Ini Saran Pelaku Pariwisata agar Proyek PLTP dan Wisata Bisa Sejalan

PLTP Gunung Ungaran dan pariwisata Bandungan dinilai dapat berjalan berdampingan melalui dialog serta perencanaan yang selaras.
Pelaku wisata, masyarakat, pemerintah, dan unsur ekosistem pariwisata perlu dilibatkan dalam pengembangan panas bumi.
Sport tourism, kopi lokal, dan wisata edukasi energi menjadi peluang yang dapat dikaji dengan memperhatikan kelestarian alam.
Jakarta, IDN Times - Pengamat pariwisata sekaligus mantan Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Bambang Mintosih menilai pengembangan energi panas bumi melalui PLTP Gunung Ungaran dan sektor pariwisata di kawasan Bandungan, Kabupaten Semarang, dapat berjalan berdampingan.
Hal itu membutuhkan dialog, kolaborasi antarpemangku kepentingan, serta perencanaan yang menyelaraskan pengembangan energi, pelestarian lingkungan, dan pertumbuhan ekonomi daerah.
"Kehadiran sumber energi bersih dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat fondasi pembangunan, sementara sektor pariwisata terus mengembangkan daya tarik dan aktivitas ekonomi yang sesuai dengan karakteristik daerah," kata dia dalam keterangannya, Jumat (16/10/2026).
Karena itu, pria yang juga menjabat sebagai Dewan Penasihat PHRI Jawa Tengah itu menilai kedua sektor perlu dibahas dalam konteks pembangunan daerah dengan melibatkan berbagai pihak.
1. Pengembangan panas bumi perlu libatkan pelaku wisata

Sejumlah wisatawan melintasi lokasi semburan uap belerang yang keluar dari kawah di lereng Gunung Ungaran, Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (25/8/2026). (Antara/Aprillio Akbar) Bambang menilai, pengembangan pariwisata tidak cukup hanya mengandalkan keindahan alam. Sektor tersebut juga perlu memperluas pilihan atraksi, mendorong kreativitas masyarakat, dan memperkuat usaha lokal.
Di sisi lain, rencana pengembangan panas bumi perlu dikomunikasikan secara terbuka agar kepentingan berbagai pihak, termasuk keberlanjutan destinasi wisata dan manfaat ekonomi bagi masyarakat, dapat dipertimbangkan.
"Seluruh unsur ekosistem pariwisata perlu dilibatkan, mulai dari pengelola destinasi, pelaku perhotelan, pusat oleh-oleh, biro perjalanan, komunitas, masyarakat, hingga pemerintah," ujar dia.
Melalui dialog, berbagai pihak dapat mengidentifikasi peluang dan mengantisipasi tantangan dari pengembangan kedua sektor tersebut.
2. Sport tourism hingga kopi lokal bisa jadi pilihan wisata

Sejumlah wisatawan melintasi lokasi semburan uap belerang yang keluar dari kawah di lereng Gunung Ungaran, Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (25/8/2026). (Antara/Aprillio Akbar) Bambang melihat kawasan Bandungan dan sekitarnya memiliki peluang untuk memperkaya pengalaman wisata melalui kegiatan berbasis aktivitas dan kreativitas lokal.
Salah satunya sport tourism atau wisata olahraga, yang berpotensi menarik wisatawan melalui berbagai kegiatan, termasuk ajang lari, sekaligus menggerakkan usaha lokal.
Potensi kopi lokal yang dikembangkan anak muda dan pelaku kreatif juga dapat diperkuat melalui wisata kuliner, wellness tourism, serta pilihan pengalaman wisata lainnya. Upaya tersebut dapat memperluas pilihan wisatawan sekaligus meningkatkan daya saing pariwisata Kabupaten Semarang.
"Karakter pariwisata akan selalu merepresentasikan keunikan daerahnya. Karena itu, penting untuk terus berinovasi dan menciptakan pengalaman baru tanpa mengabaikan kelestarian alam," paparnya.
Pengembangan energi panas bumi dan pariwisata pun perlu dibicarakan secara konstruktif agar keduanya dapat menjadi bagian dari pembangunan berkelanjutan.
3. Wisata edukasi energi bisa dikaji

Ilustrasi panas bumi (pixabay.com/longdan91) Bambang juga menilai peluang pengembangan wisata alternatif, termasuk wisata edukasi yang berkaitan dengan energi dan lingkungan, dapat dikaji bersama. Namun, pelaksanaannya perlu mempertimbangkan kelayakan teknis, keselamatan, dan ketentuan yang berlaku.
Dengan kajian tersebut, potensi panas bumi dapat dibahas tidak hanya dari sisi penyediaan energi, tetapi juga dalam kaitannya dengan arah pembangunan daerah.
"Pada akhirnya, yang perlu dibangun adalah kesamaan visi bahwa kemajuan daerah harus memberikan manfaat bagi masyarakat," kata dia.
Komunikasi terbuka, perencanaan matang, dan sinergi antarpihak diperlukan untuk membahas pengembangan panas bumi dan pariwisata secara proporsional, dengan tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan perekonomian lokal.



















