Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Fakta Salmonellosis, Infeksi akibat Bakteri Salmonella
ilustrasi salmonellosis, infeksi akibat bakteri Salmonella (IDN Times/Novaya Siantita)
  • Salmonellosis dapat menular melalui makanan, air, atau kontak dengan hewan yang membawa bakteri.

  • Gejala biasanya muncul dalam 6 jam hingga 6 hari dan berlangsung sekitar 4–7 hari.

  • Sebagian besar pasien cukup mendapat penggantian cairan; antibiotik diperlukan pada kondisi tertentu berdasarkan penilaian dokter.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sakit perut, demam, lalu bolak-balik ke toilet bisa membuat aktivitas sehari-hari terhenti. Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah salmonellosis, yaitu infeksi akibat bakteri Salmonella. Meski sering dikaitkan dengan makanan tercemar, teatpi penularannya juga dapat melibatkan air dan hewan.

Artikel ini membahas infeksi Salmonella nontifoidal, yang umumnya menyebabkan diare, berbeda dari demam tifoid. Kebanyakan pasien pulih, tetapi dehidrasi dan penyebaran infeksi perlu diwaspadai.

1. Penularannya tidak hanya lewat telur dan ayam

Telur, daging, serta susu yang tercemar dapat menjadi sumber infeksi. Namun, sayur dan buah juga bisa terkontaminasi, misalnya melalui kontak dengan kotoran hewan. Bakteri masuk ke tubuh ketika tertelan melalui makanan, air, atau tangan yang terkontaminasi.

Penularan juga dapat terjadi setelah menyentuh hewan pembawa bakteri, termasuk reptil, lalu menyentuh mulut atau makanan tanpa mencuci tangan. Hewan tersebut bisa tampak sehat. Karena itu, kebersihan tangan penting bahkan setelah memegang hewan peliharaan.

2. Gejala tidak selalu langsung muncul setelah makan

Gejala biasanya muncul 6 jam hingga 6 hari setelah infeksi dan berlangsung sekitar 4–7 hari. Keluhannya meliputi diare, kram perut, dan demam; sebagian orang juga mengalami mual, muntah, atau sakit kepala. Diare dapat disertai darah atau lendir.

Jeda waktu ini berarti makanan terakhir yang dimakan belum tentu menjadi sumber penularan. Gejala saja juga tidak cukup untuk memastikan salmonellosis. Pemeriksaan tinja, terutama kultur untuk mengidentifikasi bakteri, bisa diperlukan.

3. Penggantian cairan lebih utama daripada langsung mencari antibiotik

ilustrasi bakteri Salmonella (pixabay.com/WikiImages)

Diare dan muntah membuat tubuh kehilangan cairan serta elektrolit, yaitu mineral yang membantu tubuh bekerja normal. Oralit dapat membantu mengganti kehilangan tersebut. Konsultasikan penggunaan obat penghenti diare, terutama jika ada gejala demam atau tinja berdarah.

Menurut sebuah tinjauan sistematis yang mencakup 12 uji klinis dengan 767 peserta, para peneliti tidak menemukan manfaat antibiotik pada diare akibat Salmonella nontifoidal pada orang yang sebelumnya sehat. Namun, bukti untuk pasien sangat muda, sangat tua, atau dengan penyakit berat masih tidak pasti.

Antibiotik tetap dapat diperlukan pada infeksi berat atau pasien berisiko mengalami penyebaran infeksi. Dokter perlu menentukan kebutuhan serta pilihan obatnya.

4. Pada sebagian orang, infeksi bisa meluas ke luar usus

Anak kecil, lansia, dan orang dengan daya tahan tubuh lemah lebih rentan mengalami infeksi invasif, yaitu ketika bakteri masuk ke darah atau bagian tubuh lain.

Komplikasinya dapat berupa infeksi darah, selaput otak, tulang, atau sendi. Sebagian pasien juga mengalami artritis reaktif, berupa nyeri dan peradangan sendi setelah infeksi.

Hubungi dokter jika diare atau muntah berlangsung lebih dari dua hari, tinja berdarah, demam lebih dari sekitar 38,9 derajat Celcius, atau muncul tanda dehidrasi seperti jarang kencing, mulut kering, dan pusing.

Anak kecil dapat mengalami dehidrasi dengan cepat, jadi jangan menunggu dua hari jika tanda tersebut sudah muncul.

5. Pencegahan dimulai dari dapur dan kebiasaan mencuci tangan

Terapkan empat langkah keamanan pangan:

  • Bersihkan tangan dan peralatan.

  • Pisahkan bahan mentah dari makanan siap santap.

  • Masak hingga matang dan segera dinginkan makanan yang mudah rusak.

  • Pilih susu pasteurisasi dan cuci tangan setelah dari toilet atau menyentuh hewan.

Saat sakit, hindari menyiapkan makanan untuk orang lain. Tetap disiplin mencuci tangan setelah gejala membaik karena bakteri dapat masih keluar melalui tinja selama beberapa minggu.

Referensi

World Health Organization, “Salmonella (Non-Typhoidal),” diakses September 2026.

Centers for Disease Control and Prevention, “Clinical Overview of Salmonellosis,” diakses September 2026.

Centers for Disease Control and Prevention, “Symptoms of Salmonella Infection,” diakses September 2026.

Centers for Disease Control and Prevention, “Treatment of Salmonella Infection,” diakses September 2026.

Ifeanyi A. Onwuezobe, Philip O. Oshun, dan Chibuzo C. Odigwe, “Antimicrobials for Treating Symptomatic Non-Typhoidal Salmonella Infection,” Cochrane Database of Systematic Reviews, no. 11 (2012): CD001167, https://doi.org/10.1002/14651858.CD001167.pub2.

Centers for Disease Control and Prevention, “Preventing Salmonella Infection,” diakses September 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article