Comscore Tracker

[NOVEL] Putih Abu-Abu dan Cinta yang Tak Tepat Waktu - BAB 3 

Penulis : Pradnya Paramitha

Ketololan Terbesar

 

Bhre menemukan Winna duduk bersila di depan pintu apartemennya. Masih menggenakan seragam lengkap dan sepatu. Matanya terpejam rapat, seperti tidur. Dengan dahi berkerut Bhre memeriksa ponselnya, mengecek apakah ada telepon atau WhatsApp dari Winna. Bukan gaya gadis ini untuk menunggunya diam-diam ketika minta bertemu. Biasanya dia berisik, mengirim chat atau telepon-telepon hanya untuk mengeluhkan betapa menunggu itu buang-buang umur.

Bhre berjongkok, menatap wajah yang tenang itu. Winna selalu bisa tidur di mana pun dan kapan pun. Wajah damainya ketika tidur selalu membuat Bhre tersenyum. Sesaat Bhre tidak rela membangunkan gadis itu. Namun jika dia tidak membangunkannya, mungkin mereka akan di koridor apartemen itu semalaman.

"Win," diusapnya kepala Winna lembut.

Gadis itu reflek menyentakkan tangannya dengan kasar. Baru kemudian membuka mata dengan ekspresi terkejut bercampur curiga.

"Calm down, baby." Bhre mengangkat tangannya tanpa menyerah, sedikit terkejut dengan respon yang diterimanya. "Cuma mau bangunin, suer!"

"Mas Bhre..." Winna menghela napas lega, sambil mengucek matanya. "Kaget aku..."

"Udah dari jam berapa kamu jongkok di depan apartemenku? Kenapa nggak telepon? Gimana kalau aku nggak pulang?" berondong Bhre, berdiri sambil membuka apartemennya.

"HPku mati." jawab Winna, ikut berdiri.

"Kan bisa minjam HP siapa gitu. Gimana sih?"

Winna tidak menjawab. Memasuki pintu masuk apartemennya, Bhre menoleh ke belakang. Winna mengikutinya sambil mengucek-ucek matanya.

"Firasatku nggak enak." kata Bhre ketika melihat betapa buteknya muka gadis itu.
"Laper..." gumam Winna, tidak menjawab pertanyaannya.

Bhre menaruh jaketnya di punggung sofa dan tanpa suara berjalan menuju kulkasnya. Dia hanya berharap Ibunya sempat menyimpan makanan siap makan apa pun sebelum pulang ke Jogja tadi pagi. Karena Bhre yang biasa hanya akan mengisi kulkasnya dengan bir, Coca Cola, dan telur mentah.

"Kayaknya itu enak." kata Winna menunjuk kaleng-kaleng bir.
"Ck! Sembarangan..." Bhre menutup kulkasnya buru-buru. "PHD aja sana!"
"Ah, bosen." Winna melemparkan tasnya ke atas meja, dan menjatuhkan tubuhnya di sofa depan televisi. "Aku kena masalah lagi nih, mas."

Bhre tidak menjawab. Dia sedang mengoprek dapurnya dan menemukan sepotong besar blackforest di meja dapur. Mungkin Ibunya lupa menaruhnya dalam kulkas. Dibawanya kue itu kepada Winna, yang menerimanya dengan mata berbinar-binar.

"Sembilan puluh persen dari hidup kamu kan emang masalah." kata Bhre. "Kalah deh Presiden kita."
"Sebenernya aku nggak bikin masalah. Cuma keseret masalah aja."
"Seperti yang sudah-sudah ya?"

"Serius. Aku nggak salah. Tapi karena aku ada di sana, aku jadi ikut dipersalahkan." Winna berhasil memotong blackforest itu menjadi beberapa bagian kecil. Sebelum mengambil sepotong blackforest, Winna merogoh saku roknya, mengeluarkan kertas lusuh yang langsung ia berikan kepada Bhre.

"Surat panggilan orang tua?" Bhre membaca pelan-pelan bagian atas surat yang sudah dilipat menjadi enam belas bagian itu. Lalu ditatapnya Winna yang sudah mulai menikmati blackforestnya. "Tiga bulan lagi kamu ujian nasonal, dan sekarang dapat surat panggilan orang tua?" tanya Bhre heran. Winna nyengir kecut.

"Ya udah nanti aku kasih ke Oom Har suratnya."
"Mas!" decak Winna.

Bhre nyengir. "Gimana gimana?"
Winna mengerang. "Come on. Tolonglah Mas Bhre yang ganteng, tolong datang ke sekolah aku sebagai Mas Dewa. Hanya Mas Bhre harapanku satu-satunya."

Bhre nyaris tersenyum lebar, mendengar alasan itu. See? Kadang Bhre meruntuki IQ-nya yang mendadak turun setiap kali bersama anak ini. Bagaimana bisa dia, seorang Bhre Wirabhumi, bisa serentan itu pada rayuan tak tulus yang diucapkan anak umur delapan belas tahun? Padahal dia sendiri mengaku sebagai perayu ulung. Tapi seperti yang sudah-sudah, rayuan anak kecil ini selalu membuatnya luluh. Bhre juga penasaran kenapa.

"Masalahnya apa sampai orang tua kamu dipanggil?" tanya Bhre, memutuskan untuk serius.

Bhre masih tidak mengerti bagaimana Winna bisa menyembunyikan kelakuan bengalnya kepada keluarganya. Keluarga Ihsan hanya tahu bahwa anak perempuan mereka satu-satunya ini pintar, dan tidak neko-neko.

Sementara yang Bhre tahu, Winna sudah menjadi tamu tetap di buku hitam, catatan pelanggaran BK. Bukan hanya sekali anak ini mendapat surat peringatan yang memanggil orang tua murid. Dan memang surat itu tidak pernah sampai ke tangan keluarga Ihsan, malah menghuni salah satu laci di apartemen Bhre. Bhre pula yang datang ke sekolah, berpura-pura menjadi kakak Winna Ihsan, dan beralasan bahwa kedua orang tua mereka sedang keluar kota. Citra anak baik Winna di keluarga Ihsan terus terjaga.

"Masalahku sama..." Gadis itu berhenti sejenak, lalu nyengir lebar-lebar. "Biasalah. Aku bolos pelajaran. Habis aku ngantuk banget Mas. Semalam cuma tidur tiga jam."
"Bolos pelajaran doang nggak bikin ortu dipanggil, Win."
"Ng...yah, mungkin karena hasil tryoutku jeblok kali." jawab Winna mengedikkan bahu. "Aku nggak lulus biologi dan kimia."

"Try Out kamu jeblok?"

"Dan Mas Bhre tahu kan apa yang akan terjadi kalau Ayah tahu nilaiku hancur? Ayah bisa panik, menggila, dan" Winna memasang wajah memelas yang dramatis. "hasilnya adalah, bimbel tiga jam dalam satu hari, tiga kali seminggu. Kayak sekolah aku kurang lama aja!"

Bhre tertawa kecil. Dia tahu persis apa yang dikatakan anak ini benar. Hardianto Ihsan, ayah dari Rawinna dan Mahadewa Ihsan, barangkali bukan tipe orang tua favoritnya. Jauh berbeda dengan Ayahnya sendiri yang begitu moderat dan demokratis.

"Jadi?" Bhre mengangkat alis.
"Jadi?" Winna ikut-ikutan mengangkat alis.

Bhre jadi gemas karena Winna terlihat lebih imut ketika sebelah alisnya terangkat. Dan jika gemas, Bhre cenderung mau melakukan apapun yang Winna minta kepadanya.

"Pulang sana." kata Bhre pendek, khawatir pada pertahannya sendiri. Bisa-bisa Winna memintanya nyalon DPRD dan dia tidak kuasa menolak. "Perlu aku antar?"
Winna nyengir. "Kalau tidak merepotkan."

Bhre tertawa lebar. Kalau tidak akan terkesan aneh, Bhre sudah pasti akan mencantumkan 'Direpotkan oleh Rawinna Ihsan' di kolom hobinya.

***

Bhre memarkir motor besarnya di halaman rumah makan India di kawasan Jl. Merdeka. Restoran yang didominasi dengan warna hijau vintage itu terlihat lengang. Mungkin karena jam makan siang yang sudah lewat. Atau memang restoran ini tak terlalu laku, entahlah. Bhre berada di sana hanya karena dua sahabatnya mengancam akan mengacaukan kantornya jika dia tidak datang.

Dewa dan Ralin. Dua sejoli yang sedang menuju pelaminan itu melambai dengan riang begitu dia masuk ke restoran. Keduanya duduk di meja paling pojok, sebuah kebiasaan Ralin sejak kuliah. Katanya karena pojok, sudut yang tak banyak diperhatikan orang, menawarkan sebuah ruang privat dalam ruang publik. Ralin terlalu banyak membaca buku-buku filsafat politik.

Namun kali ini ada orang ketiga yang duduk bersama dua sejoli itu. Seorang perempuan berambut panjang yang duduk membelakanginya. Sekali lihat, Bhre langsung tahu bahwa perempuan itu adalah perempuan kantoran, yang seringkali dia temukan jika dia iseng duduk di bangku tunggu stasiun Sudirman di pagi hari. Catwalk gratisan.

"Kalau nggak penting-penting amat gue sumpahin Sabtu hujan deras." Bhre menjatuhkan pantatnya di satu-satunya kursi kosong di meja itu. "Weekend gue nggak senganggur kalian."

"Sok sibuk." decak Ralin. "Paling juga kerjaan lo matengin foto-foto seronok model-model kurang terkenal itu."

"Weit," Bhre mengangkat tangannya. "hati-hati calon Nyonya Dewa, gue bisa sangat sensitif kalau soal pekerjaan."

Bhre lalu memanggil pelayan restoran, untuk order satu porsi kari ayam dan lemon tea. Dia juga sempat menanyakan bir dingin, yang langsung ditertawakan oleh Dewa. Mana ada restoran India yang menyediakan bir dingin?

"Dan...siapakah gerangan nona ini?" perhatian Bhre teralih pada perempuan cantik di sebelahnya, yang langsung mendongak dan tersenyum. Tidak asing. Tapi Bhre benar-benar tidak ingat siapa.

"Lupa?" tanya Dewa. "Lupa beneran, bro?" Bhre mengernyit bingung. "Siapa..."
"Cinta." perempuan itu segera menyebutkan namanya. "Kita dulu satu kelompok waktu ospek di FH."

Bhre mengerutkan dahinya yang sudah berkerut-kerut. Sumpah mati dia tak ingat pernah mengenal perempuan di sebelahnya ini sebelumnya. Dia pria normal. Jika pernah bertemu perempuan cantik ini, sudah pasti dia pernah mengencaninya. Dan se-playboy-playboy-nya Bhre, dia selalu ingat teman kencannya.

Perempuan cantik itu tertawa kecil, seolah memaklumi ketidaktahuan Bhre. Sebuah tawa yang super tertata. Bhre yakin dia pernah mengikuti kursus kepribadian.

"Ya wajar kalau seorang Bhre Wirabumi nggak ingat sama saya." katanya. "Dulu saya bukan siapa-siapa."

Bhre memasang ekspresi tidak percaya. Bagaimana perempuan secantik ini bisa bukan siapa-siapa? Hanya orang buta yang tidak bisa melihat kecantikan ini.

Seolah mengerti kebingungannya, Cinta mengambil sebuah agenda kerja dari dalam tas. Di buku hitam tersebut dia menunjukkan sebuah foto yang terlihat sudah lama. Seorang berbadan gempal dengan rambut tipis yang kusam terlihat cemberut.

"Ini saya." kata Cinta.
"Hah?" Bhre membelalakan mata.

Samar-samar dia mengingat sosok ini. Perempuan yang dulu sempat menembaknya dengan mengirimkan SMS. Dari foto itu, Bhre mengalihkan pandangan ke perempuan di sampingnya yang memandangnya dengan senyum. Lalu ke foto lagi, lalu ke Cinta, ke foto, ke cinta. Begitu sampai lima kali. Dewa dan Ralin tergelak-gelak.

"Kalau sekarang jelas Bhre bakal ingat sama lo, Cin." kata Ralin dengan nada sinis.
Cinta tertawa lebar. Bhre masih memasang ekspresi bingung dan tak percaya.
"Bentar lagi dia minta nomor lo, Cin." tambah Dewa. "Nanti malam, dia akan nge-WA ngajakin kencan."

Bhre berdecak kesal memandang kedua sahabatnya. "Sorry. Gue bukan orang yang mengingat orang dari penampilannya." lalu Bhre kembali menatap Cinta. "Sorry banget ya, gue benar-benar nggak ngeh ini lo. Habis beda banget! Tapi kalau Cinta yang ini sih gue ingat. Dulu kan kita pernah jadi panitia baksos bareng."

Saat itu Bhre sedang mendekati seorang cewek cantik yang kebetulan menjadi panitia baksos. Jadi saat Cinta, yang juga jadi panitia menembaknya lewat SMS, Bhre sudah berhasil mengajak cewek incarannya berkencan.

"Sorry banget ya? Sebagai permintaan maaf, besok gue traktir makan malam?"

"KAN!" Ralin langsung menjerit penuh kemenangan. Perempuan itu menatap Bhre dengan pandangan mencela. "Kampungan! Ketebak banget modus lo, Bhre. Dasar playboy cap kadal bunting!"

"Apa sih?" Bhre menatap Ralin kesal, karena mengganggu modusnya. "Wa, tolong itu calon istrinya diatur."

Cinta tertawa kecil, lalu perempuan itu pamit untuk duluan karena ada janji lain. Tadi mereka tidak sengaja bertemu di restoran ini. Lalu Ralin dan Dewa mengundangnya secara lisan untuk hadir di pernikahan mereka hari Sabtu nanti. Cinta berjanji akan hadir, dan mengajak teman-teman yang lain. Sambil tersenyum manis kepada Bhre, Cinta meninggalkan mereka bertiga.

"Gue belum dapat nomornya!" sentak Bhre tidak percaya.

"Mampus!" decak Ralin.

Sejak dulu, Ralin dan Bhre memang tidak pernah akur. Apa pun yang dilakukan Bhre selalu dikritik oleh Ralin dan sebaliknya. Jika ada pertengkaran-pertengkaran, pastilah antara Bhre dan Ralin. Dewa selalu hadir sebagai penengah konflik. Pembawaan Dewa yang kalem dan dewasa menjadi penyeimbang untuk Bhre dan Ralin yang sering meledak-ledak.

Dulu orang-orang selalu berpikir bahwa pada akhirnya Bhre dan Ralin akan saling jatuh cinta. Begitu kan kebanyakan cinta di FTV yang didahului dengan kebencian? Tapi cinta justru hadir diantara Ralin dan Dewa. Ralin bahkan mengaku, beberapa kali dia sengaja membuat masalah dengan Bhre, supaya Dewa datang menengahi mereka. Bhre mencemooh habis-habisan tindakan itu. Tapi Dewa menatap Ralin dengan ekspresi memuja.

"Capek ah, Bhre. Gue ngelihat hidup lo capek sendiri." komentar Ralin.
Bhre mendengus, tapi tidak menjawab. Dia mulai asik menikmati makan siangnya.

"Dia sendiri yang tanggung akibatnya, sayang." jawab Dewa. "Biarin aja."

"Iya sih. Aku yakin dia akan mengalami derita cinta. Karma dari perlakuannya ke cewek-cewek. Apa malah udah, Bhre?"

Bhre reflek mendongak. Ralin sedang menatapnya dengan sebelah alis terangkat. Sebuah ekspresi yang muncul di wajah peran-peran antagonis di sinetron. Seolah-olah perempuan ini sedang meledeknya. Bhre mengerutkan dahi.

"Apaan?" tanya Bhre, sambil membuka air mineral yang dia pesan.

Ralin mengedikkan bahu. "Yaaa...siapa tahu lo ini sebenarnya jatuh cinta sama satu cewek. Terus lo nggak berani ngungkapin. Buat menutupinya, lo banyak-banyakin kencan nggak penting sama cewek lain."

Bhre tersedak air yang sedang dia minum. Tenggorokan dan hidunya terasa panas, ketika air itu memasuki hidungnya. Bhre menelan ludah.

"Iyeee. Gue naksir Natalie Portman. Gila nggak tuh? Coba gimana cara gue ngungkapin ke dia?" tanyanya sambil tertawa.

Ralin mendengus kesal.

Saat itu ponsel Bhre yang tergeletak di meja bergetar, tanda ada SMS masuk. Senyum Bhre langsung melebar saat melihat siapa yang mengiriminya SMS.

Hi. Nomor saya masih sama, Bhre. Nice to meet you again  - Cinta-

Dengan penuh kemenangan Bhre menunjukkan SMS itu kepada Dewa dan Ralin.
"Bhre tidak pernah gagal, nona." Katanya jemawa.
"Bodoh!" desis Ralin kesal.

***

Dalam hidupnya, Bhre Wirabumi memang berulang kali melakukan tindakan-tindakan bodoh. Beberapa tindakan berasal dari keahliannya berpikir pendek yang sering muncul tiba-tiba. Beberapa yang lain berasal dari rasa ingin tahunya yang besar, sehingga mengabaikan risiko-risiko yang diam-diam dibisikkan nuraninya sendiri.

Dia pernah mengencani gurunya sendiri ketika kelas 3 SMA. Kebetulan, guru Bahasa Inggrisnya waktu itu, baru saja lulus S1 keguruan dan diangkat menjadi guru tetap di sekolahnya. Meski status mereka guru dan murid, usia mereka hanya terpaut empat tahun. Dan Bhre, selain dikenal badung juga dikenal sebagai playboy kelas berat sejak SMA. Hanya sedikit kemampuan 'nyepik', si guru yang manis diam-diam menjadi kekasihnya.

Dia juga pernah mengorbankan masa depan cerahnya di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Siapa yang tak kenal Bhre Wirabumi? Mahasiswa lumayan berprestasi dari Fakultas Hukum yang disayang dosen. Di tahun keduanya, Bhre banting stir. Enggan meneruskan kuliahnya di FH UI, dan ikut seleksi masuk di Fakultas Perfilman Institut Kesenian Jakarta.

Tak hanya itu, Bhre juga mengambil sekolah graphic design di luar kampus. Banyak orang yang bertanya mengapa Bhre mengambil keputusan sebodoh itu. Bagaimana bisa seseorang melepaskan kesempatan karier di bidang hukum untuk hal-hal berbau seni yang masa depannya sendiri belum diketahui?? Dan Bhre tetap tak peduli dan melenggang penuh percaya diri menapaki karir yang dia yakini sebagai takdirnya.

Tapi jika ditanya tentang kebodohan terbesarnya, Bhre seketika menjadi melankolis.
"Man, apa yang lo tahu tentang gue itu belum seberapa dari kegilaan terbesar yang pernah gue lakukan." jawabnya, dengan pandangan menerawang, seolah memikirkan kebodohan itu bisa menyiksanya sampai mati. "Kebodohan yang efeknya masih ada sampai sekarang."

"Apaan itu, Bro?" salah seorang kawannya bertanya.
"Jatuh cinta." jawab Bhre.

Lalu kawan-kawannya akan kebingungan. Beberapa di antara mereka setuju bahwa jatuh cinta terkadang memang menimbulkan kebodohan-kebodohan. Namun yang tak mereka mengerti, bagaimana seorang penakluk perempuan seperti Bhre bisa jatuh cinta. Lantas mereka mulai berspekulasi, mungkin Bhre pernah mengalami patah hati akut yang menyebabkan jiwanya miring, sehingga kini dia menganggap perempuan sebagai penghibur belaka.

"Bro, apa salahnya jatuh cinta?" tanya seorang kawannya yang lebih kritis daripada yang lain. "Jatuh cinta itu fitrah. Wajar kalau seseorang melakukan tindakan-tindakan bodoh saat jatuh cinta. Tapi justru itulah uniknya cinta."

Bhre akan tertawa kecil mendengar komentar-komentar seperti itu. Lalu dengan nada yang lebih merana dia akan menjawab:

"Iya, Bro. Jatuh cinta itu nikmat Tuhan yang tak bisa didustakan. Asalkan lo nggak jatuh cinta sama anak umur sembilan tahun, saat umur lo udah delapan belas."

Tak ada lagi kawannya yang menyangsikan bahwa itu kebodohan paling hebat yang mungkin dilakukan oleh seorang Bhre. Mungkin itu juga kebodohan hebat jika dilakukan oleh siapa pun.

Beberapa kawannya yang punya kebiasaan judging, langsung menuduhnya pedofilia. Namun Bhre tak peduli. Dia sendiri akan kembali terkenang bagaimana dia melakukan kebodohan terbesar itu, dan masih melakukannya hingga sekarang, saat usianya sudah dua puluh delapan tahun.

Dia masih ingat hari itu ketika dia pertama kali bertemu dengan malaikat kecilnya. Saat itu usianya delapan belas, duduk di kelas 3 SMA. Dia sendiri adalah siswa pindahan dari Yogyakarta. Ayahnya yang seorang pegawai Kejaksaan mengharuskan mereka berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Namun karena seringnya hal itu terjadi, Bhre menjadi punya keahlian baru: mencari teman.

Sejak hari pertama masuk sekolah dia sudah berhasil masuk geng cowok-cowok-bandel-tapi-disayang di sekolah tersebut. Bhre si anak baru mudah menyesuaikan diri karena dia sudah bergaul dengan berbagai macam kelompok selama masa berpindahnya.

Siang hari sepulang sekolah dia ikut kumpul di rumah salah satu anggota, yang rupanya memang semacam basecamp untuk kelompok itu. Mereka ngobrol ngalor ngidul sambil main musik. Terkadang sambil bertanding PS. Si tuan rumah ternyata juga cukup royal. Berbagai hidangan berupa makanan kecil terus keluar dari ruang makan, mengisi perut gerombolan remaja-remaja tanggung itu.

Saat gelas-gelas es teh sudah kosong, supply minuman kembali muncul berupa es jeruk segar yang seperti surga dunia di tengah cuaca yang panas. Namun bukan itu yang membuat Bhre terpana. Melainkan agen yang membawa minuman tersebut. Bhre masih ingat dengan jelas bagaimana darahnya terasa berhenti mengalir pada saat itu. 

Supply oksigen di saluran pernapasannya mungkin juga berkurang, karena itulah napasnya memburu. Berkali-kali dia menelan ludah, namun tenggorokannya terasa perih. Tubuhnya mendadak tegang dan kaku. Matanya tak bisa lepas dari gadis kecil yang membawakan minuman-minuman itu dalam baki, sedikit terlihat kerepotan karena bahkan baki itu nyaris sebesar dirinya.

Bhre tak tahu bagaimana pastinya kerja otaknya saat itu. Dia tak ingat apakah dia baru mengonsumsi ekstasi atau ganja. Gadis kecil itu terlihat tak masuk akal baginya. Rambutnya tebal panjang dan mengikal di ujung-ujungnya. Ada poni rata menghiasi wajahnya yang memberi kesan imut. Pipinya tembam, ada lesung pipit menyembul saat si kecil menyapa teman-temannya. Matanya kecil, seperti ada darah Jepang yang mengalir di tubuhnya.

Bhre heran mengapa tak ada temannya yang menangkap cahaya dari sekujur tubuh si kecil. Cahaya yang membuatnya nyaris kesulitan bernapas. Apalagi saat kawannya si pemilik rumah memperkenalkan si kecil sebagai adik semata wayangnya kepada Bhre. Saat si kecil tersenyum padanya sambil mengulurkan tangannya untuk berkenalan, Bhre nyaris gemetaran.

Tak lama dia izin pulang duluan. Bhre takut jika terlalu lama berada di sana otaknya benar-benar akan rusak. Dibanding yang seusianya, gadis kecil memang terlihat bongsor dan lebih dewasa. Tapi Bhre ingat sahabatnya itu pernah cerita soal adiknya yang masih SD. Jadi, bagaimanapun juga, dia kan tetap masih anak-anak! Tubuhnya bahkan belum tumbuh seutuhnya! Jadi, bagian mana yang bisa memikat Bhre?

Hari-hari berikutnya Bhre selalu menolak saat kawan-kawannya mengajak berkumpul di basecamp. Bhre harus memastikan otaknya sudah kembali ke tempat yang benar sebelum bertemu dengan si kecil. Namun usahanya itu tidak banyak membantu.

Semakin hari dia justru semakin tersiksa dihantui bayangan gadis kecil itu tersenyum padanya. Lesung pipinya yang manis. Rambutnya yang berkilau. Wajahnya yang bulat. Senyumnya yang sempurna. Ada dua malam Bhre menggigil terserang demam saking cemasnya dengan hasrat-hasrat dalam dirinya. Bhre ketakutan setengah mati. Dia termasuk remaja yang gemar membaca. Di usia lima belas dia sudah tahu ada penyimpangan seksual yang disebut fedofilia, yaitu ketertarikan seksual kepada anak-anak di bawah umur.

Hari kesepuluh Bhre mencoba memberanikan dirinya untuk ikut berkumpul. Setengah hatinya karena dia tak tahan lagi dengan penasaran yang semakin menyiksanya. Hari itu dia menemui si kecil dalam balutan seragam merah putih. Reaksinya masih sama dengan pertemuan mereka yang bertama, namun kali itu Bhre berhasil mengendalikan dirinya. Dia bahkan sanggup berbincang dengan si kecil yang tampaknya memang akrab dengan teman-teman kakaknya, walau semakin merana saat tahu gadis kecil itu masih SD kelas 3.

Kok bisa-bisa dia jatuh cinta pada anak kelas 3 SD, saat teman-teman perempuannya mengantre untuk ngobrol dengannya. Setengah hatinya yang lain meyakini bahwa ini pasti karma atas perbuatan tak terpujinya di bidang percintaan. Pasti perempuan-perempuan yang pernah disakitinya itu selalu berdoa supaya dia mendapatkan ganjaran, dan merasakan siksa cinta seperti yang mereka rasakan. Bhre semakin merana.

Bhre lantas mengubah strategi. Bukannya menghindari objek cintanya, dia justru mengakrabkan diri pada si kecil. Siapa tahu seiring hubungan mereka semakin akrab, perasaan tak senonoh itu akan hilang dengan sendirinya.

Bhre rajin bertandang ke rumah kawannya itu. Dan di saat teman-temannya asik main PS atau membicarakan si itu yang seksi banget atau apalah, Bhre menemani si kecil itu nonton kartun Spongebob, atau mendengarnya berceloteh tentang segala hal. Saat sekolahnya sering pulang cepat karena Try Out UN, Bhre sering menjemput si kecil di sekolahnya. Mengajaknya jajan cilok, lalu mengantarkan pulang.

Saat ditanya teman-temannya, Bhre beralasan bahwa dia selalu ingin punya adik. Tapi Ibunya divonis tak bisa hamil lagi sejak kelahirannya. Sebenarnya itu tidak bohong-bohong amat. Sebab rahim Ibunya memang sudah diangkat sejak Bhre masih SD. Teman-temannya percaya begitu saja. Hasilnya adalah: Si kecil semakin akrab dengannya, namun perasaannya tak pergi juga.

Akhirnya Bhre menyerah. Dibiarkan perasaan itu mendiami hatinya. Dinikmatinya diam-diam kebersamaannya dengan si kecil. Lubuk hatinya mengatakan dia masih normal, belum termasuk penyimpangan pedofilia. Dia hanya berharap perasaannya akan menghilang seiring waktu. Toh selama ini dirinya seorang pembosan. Dia tak pernah jalan dengan perempuan lebih dari satu bulan. Dia yakin nanti pelan-pelan dia akan melupakan anak kelas 3 SD tersebut, dan hidupnya dan reputasinya akan kembali seperti sedia kala.

Namun setelah tahun-tahun berlalu, tanpa perubahan berarti, Bhre kembali mempertanyakan perasaannya. Dia memang tetap menjadi playboy di luar. Dia bisa tetap berganti pacar sebulan sekali. Namun setiap kali dia kembali ke rumah itu, berhadapan dengan anak kecil yang mulai puber, hatinya selalu dilanda gempa. Dia lupa pada perempuan-perempuannya. Dia sering mengabaikan kekasihnya setiap kali si gadis kecil meneleponnya hanya untuk menanyakan mengapa Popeye selalu kuat setelah makan bayam.

Di tahun keempat, Bhre yakin, bahwa gadis itu memang takdirnya. Gadis itu mungkin pelabuhan dari pencariannya selama ini. Hati Bhre mulai tenang. Perasannya mulai ringan. Rencana sudah tersusun di pikirannya. Dia akan menunggu sampai gadis itu benar-benar dewasa, setidaknya setelah dia delapan belas.

Setelah itu, dia akan menyatakan perasaannya. Bhre penakhluk perempuan akan mati sepenuhnya. Berganti dengan Bhre yang baru, yang hanya mencintai satu perempuan.
Hingga kini, hampir sepuluh tahun dari hari ketika dia mengira dirinya pedofilia, Bhre sering menertawakan dirinya sendiri.

Dia sering bertanya-tanya apa yang dia lakukan. Apa yang dia tunggu? Belum tentu juga gadis kecilnya memiliki perasaan yang sama. Terkadang dia ingin melupakan saja rencananya, dan tetap hidup seperti saat ini. Namun semua pikiran itu lenyap setiap kali gadis kecilnya yang kini sudah beranjak dewasa menghampirinya dengan tergesa-gesa.

"Mas Bhre! Aku menang! Woooohh! Gila! Senang banget rasanya bisa ngalahin anak-anak 70!"

Lantas segala usahanya untuk mengembalikan otak di tempatnya hancur hanya dengan melihat gadis ini tertawa gembira. Sisi gilanya berpikir, kalau toh dia harus hidup dan menunggu seribu tahun lagi seperti Chairil Anwar, dia akan bersedia. Apapun bisa dia lakukan asalkan dia masih bisa melihat senyum dengan dua lesung pipit dari gadis yang kini berdiri di hadapannya itu.

Si gadis sibuk bercerita tentang pertandingan basket antar SMA di Jakarta yang baru saja dia menangkan. Bhre menatapnya penuh perhatian, sambil menghitung berapa hari lagi gadisnya itu akan delapan belas. Ah, tapi tidak. Mungkin sebaiknya dia menunggu sampai anak ini lulus SMA. Sebentar lagi Ujian Nasional. Tidak bagus jika dia membebani malaikat kecilnya dengan semacam pernyataan cinta orang dewasa yang dipendam hampir sepuluh tahun. Lagipula itu tidak akan lama. Tidak ada waktu yang lebih lama lagi jika seseorang sudah menunggu selama itu.

"What? Aku lagi seru nyeritain basket, Mas Bhre malah nanyain jadwal UN?" protes gadisnya dengan tampang cemberut. Membuat Bhre ingin mencubit pipinya yang kini tirus, dan mencium bibirnya yang kemerah-merahan. Bhre buru-buru menepis pikiran primordialnya. "April." jawabnya masih dengan nada tak rela. "Masih tiga bulan lagi, nggak Ayah Ibu, nggak guru-guru, semuanya udah kebakaran jenggot."

"Mereka nggak yakin kamu jenius." hibur Bhre. "Nggak perlu belajar udah pasti lulus."
Gadis itu mencebik sebal. "Nggak usah nyindir."

Bhre tertawa kecil. Padahal dia mengatakan yang sebenarnya.

"Sendirian aja? Si Mas mana?'
Bhre mengedikkan bahu. Tak lama orang yang ditanyakan muncul dari ambang pintu rumah.

"Eh, si jelek udah pulang. Kurang malam, neng. Mataharinya masih ada tuh. Udah deket UN bukannya belajar malah kelayapan. Mau lulus nggak kamu?"

Si gadis mengernyitkan dahi tak peduli, lalu ngeloyor masuk tanpa menjawab pertanyaan kakaknya, yang semakin menggerutu. Namun tak lama kemudian, sebuah pesan WhatsApp masuk ke HP Bhre, dari gadis yang baru saja masuk karena malas diomeli kakaknya.

Mas Bhre, gak lupa kan? Besok dipanggil ke sekolah aku pagi. I owe you much, Mas.

Bhre tersenyum tipis. Sejak sepuluh atau sembilan tahun yang lalu semuanya tidak berubah. Rawinna Ihsan selalu bisa membuat hatinya hangat dan geregetan di saat yang sama.

***

Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

www.storial.co
Facebook : Storial
Instagram : storialco
Twitter : StorialCo
Youtube : Storial co

Baca Juga: [NOVEL] Putih Abu-Abu dan Cinta yang Tak Tepat Waktu - BAB 2 

Storial Co Photo Verified Writer Storial Co

#CeritainAja - Situs berbagi cerita | Baca ribuan cerita seru dan tuliskan ceritamu sendiri di Storial!

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Aswati

Berita Terkini Lainnya