- PJK adalah kondisi ketika aliran darah melalui arteri koroner terganggu, umumnya karena penumpukan plak.
- Serangan jantung terjadi ketika aliran darah ke bagian otot jantung mendadak terhambat dan jaringan jantung mulai rusak.
- Henti jantung terjadi ketika gangguan listrik membuat jantung berhenti memompa secara efektif.
7 Mitos Penyakit Jantung Koroner yang Masih Sering Dipercaya

Penyakit jantung koroner (PJK) terjadi ketika plak menyempitkan pembuluh darah yang memasok darah ke jantung. Kondisi ini bisa berkembang tanpa gejala.
Perempuan, orang bertubuh kurus, dan orang yang merasa bugar tetap dapat memiliki faktor risiko PJK. Nyeri dada memang sering muncul, tetapi bukan satu-satunya tanda masalah jantung.
Stent dan operasi dapat membantu memulihkan aliran darah, tetapi bukan alasan untuk menghentikan obat atau menghindari aktivitas tanpa berkonsultasi dengan dokter.
Rasa tertekan di dada saat berjalan menanjak bisa membuat seseorang berhenti sejenak. Namun, penyempitan pembuluh darah jantung juga dapat berkembang tanpa keluhan yang jelas.
Penyakit jantung koroner (PJK) terjadi ketika plak menumpuk di arteri koroner—pembuluh yang memasok darah ke otot jantung—dan menghambat alirannya. Pada sebagian orang, serangan jantung menjadi tanda pertama bahwa pembuluh darahnya bermasalah.
Memahami perbedaan antara fakta dan anggapan yang keliru dapat membantu kamu mengenali risikonya dan mencari pertolongan saat dibutuhkan. Berikut tujuh mitos tentang PJK yang perlu diluruskan.
Table of Content
1. Mitos: PJK hanya menyerang laki-laki lanjut usia
Faktanya: Usia yang bertambah memang meningkatkan risiko, tetapi PJK tidak hanya terjadi pada laki-laki lanjut usia.
Merokok, tekanan darah tinggi, diabetes, kadar kolesterol yang tidak sehat, riwayat keluarga, dan kurang aktivitas fisik juga berperan.
Kondisi genetik seperti hiperkolesterolemia familial bahkan dapat menyebabkan kolesterol LDL sangat tinggi sejak usia muda.
Perempuan juga dapat mengalami PJK, meski faktor risiko dan cara penyakitnya muncul bisa berbeda. Nyeri dada atau rasa tidak nyaman tetap menjadi gejala yang paling sering dialami kedua kelompok. Namun, perempuan dapat mengalami gejala lain, seperti sesak napas, kelelahan berat, mual, atau rasa tidak nyaman di punggung dan rahang.
Sebuah studi berbasis survei kesehatan di Amerika Serikat pada 2025 juga menemukan bahwa perempuan dalam sampel dengan gejala angina memiliki odds diagnosis yang terlewat sekitar 2,6 kali lebih tinggi daripada laki-laki, setelah peneliti memperhitungkan sejumlah faktor. Temuan ini menunjukkan pentingnya menilai keluhan jantung secara serius pada perempuan.
2. Mitos: Tidak adanya nyeri dada berarti jantung baik-baik saja
Faktanya: PJK dapat berlangsung tanpa gejala yang terasa. Pada beberapa orang, serangan jantung justru menjadi petunjuk pertama.
Nyeri atau tekanan di dada memang tanda serangan jantung yang umum. Namun, keluhan lain dapat berupa sesak napas, keringat dingin, mual, pusing, atau rasa tidak nyaman yang menjalar ke lengan, punggung, leher, maupun rahang.
Gejala bisa berbeda antarorang; perempuan lebih mungkin mengalami gejala penyerta tertentu, tetapi nyeri dada tetap sering terjadi pada mereka.
Jika muncul tekanan atau nyeri dada yang menetap atau berulang, terutama bersama sesak, keringat dingin, mual, atau rasa tidak nyaman yang menjalar, segera cari pertolongan medis darurat. Serangan jantung butuh penanganan cepat.
3. Mitos: PJK, serangan jantung, dan henti jantung adalah hal yang sama

ilustrasi penyakit jantung (magnific.com/magnific) Faktanya: Ketiganya berhubungan, tetapi artinya berbeda.
Serangan jantung dapat memicu henti jantung, tetapi keduanya bukan istilah yang sama.
4. Mitos: Kolesterol tinggi pasti menimbulkan gejala
Faktanya: Kolesterol tinggi biasanya tidak menimbulkan tanda yang bisa dirasakan. Kamu bisa merasa sehat tanpa mengetahui kadar kolesterolnya tinggi. Perlu pemeriksaan darah untuk mengetahuinya.
Kolesterol LDL yang berlebihan dapat ikut membentuk plak di dinding pembuluh darah. Karena itu, tidak adanya keluhan bukan ukuran kadar kolesterol. Waktu pemeriksaan yang tepat sebaiknya dibicarakan dengan tenaga kesehatan, terutama jika memiliki diabetes, PJK, atau riwayat keluarga dengan kolesterol tinggi.
5. Mitos: Kalau kurus dan rutin berolahraga, PJK mustahil terjadi
Faktanya: Berat badan dan kebiasaan bergerak hanya sebagian dari gambaran risiko. Riwayat keluarga, tekanan darah, diabetes, kadar kolesterol, usia, dan kebiasaan merokok juga penting. Gaya hidup sehat dapat membantu menurunkan risiko, tetapi tidak menjamin seseorang bebas PJK.
Sebaliknya, orang yang bertubuh kurus tetap bisa memiliki kolesterol tinggi atau faktor risiko lain. Memeriksa tekanan darah, gula darah, dan kolesterol serta membahas riwayat keluarga dengan dokter dapat memberi gambaran risiko yang lebih utuh.
6. Mitos: Setelah dipasang stent, PJK sudah sembuh dan obat tak lagi dibutuhkan

Ilustrasi obat (pexels.com/cottonbro studio) Faktanya: Stent membantu membuka bagian arteri yang menyempit dan memulihkan aliran darah. Namun, tindakan itu tidak otomatis menghilangkan proses penumpukan plak di pembuluh darah.
Perawatan setelah tindakan dapat mencakup obat, pengelolaan faktor risiko, perubahan kebiasaan, dan rehabilitasi jantung.
Jenis dan lamanya obat berbeda bagi tiap pasien. Jangan menghentikan atau mengubah obat yang diresepkan tanpa membicarakannya dengan dokter. Panduan American Heart Association untuk penyakit koroner kronis menekankan pemantauan berkala dan penggunaan obat penurun kolesterol secara konsisten sesuai arahan dokter.
7. Mitos: PJK berarti harus menghindari olahraga
Faktanya: Aktivitas fisik dapat menjadi bagian dari perawatan PJK dan pemulihan setelah serangan jantung. Rehabilitasi jantung, misalnya, menggabungkan latihan yang diawasi dengan edukasi kesehatan dan pengelolaan faktor risiko.
Namun, jenis dan intensitas aktivitas perlu disesuaikan dengan kondisi pasien. Orang yang baru mengalami serangan jantung atau menjalani tindakan jantung sebaiknya bertanya kepada tim medis kapan dan bagaimana mulai bergerak dengan aman.
PJK tidak selalu memberi tanda yang mudah dikenali, dan penampilan sehat tidak cukup untuk menyingkirkan risikonya. Mengenali faktor risiko, memeriksakan diri sesuai kebutuhan, mengikuti pengobatan, dan segera mencari pertolongan saat muncul gejala yang mengarah ke serangan jantung dapat membantu kamu mengambil langkah yang tepat.
Referensi
Centers for Disease Control and Prevention, “About Coronary Artery Disease (CAD),” diakses 12 Oktober 2026.
World Health Organization, “Heart Attack,” diakses 12 Oktober 2026.
Olivia Manfrini et al., “Sex and Gender Differences in Coronary Pathophysiology and Ischaemic Heart Disease: A Scientific Statement of the ESC Working Group on Coronary Pathophysiology & Microcirculation, the Association for Acute CardioVascular Care, and the European Association of Percutaneous Cardiovascular Interventions of the ESC,” European Heart Journal 47, no. 22 (2026): 2727–49, https://doi.org/10.1093/eurheartj/ehaf1059.
Naydeen Mostafa et al., “Gender Disparities in Delayed Angina Diagnosis: Insights from 2001–2020 NHANES Data,” BMC Public Health 25 (2025): 1197, https://doi.org/10.1186/s12889-025-22214-4.
Centers for Disease Control and Prevention, “Cholesterol Myths and Facts,” diakses 12 Oktober 2026.
American Heart Association, “Key Patient Messages: Chronic Coronary Disease Guideline,” diakses 12 Oktober 2026.
American Heart Association, “Getting Physically Active,” diakses 12 Oktober 2026.























