gambar pasien yang menderita penyakit pernapasan (unsplash.com/Alexander Grey)
Semakin kecil ukuran partikel abu vulkanik yang terhirup, semakin berbahaya juga partikel tersebut bagi tubuh. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, partikel abu vulkanik yang berukuran di bawah 4 mikrometer dapat melewati sistem pernapasan bagian atas dan memasuki bagian terdalam paru-paru, termasuk alveolus dan menyebabkan peradangan. Alveolus sendiri merupakan kantung-kantung udara tempat tubuh melakukan pertukaran oksigen dan karbondioksida.
Paparan jangka panjang, abu yang mengandung silika kristalin dapat menyebabkan silikosis. Dilansir Cleveland Clinic, silikosis adalah penyakit paru-paru yang dapat berkembang akibat menghirup debu silika. Gejalanya meliputi batuk berkepanjangan, kesulitan bernapas, peradangan pada saluran pernapasan, dan jaringan parut pada paru-paru secara permanen. Sayangnya silikosis gak bisa disembuhkan, tetapi dengan pengobatan rutin setidaknya dapat membantu mengelola gejalanya.
Sekilas abu vulkanik memang terlihat seperti abu biasa. Padahal jika terhirup dan masuk ke sistem pernapasan, abu vulkanik bisa menyebabkan sejumlah masalah kesehatan. Pada kelompok berisiko seperti penderita asma, anak-anak dan bayi, serta orang dengan kondisi pernapasan atau jantung kronis, dampaknya bisa sangat serius hingga membutuhkan penanganan medis lebih lanjut.
Referensi
“Asma Attack.” Cleveland Clinic. Diakses September 2026.
“Volcanoes: Risk Factors.” Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses September 2026.
“Respiratory Effects of Volcanic Ash.” U.S. Geological Survey (USGS). Diakses September 2026.
“Health Impacts of Volcanic Ash.” International Volcanic Health Hazard Network (IVHHN). Diakses September 2026.
“Volcanic Ash.” American Lung Association. Diakses September 2026.