- Healing119.id dari Kementerian Kesehatan: hubungi 119 ekstensi 8 untuk dukungan krisis atau akses layanan percakapan melalui Healing119.id.
- Untuk informasi umum mengenai layanan kesehatan, hubungi Halo Kemenkes 1500-567 atau WhatsApp 0811-10-500-567.
Bukan Baby Blues, Ini 7 Gejala Psikosis Postpartum

Psikosis postpartum biasanya muncul mendadak, paling sering dalam dua minggu pertama setelah persalinan.
Tanda awalnya dapat berupa tidak tidur, perubahan suasana hati ekstrem, kebingungan, serta perilaku yang terasa sangat berbeda.
Delusi, halusinasi, atau dorongan menyakiti diri sendiri maupun bayi harus diperlakukan sebagai kegawatdaruratan medis.
Nama Lindsay Clancy kembali menjadi perhatian setelah persidangannya berakhir tanpa putusan pada 4 September 2026. Perempuan asal Massachusetts, Amerika Serikat (AS), itu membunuh ketiga anaknya dan kemudian mencoba mengakhiri hidupnya pada Januari 2023.
Pihak pembela menyatakan bahwa Clancy mengalami psikosis postpartum, sedangkan jaksa berpendapat ia memahami tindakannya. Karena perkara tersebut belum menghasilkan putusan akhir, diagnosis dan tanggung jawab hukumnya tidak boleh disimpulkan hanya berdasarkan pemberitaan.
Di luar perdebatan hukum itu, kasus tersebut menyoroti satu kondisi yang memang nyata, serius, tetapi dapat diobati. Psikosis postpartum bukan cuma kelelahan, baby blues, atau kesulitan menyesuaikan diri setelah melahirkan. Kondisi ini membuat seseorang kehilangan kemampuan menilai kenyataan dan memerlukan pertolongan medis segera.
Table of Content
1. Tidak bisa tidur walaupun ada kesempatan
Tidur yang terputus-putus lazim dialami orang tua yang baru memiliki bayi. Namun, tanda psikosis postpartum bisa berbeda, seperti ibu hampir tidak tidur sama sekali, tidak merasa membutuhkan tidur, atau tetap sangat aktif meskipun sudah terjaga sepanjang malam.
Insomnia sering menjadi salah satu tanda paling awal, terutama jika disertai kegelisahan, kecemasan, mudah tersinggung, atau perubahan perilaku.
Gejala kemudian dapat memburuk dengan cepat dalam hitungan jam atau hari.
2. Suasana hati berubah secara ekstrem
Ibu mungkin tampak sangat bersemangat, banyak berbicara, berpikir sangat cepat, atau memiliki energi yang tidak biasa. Ia juga bisa menjadi impulsif dan sulit mengendalikan perilaku.
Pada waktu lain, suasana hatinya dapat berubah menjadi sangat murung, ketakutan, menarik diri, atau terus menangis. Fase sangat bersemangat dan sangat tertekan bahkan bisa berganti dengan cepat.
3. Kebingungan dan perilaku tidak teratur

ilustrasi seorang ibu menunjukkan tanda-tanda depresi (pexels.com/Liza Summer) Orang terdekat mungkin menyadari bahwa ibu tampak linglung, sulit mengikuti percakapan, tidak mengenali waktu atau tempat, atau melakukan sesuatu yang tidak masuk akal. Ucapannya dapat meloncat-loncat sehingga sulit dipahami.
Gejalanya juga bisa naik turun. Seseorang mungkin tampak cukup tenang pada satu waktu, lalu kembali kebingungan atau bertindak tidak terduga beberapa jam kemudian. Karena itu, perbaikan singkat tidak selalu berarti kondisinya sudah aman.
4. Muncul keyakinan yang tidak sesuai kenyataan
Delusi adalah keyakinan kuat yang tidak sesuai dengan kenyataan, tetapi terasa sepenuhnya benar bagi orang yang mengalaminya.
Contohnya, ibu yakin ada orang yang hendak mencelakainya, bayi telah ditukar, bayi memiliki kekuatan tertentu, atau dirinya menerima suatu misi khusus.
Keyakinan tersebut sering berkaitan dengan bayi. Karena kemampuan menilai kenyataan terganggu, ibu mungkin tidak menyadari bahwa dirinya sedang sakit.
5. Mendengar atau melihat sesuatu yang tidak ada
Halusinasi dapat membuat seseorang mendengar suara, melihat sosok, mencium bau, atau merasakan sesuatu yang tidak dialami orang lain. Suara tersebut terkadang memberi komentar atau perintah tertentu.
Halusinasi yang menyuruh ibu menyakiti diri sendiri atau bayi merupakan tanda bahaya yang membutuhkan penanganan darurat.
6. Menjadi sangat curiga, takut, atau gelisah

ilustrasi seorang perempuan tampak gelisah (pexels.com/Gustavo Fring) Ibu dapat merasa dirinya diawasi, dikejar, atau tidak aman tanpa alasan yang jelas. Ia mungkin tidak memercayai pasangan dan keluarga, menolak makan atau minum karena takut diracuni, atau berusaha membawa bayi pergi untuk “menyelamatkannya”.
Keluarga atau orang terdekat sebaiknya tidak berdebat panjang untuk membuktikan bahwa keyakinan itu keliru. Gunakan kalimat singkat dan tenang, dampingi ibu, lalu cari pertolongan medis.
7. Ada keinginan menyakiti diri sendiri atau bayi
Ucapan mengenai kematian, rencana bunuh diri, keinginan menyakiti bayi, suara yang memberikan perintah, atau tindakan yang membahayakan harus selalu ditanggapi serius. Psikosis postpartum adalah kegawatdaruratan karena kondisi mental dapat berubah cepat dan membahayakan ibu maupun bayi.
Namun, pikiran yang tidak diinginkan tentang sesuatu yang buruk menimpa bayi tidak otomatis berarti psikosis atau niat melakukan kekerasan.
Pada gangguan obsesif-kompulsif perinatal, pikiran tersebut biasanya terasa menakutkan, bertentangan dengan keinginan ibu, dan disadari sebagai pikiran yang tidak masuk akal. Sebaliknya, dalam psikosis, keyakinan atau suara dapat terasa nyata dan benar. Penilaian tenaga kesehatan diperlukan untuk membedakannya.
Apa yang harus dilakukan orang terdekat?
Jangan meninggalkan ibu sendirian bersama bayi apabila psikosis postpartum dicurigai. Minta orang dewasa tepercaya menjaga bayi, jauhkan benda yang dapat digunakan untuk melukai diri, dan bawa ibu ke instalasi gawat darurat pada hari yang sama. Jika terdapat ancaman keselamatan langsung, hubungi layanan darurat medis 119.
Psikosis postpartum sering bermula pada hari ke-3 hingga ke-10 setelah melahirkan dan umumnya muncul dalam dua minggu pertama, walaupun kasus yang lebih lambat dapat terjadi.
Riwayat gangguan bipolar atau psikosis postpartum sebelumnya meningkatkan risiko, tetapi kondisi ini juga dapat muncul pada orang yang tidak pernah memiliki masalah kesehatan mental.
Perawatan biasanya dilakukan di rumah sakit dan dapat mencakup obat antipsikotik, penstabil suasana hati, serta terapi lain sesuai kondisi pasien. Dengan deteksi cepat dan penanganan yang tepat, sebagian besar pasien dapat pulih.
Jika kamu atau orang terdekat mengalami gejala gangguan mental—seperti kesedihan berkepanjangan, kecemasan berat, kehilangan harapan, atau pikiran untuk menyakiti diri sendiri—jangan menyepelekannya.
Mencari bantuan bukanlah tanda kelemahan. Kamu dapat mulai dengan berbicara kepada orang yang dipercaya serta berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang sesuai.
Jika kamu sedang berada dalam krisis atau memiliki pikiran untuk bunuh diri, segera cari bantuan. Kamu tidak harus menghadapinya sendirian.
Layanan bantuan di Indonesia:
Jika terdapat risiko langsung menyakiti diri sendiri atau orang lain, jangan meninggalkan orang tersebut sendirian. Hubungi PSC 119 atau segera datang ke IGD rumah sakit terdekat.
Referensi
Chaitra Jairaj et al., “Postpartum Psychosis: A Proposed Treatment Algorithm,” Journal of Psychopharmacology 37, no. 10 (2023), https://doi.org/10.1177/02698811231181573.
National Health Service, “Postpartum Psychosis,” diakses September 2026.
American College of Obstetricians and Gynecologists, “Treatment and Management of Mental Health Conditions during Pregnancy and Postpartum: ACOG Clinical Practice Guideline No. 5,” Obstetrics & Gynecology 141, no. 6 (2023).
Neha Hudepohl, Joanna V. MacLean, and Lauren M. Osborne, “Perinatal Obsessive–Compulsive Disorder: Epidemiology, Phenomenology, Etiology, and Treatment,” Current Psychiatry Reports 24, no. 4 (2022): 229–37, https://doi.org/10.1007/s11920-022-01333-4.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, “Akses Darurat Medis 119 Kini Bisa Melalui SATUSEHAT Mobile,” diakses September 2026.







![[QUIZ] Dari Mesin Gym Favoritmu, Kami Bisa Tebak Karaktermu](https://image.idntimes.com/post/20260804/mwuep2hrca5w9qlbdxkci8rch_0a3c7963-22c0-42a8-afa2-de6c989c3307.png)


![[QUIZ] Bisakah Kamu Menebak Mana Makanan yang Mengandung 300 Kalori?](https://image.idntimes.com/post/20260718/upload_81eef7479c8aeb23b53726edf15fecd4_1085b833-0382-4947-ba19-8d7bad3edfd5.png)









