Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Cychlorphine: Fakta Opioid Sintetis Baru yang Diwaspadai
ilustrasi cychlorphine (unsplash.com/James Yarema)
  • Cychlorphine adalah opioid sintetis baru dari kelompok orphine analogue.

  • Data tentang dosis, efek jangka panjang, dan tingkat bahayanya pada manusia masih terbatas.

  • Overdosis opioid dapat ditandai dengan napas sangat lambat, sulit dibangunkan, dan perubahan warna bibir atau kuku.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Nama cychlorphine muncul dalam laporan laboratorium forensik dan lembaga kesehatan karena ditemukan dalam pasokan narkotika ilegal serta sejumlah kasus overdosis. Zat ini juga dikenal sebagai N-propionitrile chlorphine atau cyanoethyl chlorphine.

Menurut United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC), cychlorphine termasuk kelompok orphine analogue, yaitu opioid sintetis yang secara struktur berkaitan dengan senyawa seperti brorphine, chlorphine, dan spirochlorphine. Zat ini berbeda secara struktur dari fentanyl maupun nitazene.

Cychlorphine diklasifikasikan sebagai zat psikoaktif baru dan bukan obat opioid yang digunakan dalam terapi medis standar. Kehadirannya menjadi perhatian karena zat baru dapat beredar sebelum informasi klinis, alat pemeriksaan, dan protokol penanganannya benar-benar tersedia.

Mengapa cychlorphine berisiko?

Cychlorphine bekerja sebagai agonis reseptor μ-opioid atau mu-opioid receptor. Aktivasi reseptor ini dapat menyebabkan rasa kantuk, penurunan kesadaran, perlambatan denyut jantung, dan penekanan sistem pernapasan.

Laporan European Union Drugs Agency (EUDA) menyebutkan, data laboratorium dan penelitian pada hewan mengindikasikan bahwa cychlorphine mungkin memiliki potensi lebih tinggi daripada fentanyl. Namun, informasi farmakologinya masih terbatas sehingga angka perbandingan tersebut belum dapat diterjemahkan langsung sebagai tingkat potensi pada manusia.

Risiko utama keracunan opioid adalah depresi pernapasan. Ketika napas melambat atau berhenti, otak kekurangan oksigen dan kematian dapat terjadi dalam waktu singkat.

Hingga Mei 2026, UNODC mencatat cychlorphine telah dilaporkan oleh 10 negara, terdeteksi dalam 182 penyitaan narkotika, dan dikaitkan dengan 78 kasus kematian berdasarkan pemeriksaan setelah kematian.

Bukti dari penelitian dan kasus klinis

ilustrasi pil berwarna putih (pexels.com/Anna Shvets)

Penelitian dalam jurnal Clinical Chemistry and Laboratory Medicine melaporkan identifikasi cychlorphine dalam penyitaan narkotika di Eropa. Pemeriksaan dilakukan dengan beberapa metode analisis laboratorium, termasuk teknik spektrometri massa dan resonansi magnetik nuklir.

Studi lainnya dalam Journal of Medical Toxicology mendokumentasikan kasus overdosis nonfatal dengan bukti cychlorphine dalam serum pasien. Perempuan berusia 20-an tersebut mengalami tidak sadar dan gangguan pernapasan setelah mengonsumsi tablet yang diyakini sebagai alprazolam. Kondisinya membaik setelah mendapat nalokson, obat yang dapat membalikkan efek opioid. Pemeriksaan urine awal tidak mendeteksi opioid atau fentanyl; cychlorphine baru teridentifikasi melalui pemeriksaan toksikologi lanjutan.

Temuan ini menunjukkan dua persoalan penting, bahwa tablet dengan label tertentu belum tentu berisi zat yang tercantum, dan pemeriksaan narkoba rutin dapat melewatkan opioid sintetis baru.

UNODC juga memperingatkan bahwa cychlorphine tidak diperkirakan terdeteksi oleh strip pemeriksaan fentanyl atau nitazene. Karena itu, hasil negatif pada alat tes tersebut tidak otomatis berarti suatu sampel bebas dari opioid.

Kenali tanda overdosis dan segera bertindak

Tanda overdosis opioid meliputi:

  • Sulit dibangunkan atau tidak merespons.

  • Napas sangat lambat, dangkal, atau berhenti.

  • Terdengar suara tersedak, mendengkur, atau berkumur.

  • Pupil mata mengecil.

  • bibir atau kuku berubah warna menjadi kebiruan atau keabu-abuan.

Jika kondisi tersebut muncul, perlakukan sebagai kegawatdaruratan. Berikan nalokson jika tersedia, hubungi layanan gawat darurat setempat, baringkan orang tersebut dalam posisi miring, dan jangan meninggalkannya sendirian.

Nalokson dapat membantu memulihkan pernapasan, tetapi pertolongan medis tetap diperlukan karena efek opioid dapat bertahan atau muncul kembali.

Referensi

United Nations Office on Drugs and Crime, “May 2026 – The Emerging Threat of Cychlorphine: A New Synthetic Opioid Raising Concerns Globally for Public Health,” diakses September 2026.

European Union Drugs Agency, EUDA Initial Report on the New Psychoactive Substance: Cychlorphine (Luxembourg: Publications Office of the European Union, 2026), diakses September 2026.

United Nations Office on Drugs and Crime, “May 2026 – The Emerging Threat of Cychlorphine,” diakses September 2026.

Paméla Dugues et al., “Multi-Analytical Identification of the Synthetic Opioids Cychlorphine and Methiodone (IC-26) in Drug Seizures: First Detection in Europe,” Clinical Chemistry and Laboratory Medicine 64, no. 6 (2026): 1413–1424, https://doi.org/10.1515/cclm-2025-1428.

Rebecca Kusko et al., “An Emerging Synthetic Opioid in the Drug Supply: A Case of Opioid Overdose with Biological Confirmation of Cychlorphine,” Journal of Medical Toxicology (2026), https://doi.org/10.1007/s13181-026-01146-4.

United Nations Office on Drugs and Crime, “Increasing Nitazene and Orphine Analogues (Synthetic Opioids) and the Implications for the Use of Test Strips,” diakses September 2026.

Centers for Disease Control and Prevention, “What to Do If You Think Someone Is Overdosing,” diakses September 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article