Referensi
Centers for Disease Control and Prevention, “Wildfire Smoke and Children,” diakses 17 Oktober 2026.
Maysa K. Walters and Tony J. Ward, “Respiratory Health Outcomes of Children and Adolescents Exposed to Wildfire Smoke: A Systematic Review,” International Journal of Environmental Health Research 36, no. 6 (2026): 1487–1501, https://doi.org/10.1080/09603123.2025.2579084.
World Health Organization, "Handbook IMCI: Integrated Management of Childhood Illness," diakses 17 Oktober 2026.
American Academy of Pediatrics, “RSV: When It’s More Than Just a Cold,” diakses 17 Oktober 2026.
Anak Belum Bisa Mengeluh saat Terpapar Asap, Kenali Tanda Bahaya Ini

Asap karhutla dapat memicu gangguan pernapasan. Bayi dan anak dengan kondisi kesehatan tertentu lebih rentan.
Pada anak yang belum bisa menjelaskan keluhan, amati napas, pola menyusu atau makan, aktivitas, serta perubahan dari kebiasaan biasanya.
Sesak berat, tarikan dinding dada, bibir membiru, kesadaran menurun, atau tidak mau minum perlu segera ditangani tenaga kesehatan.
Anak yang sudah bisa bicara bisa mengatakan dadanya terasa berat atau tenggorokannya perih saat terpapar asap. Bayi dan anak dengan hambatan komunikasi mungkin belum bisa menjelaskan apa yang dirasakan. Karena itu, orang tua perlu memperhatikan perubahan yang terlihat, terutama pada napas dan kebiasaan anak.
Asap kebakaran dapat menyebabkan batuk, iritasi mata, hidung, dan tenggorokan, mengi, serta sesak. Anak dengan asma atau kondisi kesehatan kronis bisa mengalami gangguan napas yang lebih berat. Studi menemukan hubungan antara paparan asap kebakaran dan memburuknya gejala pernapasan pada anak. Namun, gejala-gejala itu juga tidak selalu menunjukkan bahwa penyebabnya asap. Infeksi dan kondisi lain dapat menimbulkan keluhan serupa.
Table of Content
1. Kenali cara anak menunjukkan rasa tidak nyaman
Dari Satgas Penanggulangan Bencana Ikatan Doktar Anak Indonesia (IDAI), dr. Dimas Dwi Saputro, Sp.A, Subsp.Respi(K), mengingatkan bahwa tubuh anak masih berkembang dan kebutuhannya tidak sama dengan orang dewasa.
“Anak-anak itu tubuhnya kecil, tapi dia bukan miniatur orang dewasa. Tubuh anak memiliki sistem yang berkembang … terutama dalam hal ini adalah organ respiratori, atau organ parunya,” kata dr. Dimas dalam seminar media yang digelar secara daring pada Jumat (16/10).
Ia juga mengategorikan anak yang sulit menyampaikan keluhan sebagai kelompok yang perlu diperhatikan. Tanda yang muncul bisa berbeda-beda. Ada anak yang menangis atau rewel, ada yang menjadi lebih diam, menarik diri, atau berhenti bermain. Perubahan perilaku saja tidak cukup untuk memastikan anak mengalami gangguan napas, tetapi perlu dilihat bersama tanda fisik dan kebiasaan hariannya.
2. Pantau pola napas, terutama saat anak tenang
Jika anak belum bisa mengatakan bahwa ia sesak, amati apakah napasnya tampak lebih cepat atau lebih berat dari biasanya.
“Anak perlu kita pantau napasnya, karena frekuensi napas anak memang sejatinya lebih cepat dari orang dewasa,” kata dr. Dimas.
Jika mau menghitung, amati gerakan dada atau perut selama 1 menit penuh ketika anak tenang. Menangis atau baru selesai bergerak dapat membuat napas sementara lebih cepat.
Dalam panduan Integrated Management of Childhood Illness, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggunakan batas napas cepat sebanyak 50 kali atau lebih per menit untuk anak usia 2–11 bulan, dan 40 kali atau lebih per menit untuk anak usia 12–59 bulan yang batuk atau sulit bernapas. Namun, jika anak tampak kesulitan bernapas, jangan menunda pertolongan untuk menghitung napas anak.
3. Lihat apakah anak berusaha keras untuk bernapas

ilustrasi seorang ibu menggendong bayinya (pexels.com/Ron Lach) Tarikan dinding dada terjadi ketika bagian bawah tulang rusuk tampak masuk setiap kali anak menarik napas. Pada bayi, tanda lain dapat berupa cuping hidung yang kembang-kempis, kepala bergerak mengikuti napas, suara mengerang saat mengembuskan napas, atau napas berbunyi.
Tanda tersebut menunjukkan anak mungkin bekerja lebih keras untuk bernapas. Penyebabnya memang tidak selalu asap karhutla, tetapi tetap perlu diperhatikan. Bibir atau wajah yang tampak kebiruan, jeda napas, atau sesak berat merupakan tanda kegawatan.
4. Perhatikan perubahan saat menyusu, makan, dan beraktivitas
Bayi yang bernapas tidak nyaman mungkin menyusu lebih lambat atau berhenti lebih sering untuk mengambil napas. Pada anak yang lebih besar, perhatikan jika ia menolak makan atau minum, tampak sangat mengantuk, kurang responsif, atau sulit dibangunkan.
Dokter Dimas menekankan tanda kegawatan yang perlu dikenali keluarga. “Sesak berat, tarikan dada, bibir membiru, kesadaran menurun, atau tidak mampu minum,” katanya.
Orang tua dan pengasuh biasanya paling mengenal pola komunikasi dan aktivitas anak sehari-hari. Jadi, perubahan dari kebiasaan biasanya—misalnya anak yang biasanya aktif menjadi sangat lemas—layak diperhatikan, terutama jika muncul bersama napas cepat atau berat.
5. Kurangi paparan asap dan segera cari pertolongan jika ada tanda kegawatan
Jika asap masuk ke rumah, segera pindahkan anak ke ruangan dengan udara lebih bersih. Apabila lingkungan sekitar tidak aman, ikuti arahan evakuasi menuju lokasi yang udaranya lebih baik. Untuk anak dengan asma, ikuti rencana pengobatan dari dokter dan jangan memulai obat atau terapi sendiri di luar petunjuk tersebut.
Pantau kondisi anak selama berada di dalam rumah atau saat evakuasi.
“Usahakan kita selalu memantau kondisi anak kita, setiap kali saat evakuasi ataupun saat isolasi, setiap jamnya kita lihat; kalau misalnya risiko tinggi, maka lebih sering pantau anak-anak kita.”
Jika anak mengalami sesak berat, tarikan dada, bibir membiru, kesadaran menurun, atau tidak mau minum, segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat.





![[QUIZ] Pilih Warna Favoritmu, Kami Tebak Tingkat Anxiety Kamu](https://image.idntimes.com/post/20260714/upload_fb55bb03ef8e096afd1d12b06f081ef9_8b5cfdf7-0ac7-4ed9-a9bc-2057765b9daa.png)

![[QUIZ] Berdasarkan Karaktermu, Waspadai Gangguan Kepribadian Ini](https://image.idntimes.com/post/20260804/mwuep2hrca5w9qlbdxkci8rch_0a3c7963-22c0-42a8-afa2-de6c989c3307.png)









![[QUIZ] Apa Fitness Love Language Kamu? Jawab 1 Pertanyaan Ini](https://image.idntimes.com/post/20260715/upload_1f4fad55d736c0857d28717d4f5ad568_9f044a0b-3a74-43ca-bf9f-4bb408840b9c.png)
![[QUIZ] Dari Keluhan Kamu, Mungkin Ini Jenis Magnesium yang Cocok](https://image.idntimes.com/post/20260811/gambar-artikel-88_a0d2c204-98d6-41f0-954e-b4f448a7c9b1.png)
