Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
3 Pertolongan Pertama saat Terpapar Asap Karhutla, Jangan Abaikan!
ilustrasi menggunakan masker (pexels.com/Gustavo Fring)
  • Asap karhutla di sejumlah wilayah Kalimantan mengancam kesehatan pernapasan dan jantung, terutama bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit pernapasan atau jantung.
  • Saat asap pekat, segera kurangi paparan: masuk ke ruangan berudara lebih bersih, tutup pintu-jendela, hindari aktivitas berat, pantau kualitas udara, dan ikuti arahan petugas.
  • Jika harus keluar, gunakan respirator N95 atau FFP2 yang rapat dan batasi waktu. Segera cari bantuan medis bila sesak napas, mengi berat, nyeri dada, atau keluhan memburuk.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih berlangsung di sejumlah wilayah Kalimantan hingga saat ini, dengan asap yang ikut mengganggu kualitas udara dan aktivitas masyarakat. Kondisi ini bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga dapat menjadi ancaman bagi kesehatan, terutama ketika masyarakat terus-menerus menghirup udara yang tercemar asap. Partikel dan zat berbahaya dalam asap kebakaran dapat masuk ke saluran pernapasan dan memicu berbagai keluhan, mulai dari mata perih, batuk, hingga sesak napas.

Risiko tersebut dapat semakin besar bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit pernapasan atau jantung. Karena itu, ketika seseorang mulai terpapar asap karhutla, ada beberapa langkah pertolongan pertama yang bisa dilakukan untuk mengurangi paparan dan mencegah kondisi semakin buruk. Lantas, apa saja yang perlu dilakukan ketika tubuh mulai terdampak asap karhutla?

1. Segera jauhkan diri dari asap

ilustrasi memadamkan api karhutla. (pexels.com/RDNE Stock project)

Ketika mulai terpapar asap karhutla, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengurangi paparan dengan segera, bukan menunggu sampai muncul gejala. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan dan mencari tempat dengan udara yang lebih bersih ketika kadar asap tinggi. Jika kondisi memungkinkan, masuklah ke dalam ruangan dan tutup pintu serta jendela agar asap dari luar tidak mudah masuk.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) juga menyarankan masyarakat mengikuti informasi kualitas udara dan arahan petugas setempat, termasuk jika diminta untuk mengungsi. Hindari aktivitas fisik berat di tengah asap karena semakin banyak kita bernapas, semakin banyak pula udara dan partikel polusi yang masuk ke paru-paru. Jika harus keluar rumah, usahakan mempersingkat waktu di luar dan gunakan masker yang pas di wajah untuk membantu mengurangi paparan partikel asap.

2. Gunakan masker yang tepat

ilustrasi masker N95 (pexels.com/CDC)

Jika harus keluar rumah ketika asap karhutla sedang pekat, gunakan masker yang dapat membantu menyaring partikel halus dari asap. WHO menyarankan penggunaan respirator yang terpasang rapat seperti N95 atau FFP2 ketika seseorang perlu berada di luar dalam kondisi banyak asap. Respirator bekerja dengan menyaring partikel kecil seperti PM2.5, yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru ketika terhirup.

Pastikan masker menutup hidung dan mulut dengan rapat karena celah di sekitar wajah dapat membuat partikel asap tetap masuk. Masker biasa yang longgar tidak dirancang untuk memberikan perlindungan yang sama terhadap partikel sangat kecil di udara. Namun, memakai masker bukan berarti aman untuk berlama-lama di tengah asap, sehingga waktu berada di luar tetap perlu dibatasi.

3. Kenali tanda bahaya dan kapan harus ke dokter

ilustrasi sakit (pexels.com/cottonbro studio)

Paparan asap karhutla bisa menimbulkan keluhan seperti batuk, mata dan tenggorokan teriritasi, sakit kepala, mengi, hingga sesak napas. Mengutip dari WHO, orang dengan asma, penyakit paru-paru, atau penyakit jantung dapat mengalami gejala yang lebih berat setelah terpapar asap. Jika setelah menjauh dari asap keluhan justru semakin berat atau tidak membaik, sebaiknya segera mencari pertolongan medis.

Sesak napas, sulit bernapas, mengi yang berat, atau nyeri dada merupakan tanda yang perlu mendapat perhatian serius. WHO juga menjelaskan, orang yang mengalami gejala setelah terpapar asap dianjurkan mendapatkan bantuan medis, terutama jika memiliki penyakit bawaan atau termasuk kelompok rentan. Jangan menunggu sampai kondisi semakin parah untuk mencari pertolongan, karena partikel halus dalam asap dapat masuk jauh ke paru-paru dan bahkan mencapai aliran darah.

Paparan asap karhutla bukan sekadar membuat udara terasa pengap, tetapi juga dapat mengganggu kesehatan, terutama pernapasan dan jantung. Karena itu, mengurangi paparan sejak awal, menggunakan perlindungan yang tepat, dan mengenali tanda bahaya penting dilakukan untuk menjaga tubuh tetap aman. Jadi, jika muncul gejala serius seperti sesak napas atau nyeri dada, jangan menunggu kondisi memburuk dan segera cari pertolongan medis.

Referensi

"Wildfires". World Health Organization (WHO). Diakses pada Agustus 2026.

"Wildfire Smoke: A Frequently Underestimated Health Risk". World Health Organization Regional Office for Europe (WHO Europe). Diakses pada Agustus 2026.

"Safety Guidelines: Wildfires and Wildfire Smoke". Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses pada Agustus 2026.

"Public Health Advice During the Wildfires: How to Protect Your Health and Keep Safe". World Health Organization Regional Office for Europe (WHO Europe). Diakses pada Agustus 2026.

"Brief on Respirators and Air Pollution". World Health Organization Regional Office for Europe (WHO Europe). Diakses pada Agustus 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article