Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

8 Street Food Tersembunyi di Kyoto yang Jarang Diketahui Turis

8 Street Food Tersembunyi di Kyoto yang Jarang Diketahui Turis
ilustrasi street food di Nishiki Market Kyoto (commons.wikimedia.org/Sergiy Galyonkin)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Artikel menyoroti delapan street food tersembunyi di Kyoto yang jarang diketahui turis, menawarkan pengalaman kuliner lebih autentik dan dekat dengan kehidupan lokal.
  • Setiap hidangan seperti fu, obanzai, hamo, hingga yudofu menggambarkan kekayaan tradisi serta filosofi sederhana dalam kuliner Kyoto yang sering terlewat wisatawan.
  • Penulis mengajak pembaca untuk keluar dari tren populer dan menjelajahi cita rasa asli Kyoto melalui makanan rumahan dan bahan lokal yang mencerminkan budaya setempat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Banyak orang datang ke Kyoto dengan daftar kuliner yang hampir sama, berburu makanan di pasar terkenal, mencicipi camilan viral, lalu pulang dengan pengalaman yang terasa itu-itu saja. Tanpa disadari, pilihan yang terlalu mengikuti arus justru membuat banyak wisatawan melewatkan sisi lain Kyoto yang lebih hangat, lebih dekat dengan kehidupan lokal, dan tentu saja lebih autentik.

Padahal, di balik gang-gang kecil dan sudut kota yang tidak selalu ramai, ada deretan street food sederhana yang justru menyimpan rasa paling jujur dari tradisi kuliner setempat.  Masalah utamanya, jajanan ini jarang tercantum dalam panduan wisata populer, sehingga hanya sedikit orang yang tahu lokasi pastinya. Efeknya, banyak wisatawan merasa sudah “menjelajahi rasa” Kyoto, padahal yang mereka alami baru sebatas lapisan luarnya saja.

Jika kamu ingin pengalaman kuliner yang lebih autentik, intim, dan tidak sekadar mengikuti tren, sekarang waktunya melihat street food Kyoto dari perspektif yang berbeda. Lanjutkan membaca artikel ini dan temukan hidden gems yang bisa jadi justru paling membekas setelah perjalananmu.


1. Fu atau olahan gluten gandum

ilustrasi wheat gluten fu
ilutrasi wheat gluten fu (commons.wikimedia.org/DryPot)

Banyak wisatawan datang ke Kyoto dengan fokus pada makanan yang terlihat “ramai” dan cepat menarik perhatian, sehingga sering melewatkan bahan tradisional seperti fu yang tampak sederhana. Fu sendiri adalah olahan gluten gandum yang sudah lama menjadi bagian dari kuliner Kyoto, terutama dalam hidangan kuil dan masakan tradisional. Karena tampilannya tidak mencolok dan rasanya cenderung ringan, banyak orang menganggapnya kurang menarik untuk dicoba. 

Padahal, teksturnya yang lembut kenyal serta kemampuannya menyerap bumbu membuat fu terasa khas dan tidak mudah ditemukan pada hidangan lain. Jika terus diabaikan, pengalaman kuliner di Kyoto bisa terasa kurang lengkap dan belum benar-benar mencerminkan kekayaan tradisi lokal. Karena itu, mencicipi fu bisa menjadi cara sederhana untuk mengenal sisi Kyoto yang lebih autentik tanpa harus selalu mengikuti tren makanan populer. 


2. Obanzai

ilustrasi obanzai
ilustrasi obanzai (commons.wikimedia.org/Nesnad)

Banyak turis lebih tertarik pada kuliner yang terlihat mencolok dan sedang tren, sehingga obanzai yang sederhana sering luput dari perhatian. Obanzai sendiri merupakan gaya masakan rumahan khas Kyoto yang mengandalkan bahan musiman dan teknik memasak yang tidak rumit. Karena tampilannya tidak terlalu mewah, hidangan ini sering dianggap kurang menarik dibanding menu dari restoran populer.

Padahal, obanzai justru mencerminkan kehidupan sehari-hari masyarakat lokal. Jika tidak dicoba, kamu bisa melewatkan sisi Kyoto yang paling dekat dengan budaya aslinya. Mencicipi obanzai adalah cara terbaik untuk merasakan kehangatan dan keaslian masakan rumahan Jepang.


3. Hamo atau belut khas Kyoto

ilustrasi hamo atau belut khas Kyoto
ilustrasi hamo atau belut khas Kyoto (instagram.com/mamaumami)

Tidak sedikit orang yang lebih familiar dengan unagi, sehingga hamo kerap terlewat dari daftar makanan yang ingin dicoba saat berkunjung ke Kyoto. Hamo merupakan jenis belut laut dengan tekstur lembut yang biasanya diolah menjadi berbagai hidangan khas Kyoto. Karena belum terlalu dikenal di luar Jepang, sebagian orang masih ragu untuk mencicipinya. 

Padahal, hamo memiliki nilai kuliner tinggi dan sering dianggap sebagai hidangan musiman yang istimewa. Melewatkannya bisa membuat pengalaman kuliner terasa kurang lengkap. Jika ingin merasakan sesuatu yang benar-benar khas Kyoto, hamo adalah pilihan yang patut dicoba.


4. Shojin ryori

ilustrasi shojin ryori
ilustrasi shojin ryori (commons.wikimedia.org/Mimissu)

Banyak wisatawan terbiasa mencari makanan dengan daging atau seafood, sehingga shojin ryori sering dianggap kurang menarik karena berbasis nabati. Padahal, hidangan ini merupakan bagian dari tradisi Buddhis yang menekankan kesederhanaan dan keseimbangan. Tanpa menggunakan bahan hewani, shojin ryori justru menonjolkan rasa alami dari sayuran dan teknik memasak yang detail. 

Karena kurang familiar, banyak orang melewatkan kesempatan untuk mencoba pengalaman makan yang berbeda ini. Dampaknya, mereka kehilangan perspektif lain tentang filosofi makanan di Kyoto. Dengan mencobanya, kamu tidak hanya menikmati makanan, tapi juga memahami nilai budaya yang mendalam di balik setiap sajian. 


5. Yudofu

ilustrasi yudofu
ilustrasi yudofu (commons.wikimedia.org/Flickr user cobacco(hiro kobashi))

Sekilas, yudofu tampak seperti hidangan tahu rebus yang sederhana, sehingga kerap dipandang kurang menarik untuk dicicipi. Banyak wisatawan cenderung memilih makanan yang terlihat lebih rumit dan kaya bumbu saat berkunjung ke Kyoto. Padahal, yudofu justru mengandalkan kualitas bahan dan kesegaran tahu sebagai daya tarik utamanya. 

Kesederhanaan ini sering disalahartikan sebagai kekurangan, padahal justru menjadi kekuatan utamanya. Jika dilewatkan, kamu bisa kehilangan pengalaman menikmati rasa asli yang bersih dan menenangkan. Mencoba yudofu bisa jadi cara untuk memahami bahwa tidak semua makanan harus rumit untuk terasa istimewa. 


6.Yuba

ilustrasi yuba
ilustrasi yuba (instagram.com/senmaruya_kyoto_yuba)

Tidak sedikit orang yang belum familiar dengan yuba, sehingga ragu untuk mencobanya saat berkunjung ke Kyoto. Yuba adalah lapisan tipis yang terbentuk dari sari kedelai saat dipanaskan, dengan tekstur lembut dan rasa yang halus. Karena tampilannya unik dan tidak biasa, banyak wisatawan menganggapnya aneh atau kurang menggugah selera. 

Sebenarnya, yuba termasuk bahan istimewa yang kerap hadir dalam hidangan tradisional Kyoto. Jika tidak dicoba, kamu bisa melewatkan sensasi kuliner yang unik dan tidak banyak ditemukan di tempat lain. Saat mencicipinya, kamu akan merasakan tekstur lembut dengan cita rasa halus yang meninggalkan kesan mendalam. 


7. Nishin soba

ilustrasi nishin soba
ilustrasi nishin soba (commons.wikimedia.org/Nesnad)

Tidak sedikit wisatawan lebih tertarik pada ramen atau udon yang sudah populer, sehingga nishin soba sering terlewat begitu saja. Padahal, hidangan khas Kyoto ini menawarkan perpaduan unik antara mie soba dan ikan haring yang dimasak dengan rasa manis gurih. Karena kombinasi tersebut terdengar cukup asing, banyak orang ragu dan akhirnya memilih untuk tidak mencobanya sama sekali.

Padahal, perpaduan rasa tersebut justru menciptakan karakter yang khas dan berbeda dari mie Jepang lainnya. Melewatkan nishin soba berarti kehilangan salah satu contoh bagaimana Kyoto mengolah bahan sederhana menjadi hidangan berkelas. Jika ingin pengalaman kuliner yang lebih berani dan berkesan, nishin soba layak masuk daftar coba. 


8. Tsukemono atau acar khas Kyoto

ilustrasi tsukemono
ilustrasi tsukemono (commons.wikimedia.org/Gavin Anderson from Tsukemono shop Uchida Tsukemono in Nishiki Ichiba, Nakagyo, Kyoto)

Tidak sedikit turis yang menganggap acar hanya sebagai pelengkap, sehingga sering mengabaikan tsukemono saat berkunjung ke Kyoto. Padahal, tsukemono adalah bagian penting dari budaya makan Jepang yang memiliki berbagai variasi rasa, mulai dari asam, asin, hingga sedikit manis. Karena dianggap sepele, banyak orang melewatkan kesempatan untuk memahami bagaimana masyarakat lokal menjaga keseimbangan rasa dalam setiap hidangan. 

Dampaknya, pengalaman makan jadi terasa kurang lengkap karena perhatian hanya tertuju pada hidangan utama. Saat kamu mulai mencoba tsukemono, kamu akan menyadari bahwa pelengkap sederhana ini justru berperan penting dalam menyeimbangkan rasa. Dari sini, kamu juga bisa belajar menikmati detail kecil yang menjadi kekuatan utama dalam kuliner tradisional Kyoto. 

Menjelajahi kuliner di Kyoto tidak selalu harus mengikuti daftar populer yang sama dengan kebanyakan turis. Justru dari makanan-makanan sederhana dan tersembunyi, kamu bisa menemukan rasa yang lebih autentik dan pengalaman yang lebih berkesan. Jadi, jangan ragu untuk keluar dari zona nyaman dan mulai mencicipi sisi lain Kyoto yang jarang diketahui banyak orang.


This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team
Inaf Mei
EditorInaf Mei

Related Articles

See More