Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Apakah Menopause Bisa Ditunda?

3 min read
Apakah Menopause Bisa Ditunda?
ilustrasi perempuan usia 50an (pexels.com/🇻🇳🇻🇳Nguyễn Tiến Thịnh 🇻🇳🇻🇳)
  • Belum ada cara yang terbukti aman dan efektif untuk menunda menopause alami.

  • Rapamycin dan pembekuan jaringan ovarium masih diteliti untuk tujuan ini; hasil awal belum membuktikan menopause benar-benar tertunda.

  • Terapi hormon dapat membantu meredakan gejala, tetapi bukan cara yang terbukti memperlambat penuaan ovarium.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Perubahan siklus haid saat memasuki usia 40-an dapat membuat perempuan bertanya-tanya kapan menopause akan terjadi, dan bisakah ditunda.

Sampai saat ini, belum ada metode yang terbukti aman dan efektif untuk menunda menopause alami. Menopause umumnya terjadi pada usia 45–55 tahun dan ditetapkan setelah seseorang tidak menstruasi selama 12 bulan berturut-turut, tanpa penyebab lain.

  1. 1. Waktu menopause dipengaruhi banyak faktor

    Menopause terjadi ketika fungsi folikel di ovarium menurun dan ovarium berhenti melepaskan sel telur. Usianya berbeda-beda pada tiap orang; faktor genetik dan kondisi kesehatan ikut berperan. Merokok dikaitkan dengan menopause yang datang lebih awal. Namun, tidak merokok atau menjalani pola hidup sehat tidak menjamin menopause akan tertunda.

    Penelitian tentang pola makan juga belum menghasilkan kesimpulan yang konsisten. Tinjauan sistematis terhadap studi diet menemukan sejumlah kaitan antara makanan tertentu dan waktu menopause, tetapi bukti keseluruhannya masih kontroversial. Artinya, belum ada pola makan tertentu yang bisa dijanjikan akan menunda menopause.

  2. 2. Rapamycin masih menjadi bahan penelitian

    Salah satu kandidat yang menarik perhatian peneliti adalah rapamycin, obat yang bekerja pada jalur mTOR dan diteliti karena kemungkinan dapat memperlambat penuaan ovarium.

    Uji coba awal pada manusia telah dilakukan, tetapi penelitian yang tersedia belum membuktikan bahwa obat ini benar-benar menggeser usia menopause. Tinjauan ilmiah pada 2026 juga mencatat bahwa hasil uji awal tersebut belum dipublikasikan dalam jurnal ilmiah.

    Rapamycin bukan suplemen dan bukan obat menopause. Obat ini termasuk imunosupresan; label resminya mencantumkan peningkatan risiko infeksi.

  3. 3. Pembekuan jaringan ovarium belum terbukti untuk menunda menopause

    Ilustrasi anatomi ovarium perempuan dengan bentuk organ reproduksi yang disederhanakan sebagai materi visual kesehatan.
    ilustrasi ovarium (pexels.com/Nadezhda Moryak)

    Jaringan ovarium dapat dibekukan dan kemudian ditransplantasikan kembali. Prosedur ini digunakan untuk membantu mempertahankan kesuburan pada pasien yang akan menjalani terapi medis yang berisiko merusak ovarium. Namun, penggunaannya untuk menunda menopause pada orang sehat belum terbukti dalam uji klinis.

    Sebuah penelitian 2024 memodelkan kemungkinan penundaan menopause lewat prosedur tersebut. Hasilnya berupa prediksi matematis, bukan bukti bahwa prosedur itu berhasil menunda menopause pada pasien. Pedoman American Society for Reproductive Medicine juga menempatkan pembekuan jaringan ovarium sebagai prosedur preservasi kesuburan untuk kondisi medis tertentu; transplantasinya dinilai tidak efektif untuk mempertahankan fungsi hormon dalam jangka panjang.

  4. 4. Bagaimana dengan terapi hormon?

    Terapi hormon menopause dapat membantu mengurangi gejala seperti rasa panas mendadak dan keringat malam. Tujuannya adalah mengelola gejala, bukan memundurkan proses penuaan ovarium atau memperpanjang cadangan sel telur. Pilihan terapi perlu dibicarakan dengan dokter karena manfaat dan risikonya berbeda pada setiap orang.

    Jadi, menopause alami belum bisa ditunda dengan cara yang terbukti. Jika menstruasi berhenti sebelum usia 40 tahun, konsultasikan dengan dokter untuk mencari penyebab dan membahas perawatan yang sesuai.

    Referensi

    World Health Organization, “Menopause,” diakses 12 Oktober 2026.

    National Institute on Aging, “What Is Menopause?,” diakses 12 Oktober 2026.

    Giorgia Grisotto et al., “Dietary Factors and Onset of Natural Menopause: A Systematic Review and Meta-Analysis,” Maturitas 159 (May 2022): 15–32, https://doi.org/10.1016/j.maturitas.2021.12.008.

    Dudley W. Lamming, “Bench to Bedside: Is Rapamycin Headed for the docTOR?,” GeroScience 48, no. 3 (2026): 4547–4570, https://doi.org/10.1007/s11357-026-02306-8.

    National Library of Medicine, DailyMed, “Sirolimus Tablet, Sugar Coated: Prescribing Information,” diakses 12 Oktober 2026.

    Joshua Johnson, Sean D. Lawley, John W. Emerson, and Kutluk Oktay, “Modeling Delay of Age at Natural Menopause with Planned Tissue Cryopreservation and Autologous Transplantation,” American Journal of Obstetrics and Gynecology 230, no. 4 (2024): 426.e1–426.e8, https://doi.org/10.1016/j.ajog.2023.12.037.

    American Society for Reproductive Medicine, “Fertility Preservation in Patients with Medical Indications: A Committee Opinion,” diakses 12 Oktober 2026.

    American College of Obstetricians and Gynecologists, “Hormone Therapy for Menopause,” diakses 12 Oktober 2026.

Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More