Mayo Clinic. "Low Blood Pressure (Hypotension): Symptoms & Causes." Diakses Februari 2026.
National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI). "Low Blood Pressure." Diakses Februari 2026.
Cleveland Clinic. "What To Do if Blood Pressure Is Too Low." Diakses Februari 2026.
9 Penyebab Tekanan Darah Rendah (Hipotensi)

- Tekanan darah rendah (hipotensi) bisa terjadi karena banyak faktor, mulai dari kondisi fisiologis normal hingga penyakit serius seperti gangguan jantung atau infeksi berat.
- Beberapa penyebab adalah sementara, seperti perubahan posisi tubuh atau setelah makan, sementara yang lain mencerminkan kondisi medis yang memerlukan evaluasi dokter.
- Penting untuk mengenali tanda-tanda berbahaya, karena tekanan darah yang sangat rendah dapat mengancam organ vital.
Tekanan darah adalah ukuran kekuatan darah terhadap dinding arteri saat jantung memompa. Nilai normal biasanya berada di bawah 120/80 mmHg, sedangkan tekanan darah yang secara konsisten berada di bawah 90/60 mmHg disebut tekanan darah rendah (hipotensi).
Bagi sebagian orang, tekanan darah yang rendah bukanlah masalah besar, terutama jika tidak menimbulkan gejala. Namun, pada banyak kasus, kondisi ini dapat menyebabkan pusing, lemas, pandangan kabur, dan bahkan pingsan.
Hipotensi bisa terjadi karena perubahan posisi tubuh atau sebagai respons normal tubuh terhadap faktor lingkungan. Namun, ini juga bisa menjadi petunjuk adanya kondisi medis yang lebih serius, termasuk gangguan jantung, masalah hormon, atau infeksi berat. Mengetahui penyebabnya secara komprehensif membantu kamu mengenali kapan tekanan darah rendah bersifat ringan dan kapan memerlukan evaluasi medis lebih lanjut.
Berikut ini beberapa faktor yang dapat menyebabkan tekanan darah rendah, mulai dari yang sangat umum hingga yang lebih berbahaya secara medis.
Table of Content
1. Dehidrasi
Dehidrasi terjadi ketika tubuh kehilangan lebih banyak cairan daripada yang masuk, sehingga volume darah menurun. Volume darah yang berkurang membuat tekanan darah turun karena lebih sedikit darah yang mengalir melalui pembuluh.
Penyebab dehidrasi bisa beragam, termasuk demam tinggi, muntah berlebihan, diare, penggunaan diuretik berlebihan, atau olahraga berat tanpa cukup cairan. Kekurangan cairan membuat tubuh tidak mampu mempertahankan tekanan yang cukup untuk mengalirkan darah ke organ vital.
Orang yang mengalami dehidrasi sering merasakan haus hebat, kulit kering, urine berwarna gelap, pusing, dan lemas, yang bisa diperbaiki dengan rehidrasi dan penanganan medis jika diperlukan.
2. Kehamilan

Hipotensi umum terjadi pada ibu hamil, terutama pada trimester pertama dan kedua. Selama kehamilan, tubuh memproduksi lebih banyak darah untuk mendukung janin, tetapi perubahan hormon dan perluasan pembuluh darah dapat menurunkan tekanan darah.
Pembuluh darah yang lebih longgar membuat darah “mengalir lebih bebas”, sehingga tekanan terhadap dinding arteri lebih rendah. Meski sebagian besar perubahan ini bersifat sementara dan kembali normal setelah persalinan, tetapi penting bagi ibu hamil untuk dimonitor secara medis untuk mencegah komplikasi lain.
Jika tekanan darah turun drastis atau disertai gejala seperti pingsan atau sesak napas, ini dapat menjadi tanda kondisi yang memerlukan evaluasi medis.
3. Efek samping obat-obatan
Berbagai obat dapat menyebabkan tekanan darah turun sebagai efek samping. Ini termasuk obat tekanan darah tinggi seperti diuretik, beta-blocker, dan alfa-blocker, serta obat untuk penyakit Parkinson, antidepresan tertentu, dan obat disfungsi ereksi ketika digunakan bersamaan dengan nitrogliserin.
Obat-obat ini bekerja melalui berbagai mekanisme, misalnya melebarkan pembuluh darah atau mengurangi kecepatan denyut jantung, yang bisa terlalu efektif dalam menurunkan tekanan darah.
Jika kamu memulai obat baru dan mengalami gejala tekanan darah rendah, penting untuk berkonsultasi dengan dokter agar dosis dapat dievaluasi atau alternatif yang lebih aman dapat dipertimbangkan.
4. Masalah jantung dan aliran darah

Gangguan pada jantung dapat menurunkan kemampuan organ ini dalam memompa darah secara efektif. Kondisi seperti bradikardia (denyut jantung lambat), penyakit katup jantung, serangan jantung, atau gagal jantung dapat menyebabkan aliran darah yang kurang kuat, sehingga tekanan darah turun.
Kelainan irama jantung atau struktur jantung dapat mengganggu jumlah darah yang dipompa dalam setiap denyut, yang berkontribusi pada hipotensi kronis atau episodik.
Masalah jantung sebagai penyebab hipotensi sering disertai gejala lain seperti sesak napas, nyeri dada, atau kelelahan ekstrem, yang memerlukan penanganan medis segera.
5. Gangguan hormonal dan endokrin
Beberapa kondisi yang memengaruhi hormon tubuh ikut berkontribusi pada tekanan darah rendah. Contohnya adalah penyakit Addison (insufisiensi adrenal), karena kelenjar adrenal tidak menghasilkan cukup hormon yang membantu mempertahankan tekanan darah.
Selain itu, hipotiroidisme (kelenjar tiroid kurang aktif) dan diabetes yang tidak terkontrol dapat memengaruhi sistem endokrin serta keseimbangan cairan dan garam, yang pada gilirannya menurunkan tekanan darah.
Kadar gula darah yang rendah (hipoglikemia), sering terjadi pada diabetes, juga dapat menyebabkan hipotensi karena kurangnya energi yang tersedia untuk fungsi tubuh termasuk menjaga tekanan darah.
6. Anemia dan kekurangan nutrisi

Anemia terjadi ketika tubuh kekurangan sel darah merah yang sehat—baik karena kekurangan zat besi, vitamin B12, atau folat—sehingga darah tidak membawa oksigen secara efisien.
Akibatnya, tubuh berusaha mempercepat sirkulasi untuk memenuhi kebutuhan oksigen organ vital, yang bisa berdampak pada turunnya tekanan darah karena volume darah efektif berkurang.
Selain anemia, kekurangan nutrisi tertentu yang memengaruhi produksi darah atau sistem saraf juga dapat menyebabkan tekanan darah rendah.
7. Infeksi berat dan syok septik
Infeksi yang sangat parah yang masuk ke dalam aliran darah (sepsis) dapat memicu pelebaran ekstrem pembuluh darah dan penurunan tajam tekanan darah, suatu kondisi yang disebut syok septik (septic shock).
Saat bakteri atau racun dari infeksi menyebar luas, pembuluh darah kehilangan kemampuan untuk mempertahankan tekanan, sehingga organ vital tidak mendapat cukup darah.
Syok septik adalah darurat medis yang memerlukan perawatan intensif. Tanpa penanganan cepat, kondisi ini bisa mengancam nyawa.
8. Pendarahan hebat dan kehilangan volume darah

Kehilangan darah secara signifikan, misalnya akibat cedera traumatis, operasi besar, atau perdarahan internal, mengurangi volume darah total dalam tubuh.
Volume darah yang rendah berarti lebih sedikit darah yang dapat dipompa jantung melalui pembuluh, yang langsung berdampak pada penurunan tekanan darah.
Kondisi ini sering mengakibatkan gejala akut seperti pingsan, kulit pucat, dan detak jantung cepat, yang memerlukan penanganan medis segera
9. Hipotensi ortostatik dan hipotensi postprandial
Hipotensi ortostatik adalah jenis hipotensi yang terjadi saat seseorang berdiri tiba-tiba setelah duduk atau berbaring. Kondisi ini disebabkan oleh refleks saraf otonom yang lambat menyesuaikan aliran darah terhadap perubahan posisi.
Sementara itu, hipotensi postprandial terjadi 1–2 jam setelah makan; tubuh mengalihkan aliran darah ke saluran pencernaan sehingga tekanan darah sistemik turun. Kondisi ini lebih sering dialami lansia dan mereka dengan gangguan sistem saraf autonom.
Kedua kondisi ini sering dianggap normal dalam konteks tertentu, tetapi jika gejalanya berat atau sering terjadi, evaluasi medis diperlukan.
Kapan harus menemui dokter?

Tekanan darah rendah yang tidak disertai gejala dan stabil sering kali tidak perlu perawatan khusus. Namun, jika tekanan darah rendah disertai pusing hebat, pingsan, kebingungan, kulit dingin dan lembap, atau napas cepat, ini bisa menjadi tanda kondisi serius seperti syok atau masalah organ vital dan perlu pertolongan medis segera.
Jika kamu sering mengalami gejala seperti pusing saat bangun, kelelahan berlebihan, penglihatan kabur, atau sering pingsan, dokter perlu mengidentifikasi penyebabnya lewat beberapa tes dan pemeriksaan.
Membawa catatan tekanan darah dan gejala yang menyertainya saat menemui dokter juga membantu menentukan apakah hipotensi merupakan tanda kondisi kronis yang butuh penanganan.
Referensi

















