Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IDAI: Anak di Bawah 3 Tahun Belum Siap Naik Gunung
ilustrasi mendaki gunung membawa bayi (pexels.com/Josh Willink)
  • IDAI menegaskan anak di bawah tiga tahun tidak disarankan ikut pendakian gunung karena risiko tinggi terhadap hipotermia, dehidrasi, dan kesulitan evakuasi di medan ekstrem.
  • Secara fisiologis, anak kecil lebih cepat kehilangan panas dan cairan tubuh dibanding orang dewasa, sehingga rentan terhadap perubahan suhu drastis di lingkungan pegunungan.
  • Orang tua dianjurkan mengenalkan alam secara bertahap melalui aktivitas ringan dengan persiapan matang, memastikan keamanan, cuaca bersahabat, serta memahami tanda bahaya dan penanganan darurat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Pandangan IDAI menunjukkan perhatian mendalam terhadap keselamatan dan kesejahteraan anak, dengan menekankan pentingnya kesiapan dan tahapan yang sesuai sebelum mengenalkan alam. Pendekatan “start slow, go slow” memberi ruang bagi orang tua untuk membangun pengalaman positif bersama anak secara aman, sambil memperkuat kesadaran akan tanggung jawab dan pengetahuan dasar penanganan darurat.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kaki kecil itu mungkin terlihat kuat mengikuti jejak orang tuanya, tetapi tubuh anak bekerja dengan cara yang sangat berbeda. Dalam aktivitas ekstrem seperti naik gunung, anak—terutama yang berusia di bawah tiga tahun—memiliki risiko jauh lebih besar terhadap kehilangan panas, dehidrasi, hingga kondisi darurat seperti hipotermia.

Alasan-alasan inilah yang menjadi alasan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tidak merekomendasikan membawa anak usia di bawah 3 tahun ke aktivitas pendakian gunung. Bukan semata soal kemampuan berjalan, tetapi tentang keterbatasan fisiologis anak yang membuat mereka jauh lebih rentan dibanding orang dewasa, terutama di lingkungan dengan cuaca ekstrem dan akses evakuasi yang terbatas.

Anak bukan orang dewasa versi kecil

Kerentanan ini bukan tanpa alasan. Secara fisiologis, anak bukanlah orang dewasa dalam versi kecil. Mereka lebih cepat kehilangan panas tubuh, memiliki frekuensi napas yang lebih tinggi, serta lebih mudah mengalami kehilangan cairan, baik melalui keringat maupun pernapasan.

Dalam kondisi lingkungan pegunungan yang suhunya bisa berubah drastis, kondisi ini membuat anak jauh lebih rentan mengalami dehidrasi dan hipotermia dalam waktu singkat.

Selain itu, faktor medan juga menjadi pertimbangan penting. Pendakian gunung umumnya memiliki jalur panjang, cuaca yang tidak menentu, hingga risiko hujan dan angin kencang. Dalam situasi darurat, proses evakuasi pun tidak selalu mudah dan cepat.

"Dari sisi anak, prinsip utamanya adalah safety first. Anak sangat mudah kehilangan panas dibandingkan orang dewasa. Apalagi jika naik gunung dengan jarak yang jauh, ada potensi hujan, serta proses evakuasi yang lama. Hal-hal ini harus benar-benar dipertimbangkan sebelumnya. Akan lebih aman jika mengajak batita atau balita hanya ke aktivitas alam yang ringan," kata Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, SpA, Subsp.Kardio(K) di Jakarta, Senin (13/04/2026).

Bagi anak kecil, terutama di bawah usia 3 tahun, keterlambatan penanganan bisa berakibat fatal. Karena itu, IDAI menekankan bahwa risiko ini harus dihitung secara matang sebelum orang tua memutuskan membawa anak ke aktivitas tersebut.

Pendekatan alam dilakukan secara bertahap

ilustrasi mendaki gunung membawa anak (pexels.com/JoshWillink)

Orang tua yang ingin mengenalkan anak pada alam, pendekatannya harus bertahap. Aktivitas seperti hiking ringan di jalur yang aman dan mudah dijangkau menjadi pilihan yang lebih disarankan.

"Prinsipnya adalah start slow, go slow. Mulai dari aktivitas sederhana, lalu perlahan menyesuaikan dengan kemampuan dan respons anak. Lingkungan juga harus dipastikan aman, dengan akses evakuasi yang jelas serta kondisi cuaca yang bersahabat," ujar Ketua Unit Kerja Koordinasi Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI, dr. Yogi Prawira, SpA, Subsp.E.Τ.Ι.Α(Κ).

Persiapan pun tidak bisa dianggap sepele. Anak perlu menggunakan pakaian berlapis untuk menjaga suhu tubuh, dengan lapisan luar yang tahan air. Kebutuhan cairan harus dipenuhi secara optimal, dan orang tua perlu memahami tanda-tanda awal dehidrasi maupun hipotermia.

Bahkan, pengetahuan dasar penanganan darurat seperti kontak skin-to-skin saat anak mengalami hipotermia menjadi hal yang penting untuk diketahui.

Tidak ada batasan usia

Terkait usia ideal membawa anak ke gunung, IDAI menyebut tidak ada angka pasti karena banyak faktor yang memengaruhi, terutama kesiapan. Namun, anak di bawah 3 tahun dikatakan sangat rentan, khususnya terhadap hipotermia.

Hal terpenting adalah tahapan dan kesiapan. Orang tua yang berpengalaman biasanya sudah memahami langkah-langkah preventif. Setiap anak juga diketahui berbeda karena ada yang lebih rentan sehingga perlu menunggu usia yang lebih matang dan anak yang sudah siap.

Meski tidak ada batasan usia mutlak, tetapi yang perlu digarisbawahi adalah anak di bawah 3 tahun memang sangat rentan, sehingga persiapannya harus jauh lebih matang. Jika persiapan tersebut tidak bisa dipenuhi, sebaiknya ditunda terlebih dahulu mengajak anak naik gunung.

Pada akhirnya, keputusan membawa anak ke alam bebas bukan hanya soal pengalaman atau keinginan orang tua, melainkan tentang kesiapan menyeluruh—baik dari sisi anak, lingkungan, maupun kemampuan orang tua dalam menghadapi situasi darurat. Tanpa itu semua, risiko yang dihadapi anak bisa jauh lebih besar dibanding manfaat yang ingin didapatkan.

Editorial Team