Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apakah Semua Orang Butuh Tidur 8 Jam? Ini Penjelasannya!
ilustrasi seorang wanita yang sedang tidur (freepik.com/freepik)
  • Kebutuhan tidur tiap orang berbeda karena dipengaruhi usia, aktivitas, kondisi tubuh, dan kualitas istirahat, jadi tidak semua orang harus tidur 8 jam setiap malam.

  • Usia muda cenderung butuh waktu tidur lebih lama untuk mendukung pertumbuhan, sedangkan orang dewasa dan lansia biasanya memerlukan durasi lebih singkat namun tetap berkualitas.

  • Kualitas tidur yang nyenyak lebih penting daripada lamanya durasi; tubuh yang segar dan fokus setelah bangun menandakan kebutuhan istirahat sudah terpenuhi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah merasa tetap mengantuk meski sudah tidur selama 8 jam, sementara orang lain tampak segar hanya setelah enam jam tidur? Hal ini sering membuat banyak orang mempertanyakan apakah durasi tidur yang ideal itu sama untuk semua orang. Sesungguhnya, kebutuhan tidur tidak semudah hanya mengikuti angka yang sering kita dengar.

Sebenarnya, usia, aktivitas harian, kondisi kesehatan, hingga kualitas tidur dapat memengaruhi berapa lama tubuh membutuhkan waktu untuk pulih. Oleh karena itu, kebiasaan tidur 8 jam tidak selalu berlaku untuk setiap orang. Lalu, berapa sebenarnya durasi tidur yang ideal dan apa saja faktor yang membuat kebutuhan tidur berbeda? Simak penjelasan lengkapnya dalam artikel ini.

1. Kebutuhan tidur setiap orang memang berbeda

ilustrasi jam tidur yang teratur (magnific.com/lookstudio)

Kalau kamu selama ini percaya bahwa setiap orang harus tidur selama 8 jam, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar, lho. Setiap tubuh memiliki cara kerja yang berbeda sehingga kebutuhan tidurnya pun beragam. Itu sebabnya ada yang merasa segar setelah tidur tujuh jam, sementara ada pula yang merasa lelah meski tidur lebih lama.

Nah, para ahli lebih menekankan pentingnya kualitas dan kebutuhan tidur masing-masing individu dibanding terpaku pada satu angka tertentu. Selama seseorang bangun dengan perasaan segar, fokus, dan tidak mudah mengantuk sepanjang hari, durasi tidurnya mungkin sudah mencukupi. Jadi, yang terpenting bukan sekadar berapa lama kamu tidur, tetapi apakah tubuhmu mendapatkan istirahat yang diperlukan.

2. Usia menjadi salah satu faktor yang paling berpengaruh

ilustrasi orang tua yang sedang berdiskusi dengan anak (freepik.com/freepik)

Pernah memperhatikan kalau bayi dapat tidur hampir seharian, sementara orang dewasa hanya memerlukan tujuh hingga sembilan jam? Hal ini disebabkan oleh kebutuhan tidur yang berubah seiring pertumbuhan. Semakin muda seseorang, biasanya semakin banyak waktu tidur yang diperlukan.

Ketika anak-anak dan remaja tumbuh, tubuh mereka aktif mendukung perkembangan otak dan fisik. Sebaliknya, orang yang lebih tua sering kali memerlukan waktu tidur yang lebih sedikit, meski kualitas tidurnya bisa lebih mudah terganggu. Oleh karena itu, durasi tidur yang ideal tidak dapat disamakan untuk semua kelompok usia.

3. Aktivitas harian juga menentukan durasi tidur

ilustrasi olahraga di luar ruangan (magnific.com/lifestylememory)

Bayangkan dua orang seumuran, tetapi dengan aktivitas harian yang sangat berbeda. Satu orang menghabiskan waktu di depan layar komputer, sementara yang lain rutin berolahraga atau terlibat dalam pekerjaan fisik yang berat. Meskipun usianya sama, kebutuhan istirahat mereka belum tentu serupa, lho.

Orang yang mengeluarkan energi lebih banyak umumnya membutuhkan waktu pemulihan yang lebih lama. Sama halnya ketika kamu menjalani banyak belajar, lembur, atau mengalami tekanan kerja yang tinggi. Jadi, tidur berfungsi sebagai waktu penting bagi tubuh untuk memperbaiki diri dan mengisi kembali energi yang hilang.

4. Kualitas tidur sering kali lebih penting daripada durasinya

ilustrasi tidur (magnific.com/jcomp)

Tidur sembilan jam memang terlihat ideal, tetapi belum tentu membuat tubuh benar-benar segar. Klalau sepanjang malam kamu sering terbangun atau sulit masuk ke fase tidur yang nyenyak, tubuh bisa tetap merasa lelah keesokan harinya. Singkatnya, durasi panjang bukan satu-satunya faktor penentu kualitas istirahat.

Sebaliknya, ada orang yang tidur sekitar tujuh jam, tetapi nyenyak tanpa banyak gangguan sehingga bangun dalam keadaan lebih bertenaga. Inilah sebabnya mengapa mempertahankan rutinitas tidur dan menciptakan lingkungan yang nyaman sangatlah penting. Tidur yang berkualitas dapat membantu tubuh dan otak bekerja lebih baik selama beraktivitas.

5. Dengarkan sinyal tubuh, bukan hanya angka di jam

ilustrasi adaptasi tubuh (freepik.com/tirachardz)

Kita terkadang terlalu terfokus pada target tidur 8 jam hingga melupakan untuk memperhatikan tanda-tanda yang diberikan tubuh. Padahal, tubuh sudah mengeluarkan banyak sinyal apakah waktu istirahatnya cukup. Misalnya, ketika kamu dapat berkonsentrasi dengan baik, suasana hati tetap stabil, dan tidak terlalu mengantuk di siang hari.

Nah, kalau kamu masih sering merasa lelah meski tidur cukup lama, kemungkinan ada faktor lain yang memengaruhinya, seperti kualitas tidur atau kondisi kesehatan tertentu. Sebaliknya, jika bangun dalam keadaan segar dengan durasi yang sedikit lebih pendek, bukan berarti tubuhmu bermasalah. Jadi, durasi tidur ideal bukan soal menyamai orang lain, melainkan memahami kebutuhan tubuhmu sendiri.

Jadi, tidak semua orang membutuhkan waktu tidur yang sama karena usia, aktivitas, kondisi tubuh, dan kualitas tidur ikut memengaruhi kebutuhan istirahat masing-masing. Daripada terpaku pada angka 8 jam, akan lebih baik jika kamu mulai mengenali sinyal tubuh dan memastikan tidur yang didapat benar-benar berkualitas. Nah, mulai malam ini, coba dengarkan kebutuhan tubuhmu sendiri, ya!

Referensi

"Recommended Amount of Sleep for a Healthy Adult: A Joint Consensus Statement of the American Academy of Sleep Medicine and Sleep Research Society." Journal of Clinical Sleep Medicine. Diakses Juli 2026.

"Sleep is Essential to Health: An American Academy of Sleep Medicine Position Statement." Journal of Clinical Sleep Medicine. Diakses Juli 2026.

“Tinjauan Literatur: Dampak Durasi dan Kualitas Tidur yang Buruk Pada Kesehatan Tubuh Usia Produktif.” Jurnal Kesehatan Poltekkes Kemenkes RI Pangkalpinang. Diakses Juli 2026.

“Kejadian Excessive Daytime Sleepiness (EDS) dan Kualitas Tidur pada Mahasiswa Kesehatan.” Jurnal Keperawatan Indonesia. Diakses Juli 2026.

“Profil dan Probabilitas Kejadian Gangguan Durasi Tidur-Persepsi Kualitas Tidur Mahasiswa Kedokteran: Studi Formatif.” Jurnal Pranata Biomedika. Diakses Juli 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article