Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bagaimana Bakteri E. coli Bisa Mengontaminasi Makanan? Ini Jalurnya!
ilustrasi porsi makan (pexels.com/Tamba Budiarsana)
  • Kasus keracunan makanan di sejumlah wilayah Indonesia dilaporkan melibatkan kontaminasi E. coli, bakteri usus yang sebagian strainnya dapat menghasilkan racun dan memicu penyakit.
  • E. coli dari feses manusia atau hewan dapat mencapai makanan melalui air tercemar, tanah atau pupuk kandang, lalu mengontaminasi tanaman, bahan pangan, dan peralatan.
  • Pengolahan, distribusi, serta konsumsi yang tidak higienis—termasuk tangan dan alat kotor, makanan kurang matang, kontaminasi silang, dan penyimpanan suhu ruang terlalu lama—memperbesar risiko kontaminasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Beberapa waktu terakhir ini, kasus keracunan makanan di kalangan pelajar kembali dilaporkan di berbagai wilayah di Indonesia, seperti Jawa, Papua, dan Sumatera. Diduga keracunan ini akibat mengonsumsi makanan yang disediakan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) sehingga menyebabkan keracunan massal. Dalam laporan medis yang dirilis, ada beberapa kontaminasi bakteri dalam makanan yang disajikan. Salah satunya adalah kontaminasi bakteri Escherichia coli (E.coli).

Umumnya, Escherichia coli bukanlah bakteri patogen penyebab penyakit. Bakteri ini hidup di sistem pencernaan (usus) yang justru membantu mencerna makanan dan menjaga sistem pencernaan tetap sehat. Namun, beberapa strainnya (jenisnya) memang bisa menghasilkan racun yang mengakibatkan keracunan makanan ketika dikonsumsi. Oleh sebab itu, kontaminasi E. coli dalam makanan kerap menjadi perhatian dan harus diwaspadai.

Lalu, bagaimana E. coli bisa mengontaminasi makanan? Inilah perjalanan E. coli dari usus hingga ke makanan. Yuk, simak pembahasannya sampai tuntas.

1. Melalui air

ilustrasi penggunaan air untuk menyiram tanaman (pexels.com/cottonbro studio)

Karena hidup di dalam usus, Escherichia coli sering sekali dijumpai pada feses manusia atau hewan berdarah hangat. Di mana hewan ruminansia seperti sapi adalah reservoir atau penampung utama bakteri ini. Bisa dibilang, proses kontaminasi E. coli ke makanan, semuanya bersumber dari feses. Bagaimana perjalanannya?

E. coli dikeluarkan ke lingkungan melalui tinja atau feses. Melalui perantara tersebut, E. coli mengalir ke sistem pembuangan tinja. Di dalam tanah, mikroorganisme ini bisa mengalir ke aliran air hingga menuju ke perairan seperti sungai atau danau. Di mana proses ini kemudian akan memaparkan sumber air dengan E. coli.

Air yang kita jumpai di lingkungan ini adalah sumber kehidupan yang kita gunakan dalam banyak aktivitas, seperti menyiram atau mencuci sayur dan buah. Jika air tersebut terkontaminasi E. coli, maka makanan atau tanaman juga akan terpapar E. coli. Tak hanya itu, air juga digunakan dalam mencuci peralatan memasak, di mana air yang tidak disanitasi juga akan membawa bakteri tersebut ke makanan.

2. Melalui tanah

ilustrasi pupuk tanaman (pexels.com/Silva Montanis)

Tak hanya akan mengalir ke perairan, tinja atau kotoran manusia atau hewan juga akan terurai secara otomatis di dalam tanah. Di mana proses penguraian kotoran ini bisa menghasilkan bahan organik yang sangat subur yang dikenal dengan kompos. Di dalam pertanian, kompos atau pupuk kandang adalah “emas hitam” yang menyuburkan tanaman.

Memang, tidak semua kompos mengandung E. coli berbahaya. Akan tetapi, kompos dari sapi, yang merupakan hewan utama penampung E. coli, bisa membawa E. coli patogen. Ketika diaplikasikan pada tanaman, pupuk yang terkontaminasi ini bisa menjadi jalur kontaminasi E. coli ke tanaman yang nantinya kita konsumsi.

3. Melalui proses pengolahan dan penanganan makanan yang tidak tepat

ilustrasi daging mentah (pixabay.com/VartanMercadanti)

Selain dari air dan hasil panen, E. coli juga bisa masuk ke makanan melalui proses pengolahan dan penanganan makanan yang tidak tepat. Kebersihan area dapur dan peralatan memasak adalah pintu masuk lainnya E. coli ke dalam makanan. Begitu pula dengan kebersihan personal individu (personal hygiene) yang menangani makanan.

Dalam proses pengolahan makanan, bahan makanan dapat menyentuh apa saja yang digunakan dalam memasak, seperti meja, talenan, wadah, ataupun pisau. Di mana semua peralatan tersebut merupakan tempat potensial penampungan E. coli secara alami. Area dapur atau tempat produksi makanan yang tidak higienis juga merupakan sumber kontaminan E. coli ke makanan yang umum.

Dijelaskan dalam International Journal of Food Science tahun 2026, area di sekitar dapur dapat menjadi sumber bakteri yang hidup bebas, termasuk E. coli. Hal ini terjadi karena area dapur atau tempat pengolahan makanan bisa menjadi tempat masuk bahan-bahan mentah yang terkontaminasi secara alami, misalnya sayur dari kebun atau daging sapi mentah yang potensial mengandung E. coli.

Terkait kebersihan personal, salah satu hal yang paling mudah membawa kontaminan bakteri E. coli ke makanan adalah kegagalan membersihkan diri setelah menggunakan toilet. Tidak mencuci tangan dengan sabun setelah menggunakan toilet atau menangani bayi yang buang air besar adalah salah satu contohnya. Selain itu, beberapa contoh kebersihan pribadi yang buruk dalam penanganan makanan, termasuk:

  • Tidak mencuci tangan setelah menangani daging mentah dan makanan siap saji yang belum dimasak.

  • Menggunakan pakaian atau aksesoris yang tidak bersih selama memasak.

  • Menyentuh wajah, rambut, atau perangkat pribadi selama persiapan makanan.

  • Memiliki kuku panjang yang bisa memerangkap bakteri patogen.

  • Bekerja dalam keadaan sakit atau memiliki luka terbuka.

  • Menggunakan peralatan masak yang kotor, termasuk peralatan atau kain untuk mengelap meja.

Selain yang disebutkan di atas, beberapa hal berikut juga bisa menjadi jalur masuk kontaminasi E. coli pada makanan:

  • Memasak daging sapi, daging giling, dan turunannya secara tidak atau kurang matang.

  • Tidak mencuci sayur dan buah dengan bersih, atau menggunakan air yang tidak disanitasi dengan benar.

  • Tidak memasak sayur (terutama sayuran berdaun hijau) dengan matang. Pada beberapa kasus, E. coli menempel pada permukaan tanaman dan masuk ke dalam sel tanaman. Di mana proses pencucian saja tidak cukup untuk membersihkan bakteri tersebut.

  • Tidak menggunakan alat potong dan talenan secara terpisah untuk makanan matang dan mentah.

  • Menyimpan dan meletakkan bahan makanan dekat toilet.

  • Tidak menjaga lingkungan memasak maupun toilet dengan bersih yang memungkinkan hewan seperti lalat, kecoa, atau pun semut menyebarkan bakteri patogen.

Jika dirinci, ada banyak sekali pintu masuk E. coli ke makanan dalam proses pengolahan dan penanganan makanan. Oleh sebab itu, diperlukan sistem keamanan pangan yang ketat dalam proses pengolahan makanan untuk menghasilkan makanan yang aman dan sehat.

4. Melalui proses distribusi makanan

ilustrasi pembagian makanan (pexels.com/Blue Bird)

Proses pendistribusian makanan juga tak luput dari kemungkinan penyebaran E. coli ke makanan. Hal ini terjadi karena waktu penyimpanan dan transportasi yang terlalu lama setelah makanan siap dihidangkan dapat memicu pertumbuhan atau peningkatan jumlah bakteri dalam makanan. Mengutip laman Food Safety and Inspection Service USDA, membiarkan makanan terlalu lama di suhu ruang dapat menyebabkan bakteri seperti Staphylococcus aureus, Salmonella enteritidis, dan Escherichia coli berkembang biak hingga mencapai tingkat berbahaya yang bisa menyebabkan sakit.

5. Melalui konsumsi

ilustrasi menyantap makanan (pexels.com/Citra Dwi fardiah)

Penyebaran E. coli ke makanan juga bisa terjadi saat kita makan. Tangan atau peralatan makan yang tidak bersih juga bisa memicu kontaminasi bakteri ke makanan yang akan kita konsumsi. Jadi, usahakan untuk selalu mencuci tangan atau peralatan dengan bersih di air mengalir yang disanitasi sebelum menyantap makanan.

E. coli adalah bakteri yang ditemukan pada tinja yang bisa mengontaminasi makanan melalui berbagai jalur. Kontaminasi E. coli ke makanan ini bisa menyebabkan sakit atau keracunan makanan serius karena beberapa jenisnya merupakan patogen. Jadi, untuk menghindarinya, usahakan untuk selalu menjaga kebersihan diri dan kebersihan tempat menyiapkan makanan untuk mencegah kontaminasi E. Coli ke makanan.

Referensi

“FAQ: E. Coli: Good, Bad, & Deadly”. National Library of Medicine. Diakses September 2026.

“Why Personal Hygiene in Food Handling is Important”. Australian Institute of Accreditation. Diakses September 2026.

"Danger Zone" (40°F - 140°F)”. Food Safety and Insoection Service USDA. Diakses September 2026.

“E. coli”. World Health Organization. Diakses September 2026.

“Kitchen Hygiene and Microbial Contamination of Selected Urban Residential Houses in Dhaka City of Bangladesh”. National Library of Medicine. Diakses September 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article