Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kapan Waktu Ideal Kembali Olahraga setelah Lebaran?

Kapan Waktu Ideal Kembali Olahraga setelah Lebaran?
ilustrasi berolahraga setelah Lebaran (pexels.com/antoni shkraba)
Intinya Sih
Sisi Positif
  • Tubuh butuh waktu adaptasi setelah perubahan pola makan dan aktivitas selama Lebaran.

  • Memulai olahraga terlalu cepat dan terlalu intens berisiko cedera dan kelelahan.

  • Pendekatan bertahap dan konsisten lebih efektif dibanding langsung “gaspol”.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Saat masa liburan, seperti Lebaran, biasanya orang lebih longgar akan aktivitas fisiknya dan lebih banyak makan. Di satu sisi rasanya rileks bisa mengambil jeda dari aktivitas harian dan berkumpul bersama orang-orang tersayang. Namun, di sisi lain periode waktu ini membuat performa fisik tidak lagi sama seperti sebelum libur panjang.

Banyak orang merasa perlu "membayar utang" dengan kembali ke rutinitas dengan olahraga yang intens. Lari lebih jauh, latihan lebih berat, bahkan mencoba mengejar ketertinggalan dalam waktu singkat. Padahal, tubuh tidak bekerja seperti itu.

Transisi kembali ke olahraga seharusnya tidak dilakukan secara mendadak. Ada fase adaptasi agar tubuh bisa kembali optimal tanpa risiko cedera atau kelelahan berlebihan.

Table of Content

1. Idealnya, mulai 1–3 hari setelah Lebaran

1. Idealnya, mulai 1–3 hari setelah Lebaran

Tubuh umumnya membutuhkan waktu singkat untuk menstabilkan kembali metabolisme setelah periode makan berlebih. Jeda singkat sebelum kembali berolahraga dapat membantu tubuh memulihkan keseimbangan energi dan cairan.

Namun, ini bukan berarti harus menunggu terlalu lama. Studi menunjukkan, jeda aktivitas fisik yang terlalu panjang dapat menurunkan kapasitas aerobik dan kekuatan otot dalam waktu relatif cepat.

Artinya, waktu ideal untuk mulai kembali adalah sekitar 1–3 hari setelah Lebaran, dengan catatan tubuh sudah merasa cukup pulih.

2. Mulai dari intensitas ringan hingga sedang

Ilustrasi olahraga intensitas ringan setelah Lebaran.
ilustrasi olahraga intensitas ringan setelah Lebaran (pexels.com/Cliff Booth)

Langsung kembali ke intensitas tinggi justru berisiko. Setelah periode tidak aktif, tubuh mengalami penurunan adaptasi fisiologis, termasuk daya tahan dan kekuatan.

Rekomendasi umum para ahli adalah memulai aktivitas fisik secara bertahap, terutama setelah periode tidak aktif.

Pilihan awal yang aman:

  • Jalan cepat.
  • Joging ringan
  • Bersepeda santai.
  • Latihan beban ringan.

Peningkatan intensitas secara bertahap dapat mengurangi risiko cedera dan meningkatkan kepatuhan olahraga jangka panjang.

3. Dengarkan sinyal tubuh

Tubuh biasanya memberi sinyal jelas ketika belum siap. Rasa cepat lelah, denyut jantung yang lebih tinggi dari biasanya, atau otot terasa lebih kaku adalah tanda bahwa intensitas perlu diturunkan.

Memahami respons tubuh terhadap aktivitas fisik adalah kunci untuk mencegah overtraining dan cedera.

Pendekatan yang lebih bijak adalah menyesuaikan latihan dengan kondisi harian, bukan memaksakan target.

4. Perhatikan asupan dan hidrasi

Ilustrasi makan.
ilustrasi makan (pexels.com/cottonbro studio)

Setelah Lebaran, tubuh sering berada dalam kondisi kelebihan kalori tetapi kekurangan nutrisi seimbang. Ini bisa memengaruhi performa saat olahraga.

Pastikan:

  • Cukup protein untuk pemulihan otot.
  • Karbohidrat kompleks untuk energi.
  • Air yang cukup untuk hidrasi.

Hidrasi dan nutrisi yang tepat sangat memengaruhi performa dan pemulihan olahraga.

5. Jangan "balas dendam" olahraga

Keinginan untuk langsung kembali ke performa sebelum Lebaran sering berujung pada latihan berlebihan. Ini dikenal sebagai pola pikir “all-or-nothing”.

Studi menunjukkan bahwa pola ini justru meningkatkan risiko cedera dan membuat seseorang lebih cepat berhenti berolahraga.

Pendekatan yang lebih efektif adalah konsisten, bertahap, dan realistis.

6. Kembalikan rutinitas, bukan sekadar intensitas

Joging ringan.
ilustrasi joging (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Yang paling penting bukan seberapa berat latihan, tetapi seberapa konsisten kamu melakukannya.

Membangun kembali kebiasaan olahraga, misalnya tiga kali seminggu, lebih berdampak jangka panjang dibanding latihan berat tapi tidak berkelanjutan.

Kembali berolahraga setelah Lebaran melibatkan kesiapan tubuh. Memberi jeda singkat, memulai dari intensitas ringan, dan mendengarkan sinyal tubuh lebih disarankan daripada memaksakan diri. Tubuh bekerja dengan prinsip adaptasi, bukan paksaan. Dengan pendekatan yang bertahap dan konsisten, performa akan kembali, bahkan bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Referensi

American College of Sports Medicine. “Exercise Guidelines.” Diakses Maret 2026.

American Heart Association. “Target Heart Rates.” Diakses Maret 2026.

Tim J Gabbett, “The Training—injury Prevention Paradox: Should Athletes Be Training Smarterandharder?,” British Journal of Sports Medicine 50, no. 5 (January 12, 2016): 273–80, https://doi.org/10.1136/bjsports-2015-095788.

Iñigo Mujika and Sabino Padilla, “Detraining: Loss of Training-Induced Physiological and Performance Adaptations. Part I,” Sports Medicine 30, no. 2 (January 1, 2000): 79–87, https://doi.org/10.2165/00007256-200030020-00002.

D. Travis Thomas, Kelly Anne Erdman, and Louise M. Burke, “Position of the Academy of Nutrition and Dietetics, Dietitians of Canada, and the American College of Sports Medicine: Nutrition and Athletic Performance,” Journal of the Academy of Nutrition and Dietetics 116, no. 3 (February 23, 2016): 501–28, https://doi.org/10.1016/j.jand.2015.12.006.

World Health Organization. “Physical Activity Guidelines.” Diakses Maret 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More