Pernyataan seorang selebritas yang menyatakan anxiety-nya “sembuh” setelah bertemu dan menjalin hubungan baru, langsung menarik perhatian khalayak. Banyak orang yang kemudian bertanya-tanya, benarkah memiliki pasangan baru bisa menghapus gangguan kecemasan begitu saja? Dalam konteks psikologis dan medis, pernyataan seperti itu perlu dilihat lebih hati-hati agar tidak jadi pola pikir yang menyesatkan. Apalagi, anxiety bukan hanya soal perasaan sesaat, tapi kondisi kesehatan mental yang kompleks dan punya banyak faktor pemicu maupun pemulih.
Meski perubahan suasana hati dalam hubungan bisa memberi efek positif, menganggap hubungan baru sebagai “obat” utama untuk mengatasi anxiety bisa berbahaya dan menyesatkan. Alih-alih menyelesaikan akar masalah, pemikiran yang salah itu justru berisiko menunda penanganan yang sebenarnya dibutuhkan seseorang. Berikut lima penjelasan yang dapat membantu memahami apakah hubungan baru memang bisa menyembuhkan anxiety, atau justru membuatnya makin samar dan tidak tertangani dengan tepat.
