ilustrasi seorang perempuan yang sedang bersedih (pexels.com/Liza Summer)
Bantuan profesional sebaiknya dipertimbangkan apabila kecemasan, kesedihan, atau gejala trauma terasa sulit ditangani—terutama jika berlangsung lebih dari sekitar dua minggu dan mengganggu tidur, konsentrasi, aktivitas sehari-hari, pekerjaan, hubungan dengan orang lain, atau kemampuan merawat diri.
Juga, cari bantuan jika muncul rasa putus asa, mati rasa berkepanjangan, mimpi buruk atau flashback, maupun pikiran untuk menyakiti diri.
Pembicaraan dapat dimulai saat kontrol dengan dokter kandungan atau dokter umum. Jika diperlukan, pasien dapat dirujuk ke psikolog atau psikiater.
Dukungan keluarga, pasangan, maupun kelompok pendamping kehilangan kehamilan juga dapat membantu sebagian orang, meskipun studi menekankan bahwa bukti mengenai efektivitas spesifik intervensi peer support setelah keguguran masih perlu diteliti lebih lanjut.
Apabila muncul pikiran untuk mengakhiri hidup atau menyakiti diri, kondisi tersebut butuh pertolongan segera.
Jika kamu atau orang terdekat mengalami gejala gangguan mental—seperti perasaan sedih berkepanjangan, cemas berlebihan, kehilangan harapan, atau muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri—penting untuk tidak menyepelekannya.
Mencari bantuan adalah langkah berani. Kamu bisa mulai dengan berbicara kepada orang yang dipercaya, serta berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater agar mendapatkan penanganan yang tepat.
Jika kamu sedang berada dalam kondisi krisis atau memiliki pikiran untuk bunuh diri, segera cari bantuan. Kamu tidak sendirian, dan bantuan tersedia.
Layanan bantuan di Indonesia:
Sejiwa 119 (tekan 8) – layanan dukungan kesehatan mental dari Kementerian Kesehatan.
Sehat Jiwa 119 (telepon darurat kesehatan mental).
Healing119.id – layanan konseling dan informasi kesehatan mental: https://healing119.id
Hotline Kementerian Kesehatan RI: 1500-454
Jika situasi terasa darurat atau mengancam keselamatan, segera hubungi layanan gawat darurat atau datang ke fasilitas kesehatan terdekat.
Referensi
Asha Shetty et al., “Global Prevalence of Post-Miscarriage Anxiety, Depression, and Stress: A Systematic Review and Meta-Analysis,” Journal of Global Health 15 (2025): 04245, https://doi.org/10.7189/jogh.15.04245. PubMed
Jessica Farren et al., “Prognostic Factors for Post-Traumatic Stress, Anxiety and Depression in Women after Early Pregnancy Loss: A Multi-Centre Prospective Cohort Study,” BMJ Open 12, no. 3 (2022): e054490, https://doi.org/10.1136/bmjopen-2021-054490. BMJ Open
Mairead M. Herbert et al., “The Mental Health Impact of Perinatal Loss: A Systematic Review and Meta-Analysis,” Journal of Affective Disorders 297 (2022): 118–29. ScienceDirect
Jessica Farren et al., “Posttraumatic Stress, Anxiety and Depression Following Miscarriage and Ectopic Pregnancy: A Multicenter, Prospective, Cohort Study,” American Journal of Obstetrics and Gynecology 222, no. 4 (2020): 367.e1–367.e22, https://doi.org/10.1016/j.ajog.2019.10.102. Artikel penelitian
Xiangjun Gong et al., “Pregnancy Loss and Anxiety and Depression during Subsequent Pregnancies: Data from the C-ABC Study,” European Journal of Obstetrics & Gynecology and Reproductive Biology 166, no. 1 (2013): 30–36, https://doi.org/10.1016/j.ejogrb.2012.09.024. PubMed
Leanne Burton et al., “Effectiveness of Peer Support Interventions to Improve Mental Health Outcomes after Miscarriage: A Systematic Review and Call for High-Quality Evidence,” BMJ Open (2026), https://doi.org/10.1136/bmjopen-2025-109556. PubMed
American College of Obstetricians and Gynecologists, “Finding Emotional Support after Pregnancy Loss,” diakses Agustus 2026.