Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Di Zona Detak Jantung Berapa Idealnya untuk Long Run?
ilustrasi long run (pexels.com/Hugo Polo)
  • Latihan long run idealnya dilakukan di zona 2, sekitar 60–70% detak jantung maksimal, untuk membangun fondasi endurance dan efisiensi tubuh dalam menggunakan energi.
  • Pelari disarankan menjaga sebagian besar latihan pada intensitas rendah agar tubuh bisa pulih, beradaptasi, serta mengurangi risiko cedera akibat stres fisiologis berlebih.
  • Distribusi intensitas penting: zona rendah membangun daya tahan jangka panjang, sementara sesi intensitas tinggi tetap dibutuhkan untuk meningkatkan kecepatan dan performa spesifik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Banyak pelari mengira latihan yang efektif berarti harus selalu terasa berat. Makin ngos-ngosan makin bagus hasilnya, dan makin tinggi detak jantung makin serius latihannya. Padahal dalam lari jarak jauh, kenyataannya justru sering kebalikannya.

Banyak pelari endurance, termasuk atlet elite maraton dan ultramaraton, menghabiskan sebagian besar waktu latihannya di intensitas yang relatif ringan. Pace-nya tidak selalu cepat dan napas masih cukup terkontrol. Namun, di balik latihan ini, tubuh membangun fondasi endurance yang sangat penting.

1. Apa itu zona detak jantung?

Zona detak jantung adalah pembagian intensitas latihan berdasarkan persentase denyut jantung maksimal atau maximum heart rate (HR max).

Secara umum, zona detak jantung dibagi menjadi lima tingkat:

  • Zona 1: sangat ringan.

  • Zona 2: ringan.

  • Zona 3: sedang.

  • Zona 4: berat.

  • Zona 5: sangat berat atau maksimal.

Makin tinggi zonanya, makin besar tekanan pada tubuh.

Zona ini membantu pelari memahami seberapa keras tubuh bekerja, jenis sistem energi yang dominan dipakai, dan adaptasi fisiologis apa yang sedang dibangun.

2. Long run biasanya dilakukan di zona 2

Untuk sebagian besar pelari, long run dan latihan endurance dasar umumnya dilakukan di zona 2. Zona ini biasanya berada di sekitar 60–70 persen denyut jantung maksimal, meski angka pastinya bisa berbeda tergantung metode pengukuran.

Di zona 2 biasanya:

  • Napas masih relatif stabil.

  • Tubuh masih bisa berbicara dalam kalimat pendek.

  • Energi utama lebih banyak berasal dari sistem aerobik.

Inilah zona yang membantu tubuh:

  • Meningkatkan kapasitas endurance.

  • Memperkuat efisiensi jantung.

  • Menambah jumlah mitokondria.

  • Meningkatkan kemampuan tubuh menggunakan lemak sebagai bahan bakar.

Menurut penelitian, latihan aerobik intensitas rendah hingga sedang berperan penting dalam meningkatkan fungsi metabolik dan kapasitas endurance jangka panjang.

3. Kenapa tidak semua long run dilakukan kencang?

ilustrasi long run bersama teman (unsplash.com/Fitsum Admasu)

Tubuh tidak bisa terus-menerus berada di intensitas tinggi tanpa konsekuensi. Jika setiap lari dilakukan terlalu keras, yang bisa terjadi antara lain:

  • Tubuh lebih sulit pulih.

  • Risiko cedera meningkat.

  • Stres fisiologis bertambah.

  • Performa justru bisa stagnan.

Karena itu banyak pelatih endurance menggunakan prinsip “easy days easy”, yang artinya sebagian besar latihan memang sengaja dibuat cukup ringan agar tubuh mampu beradaptasi, pulih, dan tetap konsisten dalam jangka panjang.

Penelitian menunjukkan atlet endurance elite sering menjalani sekitar 70–80 persen volume latihan mereka pada intensitas rendah.

4. Zona 2 bukan berarti tidak berkembang

Salah satu alasan banyak pelari sulit bertahan di zona 2 adalah ego atau tidak bisa melawan rasa bosan. Pace terasa terlalu lambat. Kadang harus memperlambat langkah, bahkan berjalan sebentar di tanjakan agar detak jantung tidak melonjak. Padahal latihan ini penting untuk membangun fondasi aerobik, karena dari sini tubuh belajar menghemat energi, menggunakan oksigen lebih efisien, dan bekerja lebih lama lebih tahan lelah.

Seiring waktu, banyak pelari mulai melihat perubahan:

  • Pace di heart rate rendah makin cepat.

  • Recovery lebih baik.

  • Long run terasa lebih ringan.

5. Apakah harus selalu zona 2?

Tidak selalu.

Lari jarak jauh memang banyak dilakukan di zona 2, tetapi program latihan yang baik biasanya tetap mencakup variasi intensitas.

Zona lebih tinggi seperti 3, 4, atau atau interval intensitas tinggi, dibutuhkan untuk meningkatkan kecepatan, ambang laktat, dan kapasitas performa tertentu. Namun, jika semua latihan terlalu keras, tubuh sulit pulih optimal. Jadi, distribusi intensitas menjadi penting.

6. Detak jantung bisa naik meski pace sama

ilustrasi cek heart rate di smartwatch saat sedang lari (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Salah satu hal yang sering membingungkan pelari adalah pace yang sama namun heart rate lebih tinggi. Detak jantung dipengaruhi banyak faktor, termasuk:

  • Cuaca panas.

  • Kelembapan.

  • Kurang tidur.

  • Stres.

  • Dehidrasi.

  • Kafein.

  • Kelelahan.

  • Kondisi hormonal.

Fenomena ini disebut cardiac drift, yaitu ketika detak jantung perlahan naik meski intensitas lari relatif sama, terutama saat lari lama atau cuaca panas. Karena itu heart rate perlu dibaca sebagai panduan, bukan angka yang harus sempurna setiap hari.

7. Zona ideal bisa berbeda-beda pada setiap orang

Dua orang dengan pace sama belum tentu memiliki heart rate yang sama. Faktor seperti usia, genetik, ukuran jantung, tingkat kebugaran, dan pengalaman latihan memengaruhi respons tubuh terhadap lari.

Bahkan, rumus populer seperti 220 dikurangi usia punya keterbatasan dan tidak selalu akurat untuk semua orang.

Jadi, pendekatan paling realistis biasanya menggabungkan detak jantung, rasa effort, pace, dan kemampuan berbicara saat lari.

8. Kapan long run terlalu keras?

Long run mungkin terlalu keras jika napas kamu terengah-engah, sulit berbicara, kaki terasa berat sejak awal, pemulihan memakan waktu terlalu lama, atau tubuh terasa “hancur” setelah latihan rutin biasa.

Long run ideal seharusnya terasa menantang tetapi tetap terkontrol. Tujuannya adalah membangun kapasitas tubuh secara bertahap.

Media sosial sering menampilkan latihan keras sebagai sesuatu yang keren. Padahal, endurance dibangun lewat latihan yang konsisten, stabil, dan terukur, bukan hanya lewat sesi berat sesekali.

Zona detak jantung rendah bukan tanda malas atau kurang serius. Bagi banyak pelari jarak jauh, lari di zona detak jantung rendah adalah fondasi untuk membangun daya tahan.

Mengapa penting? Tubuh belajar bekerja lebih efisien, menghemat energi, dan menunda kelelahan saat latihan dilakukan pada intensitas rendah secara konsisten. Dalam olahraga endurance, kemampuan bertahan secara stabil sering kali lebih menentukan hasil daripada kemampuan berlari sangat keras sesekali.

Rekomendasi umumnya, gabungkan latihan zona rendah sebagai dasar, lalu tambahkan sesi terukur berintensitas lebih tinggi untuk meningkatkan kecepatan dan kekuatan.

Referensi

Seiler, Stephen, and Espen Tønnessen. “Intervals, Thresholds, and Long Slow Distance: the Role of Intensity and Duration in Endurance Training.” Sportscience 13 (2009): 32–53.

Midgley, A. W., & Mc Naughton, L. R. (2006). "Time at or near VO2max during continuous and intermittent running. A review with special reference to considerations for the optimisation of training protocols to elicit the longest time at or near VO2max." The Journal of sports medicine and physical fitness, 46(1), 1–14.

Michael J. Joyner and Edward F. Coyle, “Endurance Exercise Performance: The Physiology of Champions,” The Journal of Physiology 586, no. 1 (September 28, 2007): 35–44, https://doi.org/10.1113/jphysiol.2007.143834.

David R. Bassett, “Limiting Factors for Maximum Oxygen Uptake and Determinants of Endurance Performance,” Medicine & Science in Sports & Exercise 32, no. 1 (January 1, 2000): 70, https://doi.org/10.1097/00005768-200001000-00012.

American College of Sports Medicine. “Target Heart Rate and Exercise Intensity.” Diakses Mei 2026.

L. V??Ronique Billat, “Interval Training for Performance: A Scientific and Empirical Practice,” Sports Medicine 31, no. 1 (January 1, 2001): 13–31, https://doi.org/10.2165/00007256-200131010-00002.

Editorial Team