Pada awal abad ke-19, seorang ibu yang kehilangan banyak darah setelah melahirkan nyaris tak punya pilihan pengobatan untuk menggantikan darah tersebut. Pada zaman itu belum ada bank darah, sementara transfusi masih menjadi gagasan yang sangat berisiko.
Pemandangan inilah yang berulang kali dilihat James Blundell, seorang dokter kandungan asal Inggris. Ia menyaksikan pasien yang perlahan melemah akibat perdarahan, sementara pilihan pengobatan yang tersedia sangat terbatas. Pengalaman tersebut memunculkan pertanyaan yang berpotensi mengubah dunia kedokteran: jika seseorang kehilangan darah, mungkinkah darah dari manusia lain diberikan untuk menyelamatkan nyawanya?
Rasa penasaran sekaligus keinginan untuk menyelamatkan lebih banyak pasien mendorong Blundell mencari jawabannya. Dari pertanyaan itu, lahirlah langkah-langkah awal yang kemudian membuka jalan bagi perkembangan transfusi darah modern.
