Referensi
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, “34 Juta Orang Sudah Periksa Mata, Kemenkes Perkuat Deteksi Dini Gangguan Penglihatan,” diakses 17 Oktober 2026.
World Health Organization, “Blindness and Vision Impairment,” diakses 17 Oktober 2026.
World Health Organization, "Vision and Eye Screening Implementation Handbook", diakses 17 Oktober 2026.
Kemenkes: 34 Juta Orang Periksa Mata, 1,6 Juta Terindikasi Bermasalah

Hingga 15 Oktober 2026, 34 juta orang telah menjalani pemeriksaan mata melalui Cek Kesehatan Gratis (CKG); sekitar 1,6 juta di antaranya terindikasi mengalami gangguan penglihatan.
Melalui program Comprehensive Community Eye Care (CCEC), Kemenkes menargetkan skrining, pelatihan, operasi katarak, pembagian kacamata, serta pengembangan vision center.
Hasil skrining dapat menjadi pintu awal untuk mencari bantuan. Pemeriksaan lanjutan dan layanan yang mudah dijangkau tetap dibutuhkan.
Di sebuah kegiatan skrining mata di Jakarta, Fayra Salsabila, siswi SMP Negeri 145, mengetahui bahwa ia memiliki silinder 2,00 pada satu mata dan 1,50 pada mata lainnya. Pemeriksaan itu juga memberinya akses ke kacamata gratis.
Pengalaman Fayra menjadi bagian dari upaya Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperluas deteksi dini gangguan penglihatan. Kemenkes menyebut 34 juta orang telah menjalani pemeriksaan mata melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Dari jumlah tersebut, sekitar 1,6 juta orang terindikasi mengalami gangguan penglihatan.
Table of Content
1. Hasil skrining menjadi pintu awal deteksi
Angka 1,6 juta merujuk pada orang yang terindikasi mengalami gangguan penglihatan berdasarkan hasil skrining. Karena skrining hanya menjadi petunjuk awal, pemeriksaan lanjutan tetap diperlukan untuk memastikan diagnosis dan kebutuhan penanganan.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), diperkirakan sedikitnya 2,2 miliar orang mengalami gangguan penglihatan jarak dekat atau jauh. Pada sedikitnya 1 miliar orang, gangguan tersebut dapat dicegah atau belum tertangani.
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu sampai keluhan terasa berat. “Jangan tunggu sampai mata kita terasa berat, kabur, atau menyakitkan. Jagalah organ pertama yang bekerja untuk kita setiap hari,” ujar Wamenkes Dante mengutip rilis resmi.
2. CCEC menargetkan skrining bagi lebih dari 60 ribu siswa dan pekerja

ilustrasi pemeriksaan mata anak (pexels.com/Pavel Danilyuk) Untuk memperluas pemeriksaan dan layanan, Kemenkes meluncurkan program Comprehensive Community Eye Care (CCEC), atau pelayanan kesehatan mata komprehensif berbasis masyarakat. Dalam tiga tahun ke depan, program ini menargetkan skrining bagi lebih dari 60.000 siswa dan pekerja di lima provinsi dan 19 kabupaten/kota.
Target lainnya mencakup pelatihan lebih dari 2.000 tenaga kesehatan dan guru, dukungan bagi 16.500 operasi katarak, serta distribusi lebih dari 100.000 kacamata. Program ini juga akan membangun 13 vision center baru dan memperkuat 21 pusat yang sudah tersedia.
Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes, dr. Siti Nadia Tarmizi, menjelaskan bahwa vision center dirancang untuk mendekatkan layanan mata kepada masyarakat. Model ini menghubungkan puskesmas dengan dinas kesehatan, organisasi profesi, kader kesehatan, dan mitra pembangunan. Pemeriksaan, dukungan tenaga profesional, dan penyediaan kacamata diharapkan dapat dikembangkan sampai tingkat puskesmas.
Upaya ini berjalan bersama empat langkah Kemenkes, yaitu memperkuat skrining mata melalui CKG, memperluas akses operasi katarak, memeratakan ketersediaan dokter spesialis mata, serta meningkatkan edukasi kesehatan mata di sekolah dan tempat kerja.
Kemenkes juga berkoordinasi dengan BPJS Kesehatan dan Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) untuk mengatasi ketimpangan layanan operasi katarak antardaerah.
3. Setelah skrining, akses pemeriksaan dan kebiasaan sehari-hari tetap penting
Bagi Fayra, pemeriksaan itu membantu memenuhi kebutuhannya akan kacamata. “Aku dapat kacamata gratis dari pemeriksaan ini. Nanti aku tinggal cek lagi untuk pilih model kacamata yang diinginkan di optik,” ujar Fayra.
Kemenkes juga mengingatkan masyarakat untuk memberi jeda pada mata saat menggunakan perangkat digital. Salah satu caranya adalah aturan 20-20-20, yaitu setiap 20 menit menatap layar, alihkan pandangan ke objek sekitar 20 kaki (6 meter) selama 20 detik.
Kemenkes mendorong masyarakat memeriksakan mata secara berkala agar gangguan dapat ditemukan lebih awal dan ditindaklanjuti dengan layanan yang sesuai.





![[QUIZ] Pilih Warna Favoritmu, Kami Tebak Tingkat Anxiety Kamu](https://image.idntimes.com/post/20260714/upload_fb55bb03ef8e096afd1d12b06f081ef9_8b5cfdf7-0ac7-4ed9-a9bc-2057765b9daa.png)

![[QUIZ] Berdasarkan Karaktermu, Waspadai Gangguan Kepribadian Ini](https://image.idntimes.com/post/20260804/mwuep2hrca5w9qlbdxkci8rch_0a3c7963-22c0-42a8-afa2-de6c989c3307.png)












![[QUIZ] Apa Fitness Love Language Kamu? Jawab 1 Pertanyaan Ini](https://image.idntimes.com/post/20260715/upload_1f4fad55d736c0857d28717d4f5ad568_9f044a0b-3a74-43ca-bf9f-4bb408840b9c.png)
![[QUIZ] Dari Keluhan Kamu, Mungkin Ini Jenis Magnesium yang Cocok](https://image.idntimes.com/post/20260811/gambar-artikel-88_a0d2c204-98d6-41f0-954e-b4f448a7c9b1.png)