Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Fakta Interval Training yang Efektif Bagi Stamina Atlet, Latih!
ilustrasi latihan interval (pexels.com/Jari Lobo)
  • Interval training menggabungkan kerja berintensitas tinggi dan pemulihan, melatih atlet beradaptasi terhadap perubahan kebutuhan energi seperti pola gerak dalam pertandingan.
  • Latihan ini dapat memberi stimulus kardiorespirasi dan membantu meningkatkan kapasitas aerobik, termasuk kemampuan menggunakan oksigen, bila program disesuaikan dengan kondisi serta pengalaman atlet.
  • Efektivitas interval bergantung pada keseimbangan intensitas, durasi, volume, frekuensi, dan pemulihan; pola latihan perlu spesifik cabang olahraga, bertahap, serta menjaga teknik dan kesiapan tubuh.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah merasa latihan lari dengan kecepatan yang sama dari awal sampai akhir justru membuat tubuh cepat bosan? Kalau kamu seorang atlet, mungkin kamu sudah tahu bahwa meningkatkan stamina gak selalu berarti harus berlari lebih jauh atau berlatih lebih lama. Ada jenis latihan yang justru mengajak tubuh bekerja dalam beberapa tingkat intensitas secara bergantian, yaitu interval training.

Polanya sederhana, kamu melakukan aktivitas dalam intensitas tertentu, lalu memberikan jeda pemulihan sebelum kembali bekerja. Meski terlihat sederhana, metode ini bisa menjadi bagian penting dalam program latihan untuk membantu atlet meningkatkan kemampuan fisik secara lebih terarah. Ada prinsip, intensitas, durasi, dan waktu pemulihan yang perlu disesuaikan agar manfaatnya bisa diperoleh secara optimal.

1. Interval training melatih tubuh bekerja dalam perubahan intensitas

Salah satu hal menarik dari interval training adalah pola kerjanya yang bergantian antara periode intensitas tinggi dan periode pemulihan. Misalnya, kamu bisa melakukan lari cepat selama 30 detik lalu berjalan atau jogging ringan selama 60 detik sebelum mengulanginya. Pola seperti ini membuat tubuh harus beradaptasi ketika kebutuhan energi berubah secara cepat. Atlet kemudian belajar mempertahankan kualitas gerakan meskipun tubuh mulai merasakan kelelahan. Kemampuan beradaptasi tersebut menjadi penting karena pertandingan olahraga jarang berlangsung dalam satu kecepatan yang sama sepanjang waktu.

Bayangkan seorang pemain sepak bola yang harus berjalan, jogging, tiba-tiba sprint mengejar bola, lalu kembali bergerak dengan intensitas lebih rendah. Tubuhnya perlu siap melakukan perubahan tersebut berkali-kali selama pertandingan. Interval training dapat memberikan simulasi terhadap pola kerja semacam itu, meskipun bentuk latihan tetap perlu disesuaikan dengan cabang olahraga masing-masing. Kamu bisa mengatur durasi kerja, intensitas, dan waktu istirahat berdasarkan tujuan latihan. Jadi, bukan sekadar membuat tubuh lelah, interval training seharusnya membantu tubuh menjadi lebih siap menghadapi perubahan tuntutan fisik.

2. Interval training dapat membantu meningkatkan kapasitas aerobik

Stamina atlet sangat berkaitan dengan kemampuan tubuh menggunakan oksigen saat melakukan aktivitas fisik. Salah satu indikator yang banyak digunakan untuk menggambarkan kemampuan tersebut adalah VO₂ max, yaitu kapasitas maksimal tubuh dalam menggunakan oksigen selama aktivitas intens.

Interval training tertentu dapat memberikan stimulus yang kuat terhadap sistem kardiorespirasi karena tubuh berulang kali bekerja pada intensitas tinggi. Ketika dilakukan secara terprogram, latihan ini dapat membantu meningkatkan kemampuan tubuh mempertahankan aktivitas fisik dalam waktu lebih lama. Namun, respons setiap atlet tetap dapat berbeda tergantung kondisi fisik, pengalaman latihan, dan program yang dijalankan.

Menariknya, latihan interval gak harus selalu dilakukan dalam waktu yang sangat panjang untuk memberikan stimulus yang berarti. Beberapa sesi dapat berlangsung relatif singkat, tetapi memiliki periode kerja yang cukup intens. Kuncinya bukan mengejar rasa lelah sebanyak mungkin, melainkan memberikan beban latihan yang sesuai dengan tujuan. Atlet pemula tentu membutuhkan pendekatan berbeda dibandingkan atlet yang sudah terbiasa melakukan latihan berintensitas tinggi. Karena itu, peningkatan durasi atau intensitas sebaiknya dilakukan secara bertahap agar tubuh punya kesempatan beradaptasi.

3. Waktu pemulihan sama pentingnya dengan waktu kerja

Banyak orang menganggap bagian paling penting dari interval training adalah saat tubuh bekerja keras. Padahal, periode pemulihan juga punya peran besar dalam menentukan kualitas latihan. Jeda tersebut memberikan kesempatan bagi tubuh untuk menurunkan intensitas sebelum memasuki interval berikutnya. Kalau waktu pemulihan terlalu singkat, kamu mungkin belum siap melakukan interval berikutnya secara optimal. Sebaliknya, kalau jedanya terlalu panjang, stimulus latihan yang ingin diberikan bisa menjadi berbeda dari tujuan awal.

Karena itu, pelatih biasanya perlu mempertimbangkan hubungan antara work interval dan recovery interval. Misalnya, latihan bisa menggunakan pola 30 detik kerja dan 30 detik pemulihan, tetapi pola tersebut bukan aturan yang berlaku untuk semua atlet. Pelari jarak tertentu, pemain bola, atau atlet bela diri bisa membutuhkan rasio kerja dan pemulihan yang berbeda. Bahkan, bentuk pemulihannya bisa berupa istirahat total atau aktivitas ringan seperti berjalan dan jogging. Semakin jelas tujuan latihannya, semakin mudah menentukan pola interval yang sesuai.

4. Interval training bisa dibuat spesifik sesuai kebutuhan cabang olahraga

Salah satu keunggulan interval training adalah fleksibilitasnya. Kamu bisa menggunakannya untuk berlari, bersepeda, berenang, mendayung, atau berbagai aktivitas lain yang sesuai dengan kebutuhan atlet. Durasi interval, jumlah pengulangan, intensitas, dan waktu pemulihan dapat diubah sesuai karakteristik olahraga. Pemain basket, misalnya, membutuhkan kombinasi sprint pendek, perubahan arah, dan pemulihan singkat. Sementara itu, pelari jarak menengah mungkin lebih membutuhkan interval yang membantu mempertahankan kecepatan dalam durasi tertentu.

Latihan yang spesifik akan membuat stimulus yang diberikan lebih relevan terhadap kebutuhan pertandingan. Atlet gak hanya berlatih agar mampu bergerak lebih cepat, tetapi juga belajar mengulang performa tersebut ketika tubuh mulai lelah. Kamu bisa memasukkan gerakan yang memang digunakan dalam olahraga agar latihan terasa lebih fungsional. Meski begitu, peningkatan intensitas tetap perlu mempertimbangkan teknik dan kemampuan fisik atlet. Kecepatan yang tinggi tanpa kontrol gerakan justru dapat meningkatkan risiko kesalahan teknik dan cedera.

5. Interval training bukan berarti semakin keras semakin baik

Ada satu kesalahpahaman yang cukup umum tentang interval training, yaitu menganggap latihan akan semakin efektif kalau dilakukan sekeras mungkin. Padahal, kualitas program justru ditentukan oleh bagaimana intensitas, volume, frekuensi, dan pemulihan diatur secara seimbang. Atlet yang terus memaksakan tubuh tanpa pemulihan yang cukup bisa mengalami penurunan performa. Tubuh membutuhkan waktu untuk beradaptasi terhadap beban latihan yang diberikan. Jadi, rasa lelah bukan satu-satunya indikator bahwa latihan tersebut berhasil.

Kamu juga perlu memperhatikan kondisi tubuh sebelum menentukan intensitas latihan. Kualitas tidur, latihan sebelumnya, kondisi fisik, usia latihan, serta jadwal pertandingan dapat memengaruhi kesiapan tubuh. Program interval yang bagus bukan yang membuat atlet selalu merasa 'hancur' setelah latihan, tetapi yang memberikan stimulus sesuai kebutuhan dan masih memungkinkan tubuh melakukan adaptasi. Pemanasan dan pendinginan juga tetap penting untuk menjadi bagian dari sesi latihan. Kalau interval training dirancang secara tepat, latihan ini bisa menjadi salah satu cara menarik untuk meningkatkan stamina sekaligus kemampuan tubuh menghadapi perubahan intensitas. Stamina bukan cuma soal bertahan, tetapi juga mampu mengulang performa.

Setelah melihat lima fakta tersebut, kamu bisa melihat bahwa interval training memiliki konsep yang jauh lebih luas daripada sekadar bergantian antara lari cepat dan istirahat. Latihan ini membantu tubuh menghadapi perubahan intensitas, memberikan stimulus pada sistem kardiorespirasi, serta melatih kemampuan untuk kembali bekerja setelah periode pemulihan. Tubuh gak hanya dituntut mampu bekerja keras sekali, tetapi juga harus siap melakukannya lagi dan lagi. Di sinilah interval training bisa menjadi bagian penting dari strategi peningkatan stamina.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article