasi terhadap reformasi pasar modal yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama self-regulatory organization (SRO), yakni Bursa Efek Indonesia (BEI), Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), dan Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI). Reformasi tersebut mencakup peningkatan transparansi data investor, penguatan ketentuan saham beredar di publik (free float), serta perbaikan pengawasan perdagangan di bursa.

    Hans menambahkan, periode konsultasi tersebut seharusnya dimanfaatkan untuk membuktikan bahwa pasar modal Indonesia masih layak berada dalam kategori Emerging Market.

  2. 2. Pasar modal RI tidak sebanding dengan negara-negara yang masuk Standalone Market

    ilustrasi pergerakan IHSG (IDN Times/Aditya Pratama)
    ilustrasi pergerakan IHSG (IDN Times/Aditya Pratama)

    Ia menjelaskan dari sisi ukuran pasar, Hans menilai Indonesia tidak sebanding dengan negara-negara yang umumnya masuk kategori Standalone Market.

    Mengutip data BEI, kapitalisasi pasar saham Indonesia per 15 Oktober 2026 mencapai 572 miliar dolar AS, terbesar kedua di Asia Tenggara setelah Singapura. Selain itu, terdapat 1.017 perusahaan tercatat di BEI. Jumlah tersebut mencakup emiten saham serta instrumen lain, seperti exchange traded fund (ETF), dana investasi real estat (DIRE), dan waran terstruktur.

  3. 3. RI punya 9 saham yang memenuhi kriteria Standard Index

    ilustrasi pergerakan IHSG (IDN Times/Aditya Pratama)
    ilustrasi pergerakan IHSG (IDN Times/Aditya Pratama)

    Hans juga menyoroti kriteria kuantitatif MSCI untuk kategori Emerging Market. Menurut dia, Indonesia memiliki sembilan saham yang memenuhi kriteria Standard Index, jauh di atas persyaratan minimum tiga saham.

    “Ukuran pasar, tingkat likuiditas harian, dan kedalaman industri keuangan kita jauh melampaui kriteria Standalone maupun Frontier Market,” tegasnya.

Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More