Comscore Tracker

Polihidramnion: Kondisi Terlalu Banyak Air Ketuban selama Kehamilan

Salah satu penyebabnya karena tekanan dalam rahim

Air ketuban merupakan cairan yang berfungsi melindungi tumbuh kembang janin dalam rahim ibu. Produksi ketuban yang berlebihan harus diwaspadai. Pasalnya, ada kemungkinan ibu hamil mengalami polihidramnion.

Meskipun pada kasus polihidramnion ringan cenderung tidak menunjukkan gejala signifikan, tetapi kasus yang lebih parah dapat menyebabkan ketidaknyamanan, sehingga perlu intervensi medis.

Untuk mengetahui penyebab, gejala, risiko komplikasi, diagnosis, dan penanganan polihidramnion, simak ulasannya di bawah ini.

1. Cairan ketuban yang berlebihan merupakan indikasi polihidramnion

Polihidramnion: Kondisi Terlalu Banyak Air Ketuban selama Kehamilanunsplash.com/Anastasiia Chepinska

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, polihidramnion adalah kondisi terjadinya akumulasi ketuban yang berlebihan di dalam rahim ibu hamil. Angka kejadian polihidramnion dianggap langka, diperkirakan sebanyak 1-2 persen.

Umumnya polihidramnion terjadi setelah 16 minggu kehamilan. Meski demikian, sering juga diidentifikasi pada kehamilan minggu-minggu berikutnya.

2. Gejala polihidramnion

Polihidramnion: Kondisi Terlalu Banyak Air Ketuban selama Kehamilanfreepik.com/serhii_bobyk

Ibu hamil yang mengalami polihidramnion sering kali tidak menunjukkan tanda atau gejala yang dianggap berbahaya.

Pembesaran perut yang dirasa tidak sesuai dengan usia kandungan menjadi pertanda yang perlu diwaspadai, karena bisa menunjukkan adanya produksi ketuban berlebih.

Melansir berbagai sumber, gejala polihidramnion yang dapat terjadi ialah:

  • Sesak napas
  • Kontraksi dini
  • Nyeri perut
  • Malposisi janin
  • Pembengkakan kaki
  • Sembelit
  • Mag

Dalam kasus yang jarang, cairan dapat menumpuk di sekitar janin dengan cepat. Meskipun gejala yang diperlihatkan sering dianggap sebagai masalah umum dalam kehamilan, tetapi ada baiknya ibu hamil memeriksakan kandungannya secara berkala, termasuk tentang gejala-gejala yang disebutkan di atas.

Baca Juga: Amniosentesis, Pemeriksaan Prenatal Menggunakan Sampel Air Ketuban

3. Penyebab polihidramnion salah satunya karena masalah plasenta

Polihidramnion: Kondisi Terlalu Banyak Air Ketuban selama Kehamilanunsplash.com/Sharon McCutcheon

Ibu hamil yang mengalami polihidramnion dengan kasus ringan kemungkinan besar mengalami gejala karena terjadi peningkatan jumlah cairan di dalam rahim.

Pada kasus polihidramnion yang sedang atau berat, penyebabnya bisa berupa:

  • Cacat lahir khususnya yang mempengaruhi kemampuan menelan
  • Ibu mengalami diabetes saat hamil atau sebelumnya
  • Komplikasi kehamilan pada janin kembar identik atau dikenal dengan twin-to-twin transfusion syndrome (TTTS)
  • Perbedaan golongan darah rhesus antara ibu dan bayi yang dikandung
  • Terdapat masalah pada perut bayi
  • Bayi dalam kandungan mengalami infeksi
  • Masalah detak jantung bayi
  • Masalah plasenta

Terkadang dokter juga tidak dapat mengidentifikasi penyebab polihidramnion secara pasti. Dalam kasus ini, sering digambarkan dengan penyebab idiopatik.

4. Polihidramnion dapat meningkatkan risiko kelahiran prematur

Polihidramnion: Kondisi Terlalu Banyak Air Ketuban selama Kehamilanunsplash.com/Aditya Romansa

Secara umum, semakin parah kasus polihidramnion, semakin tinggi risiko komplikasi baik selama kehamilan atau proses persalinan. Beberapa risiko polihidramnion tingkat lanjut yang dapat terjadi yakni:

  • Peningkatan risiko bayi lahir sungsang
  • Prolaps tali pusat atau tali pusat yang terlepas dari rahim dan masuk dalam vagina sebelum bayi lahir
  • Ketuban pecah dini yang dapat berimbas pada persalinan prematur
  • Perdarahan setelah lahir
  • Solusio plasenta atau komplikasi kehamilan ketika plasenta terlepas dari dinding rahim sebelum proses persalinan berlangsung

5. Diagnosis dan pengobatan polihidramnion

Polihidramnion: Kondisi Terlalu Banyak Air Ketuban selama Kehamilanunsplash.com/Volodymyr Hryshchenko

Untuk menggalakkan proses diagnosis terkait polihidramnion, dokter biasanya akan melakukan prosedur medis menggunakan ultrasonografi (USG) untuk memeriksa jumlah cairan ketuban di dalam rahim dan mencari penyebab lain (misalnya kelainan pada janin).

Sedangkan tes lain yang mungkin akan direkomendasikan dokter adalah tes darah untuk memeriksa kondisi ibu hamil dan amniosentesis atau mengumpulkan sampel air ketuban untuk dianalisis terkait masalah genetik.

Adapun pengobatan yang dapat ditempuh salah satunya dengan mengurangi jumlah cairan ketuban dalam rahim dengan metode amniosentesis reduksi dan pemberian obat-obatan tertentu. 

Ibu hamil dengan polihidramnion dapat mengalami kontraksi dini hingga komplikasi yang dapat menyerang janin. Untuk itu, penting melakukan pemeriksaan rutin agar dapat mengetahui perkembangan kesehatan janin dalam kandungan. Ibu hamil juga wajib menerapkan pola hidup sehat dengan makan makanan yang bergizi dan aktivitas fisik secukupnya. 

Baca Juga: 5 Ciri Hamil Anak Laki-Laki, Calon Bunda Wajib Tahu

Indriyani Photo Verified Writer Indriyani

Riset, data, dan kepenulisan ilmiah adalah hal yang menyenangkan untuk ditelisik. Kecintaan terhadap dunia kepenulisan ditorehkannya melalui bait-bait alinea. Business inquiries: indriyaniann124@gmail.com

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Nurulia R. Fitri

Berita Terkini Lainnya