"Eating Late Is Really Bad for You". Psychology Today. Diakses pada Februari 2026.
"Acid Reflux? The Dangers of Midnight Snacking". Jamie Koufman. Diakses pada Februari 2026.
"Myles Spar, MD, Explains Why Eating Late at Night Could Be More Harmful Than You Know". American Board of Psychology. Diakses pada Februari 2026.
"GERD Symptoms – The Dangers Of Eating At Night". Life Force. Diakses pada Februari 2026.
Apakah Telat Makan Lebih Berbahaya untuk Pasien GERD?

- Telat makan memicu peningkatan asam lambung secara bertahap
- Lambung kosong terlalu lama memperlemah fungsi katup kerongkongan
- Telat makan mengubah respons tubuh terhadap rasa lapar
GERD sering kali dikaitkan dengan pilihan makanan pedas atau minuman asam, padahal waktu makan punya peran yang tidak kalah penting dalam memengaruhi keluhan lambung. Banyak orang terbiasa menunda makan karena pekerjaan, perjalanan, atau sekadar lupa waktu, lalu menganggap kebiasaan tersebut tidak berdampak apa-apa selama porsi makan tetap tercukupi.
Padahal, kondisi lambung bekerja dengan sistem yang cukup sensitif terhadap jeda waktu kosong tanpa asupan. Ketika keterlambatan makan terjadi berulang, tubuh bisa merespons dengan cara yang tidak selalu disadari sejak awal. Pertanyaannya, apakah telat makan memang lebih berbahaya bagi GERD dibandingkan faktor lain yang sering disalahkan? Berikut penjelasan lengkapnya.
1. Telat makan memicu peningkatan asam lambung secara bertahap

Saat lambung dibiarkan kosong terlalu lama, produksi asam tetap berjalan meski tidak ada makanan yang perlu dicerna. Kondisi ini membuat cairan asam berkumpul tanpa penyangga alami dari makanan, sehingga lebih mudah mengiritasi dinding lambung. Pada penderita GERD, keadaan tersebut memperbesar peluang asam naik ke kerongkongan karena tekanan di lambung meningkat perlahan. Efeknya sering tidak langsung terasa, tetapi muncul dalam bentuk rasa perih atau panas setelah akhirnya makan.
Jika keterlambatan makan menjadi kebiasaan, iritasi ringan ini bisa terjadi berulang tanpa disadari. Lama-kelamaan, lapisan pelindung lambung lebih rentan terhadap peradangan. Inilah alasan telat makan sering memicu keluhan meski menu yang dikonsumsi tergolong aman. Jadi, masalahnya bukan hanya apa yang dimakan, tetapi kapan makanan itu masuk ke lambung.
2. Lambung kosong terlalu lama memperlemah fungsi katup kerongkongan

GERD berkaitan erat dengan katup antara lambung dan kerongkongan yang seharusnya menutup rapat setelah makanan masuk. Ketika lambung kosong terlalu lama, tekanan internal dapat berubah dan memengaruhi kinerja katup tersebut. Dalam kondisi tertentu, katup menjadi lebih mudah terbuka meski tidak sedang menelan makanan. Akibatnya, asam lambung lebih gampang naik ke kerongkongan.
Situasi ini sering diperparah ketika telat makan diikuti makan dalam porsi besar. Lambung yang sudah lama kosong tiba-tiba menerima beban berat, sehingga tekanan meningkat tajam. Kombinasi ini membuat keluhan GERD terasa lebih intens dibandingkan makan tepat waktu dengan porsi seimbang. Artinya, keteraturan waktu makan membantu menjaga kerja katup tetap optimal.
3. Telat makan mengubah respons tubuh terhadap rasa lapar

Rasa lapar yang dibiarkan terlalu lama tidak hanya terasa di perut, tetapi juga memengaruhi cara tubuh bereaksi saat akhirnya makan. Banyak orang cenderung makan lebih cepat dan dalam jumlah lebih banyak setelah telat makan. Kebiasaan ini membuat proses pencernaan bekerja lebih berat dari seharusnya. Pada penderita GERD, kondisi tersebut meningkatkan risiko rasa penuh berlebihan dan refluks asam.
Selain itu, makan tergesa-gesa sering disertai kurangnya proses mengunyah yang optimal. Makanan yang tidak cukup halus lebih lama dicerna, sehingga lambung memproduksi asam lebih banyak. Dari sini terlihat bahwa telat makan tidak berdiri sendiri, melainkan memicu rangkaian kebiasaan yang memperburuk kondisi lambung. Dampaknya bisa muncul meski jenis makanannya relatif ringan.
4. Waktu makan tidak teratur mengganggu sinyal alami pencernaan

Sistem pencernaan bekerja berdasarkan sinyal yang cukup konsisten, termasuk waktu makan yang relatif sama setiap hari. Ketika jadwal makan sering berubah atau terlambat, sinyal tersebut menjadi tidak sinkron. Lambung bisa memproduksi asam pada waktu yang kurang tepat, misalnya saat tidak ada makanan sama sekali. Kondisi ini membuat lingkungan lambung lebih agresif terhadap jaringan sekitarnya.
Bagi penderita GERD, ketidakteraturan ini memperbesar peluang munculnya keluhan di waktu yang sulit diprediksi. Gejala bisa muncul sore hari, malam, atau bahkan saat bangun tidur. Dengan kata lain, telat makan bukan hanya soal rasa lapar sesaat, tetapi juga memengaruhi koordinasi kerja sistem pencernaan secara keseluruhan. Menjaga waktu makan membantu tubuh mempertahankan sinyal yang lebih stabil.
5. Telat makan sering memperburuk gejala tanpa disadari

Banyak orang fokus menghindari makanan tertentu, tetapi mengabaikan waktu makan sebagai pemicu keluhan. Padahal, telat makan sering menjadi faktor yang memperparah gejala meski pola makan sudah diperhatikan. Rasa perih, panas di dada, atau mual sering muncul setelah jadwal makan kacau dalam beberapa hari. Karena efeknya tidak selalu instan, penyebab ini kerap luput dari perhatian.
Jika dicermati, memperbaiki waktu makan sering memberi perbaikan yang cukup signifikan. Keluhan bisa berkurang meski jenis makanan tidak banyak berubah. Hal ini menunjukkan bahwa telat makan memiliki peran nyata dalam memperburuk GERD. Kesadaran terhadap waktu makan menjadi langkah sederhana yang sering diabaikan.
GERD tidak hanya dipengaruhi oleh pilihan makanan, tetapi juga oleh kebiasaan menunda makan yang terlihat sepele. Telat makan dapat memicu peningkatan asam, mengganggu kerja lambung, dan memperburuk gejala tanpa disadari. Jika keluhan sering muncul meski menu sudah dijaga, sudahkah waktu makan diperhatikan dengan serius?
Referensi


















