Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Anak-Anak Lebih Rentan Terkena Campak?
ilustrasi campak (IDN Times/NRF)
  • Kasus campak kembali meningkat secara global akibat turunnya cakupan imunisasi dan gangguan layanan kesehatan, membuat anak-anak di bawah 5 tahun menjadi kelompok paling rentan.

  • Anak lebih mudah terinfeksi karena sistem imun belum matang, kekurangan nutrisi seperti vitamin A, serta tubuh yang lebih rapuh menghadapi komplikasi berat seperti pneumonia dan ensefalitis.

  • Penyebaran cepat di lingkungan anak dan risiko jangka panjang seperti SSPE menegaskan pentingnya vaksinasi MMR untuk perlindungan maksimal terhadap campak.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Berkat vaksinasi masif selama beberapa dekade, banyak negara berhasil menekan kasus campak hingga titik terendah, bahkan beberapa wilayah sempat mendeklarasikan eliminasi. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kasus campak kembali meningkat di berbagai belahan dunia. Penurunan cakupan imunisasi, gangguan layanan kesehatan saat pandemi, serta kesenjangan akses vaksin membuat virus ini menemukan celah untuk menyebar lagi.

Artinya, campak masih menjadi ancaman serius, terutama bagi anak-anak di bawah usia 5 tahun. Secara global, kelompok usia inilah yang paling berisiko mengalami komplikasi berat, mulai dari pneumonia, diare berat, hingga ensefalitis, bahkan kematian akibat campak.

Lalu kenapa anak-anak lebih rentan terkena campak dibanding orang dewasa? Yuk bahas satu per satu!

1. Sistem imun anak belum matang

Salah satu alasan utama kenapa anak-anak lebih rentan terkena campak adalah karena sistem kekebalan tubuh mereka masih dalam tahap perkembangan. Bayi memang mendapatkan antibodi sementara dari ibunya selama dalam kandungan. Namun, perlindungan ini biasanya mulai menurun saat usia 6–12 bulan. Di fase inilah muncul celah kerentanan, ketika antibodi dari ibu sudah berkurang sementara sistem imun anak belum sepenuhnya matang.

Virus campak berkembang sangat cepat dan menyerang sel imun seperti sel T dan sel B. Pada orang dewasa, sistem imun yang sudah matang mampu merespons lebih cepat. Namun, pada anak-anak, respons imun yang belum optimal membuat virus lebih mudah menyebar dan menyebabkan gejala berat.

2. Kekurangan nutrisi memperparah risiko

Faktor gizi juga berperan besar. Banyak anak, terutama di negara berkembang, mengalami kekurangan nutrisi penting seperti vitamin A. Padahal, vitamin A sangat penting untuk menjaga kesehatan jaringan mata, saluran pernapasan, dan sistem kekebalan tubuh.

Campakbisa merusak lapisan pelindung di mata dan paru-paru. Jika anak sudah kekurangan vitamin A, kerusakan ini bisa makin parah dan memicu komplikasi seperti pneumonia bahkan kebutaan.

Selain itu, demam tinggi dan diare yang sering menyertai campak membuat anak lebih cepat dehidrasi. Tubuh mereka yang lebih kecil juga lebih mudah kehilangan cairan dibanding orang dewasa, sehingga kondisi bisa memburuk dengan cepat.

3. Tubuh anak lebih rentan mengalami komplikasi

ilustrasi anak yang terinfeksi campak (unsplash.com/Jan Kopřiva)

Secara fisik, tubuh anak memang lebih rapuh menghadapi infeksi berat. Saluran napas mereka lebih kecil, sehingga ketika terjadi peradangan atau produksi lendir berlebih, gangguan pernapasan bisa lebih serius. Ditambah lagi, metabolisme anak yang lebih tinggi membuat mereka lebih cepat mengalami kelelahan saat demam.

Yang lebih mengkhawatirkan, virus campak bisa menekan sistem kekebalan tubuh selama beberapa minggu setelah infeksi. Kondisi ini membuka peluang terjadinya infeksi bakteri sekunder seperti pneumonia, yang menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi pada anak yang sakit campak. Komplikasi lain yang jarang tetapi sangat serius adalah ensefalitis, yaitu peradangan otak yang bisa menyebabkan kerusakan permanen.

4. Lingkungan anak memudahkan penyebaran

Anak-anak banyak menghabiskan waktu di tempat seperti tempat penitipan anak, PAUD, dan sekolah. Lingkungan ini menjadi lokasi ideal penyebaran virus.

Virus campak sangat menular dan dapat bertahan di udara hingga dua jam setelah penderita batuk atau bersin. Sekitar 90 persen anak yang belum divaksinasi dan terpapar virus ini akan tertular.

Perlindungan komunitas atau herd immunity baru efektif jika sekitar 95 persen populasi telah mendapatkan vaksin. Jika cakupan imunisasi menurun, bayi yang belum cukup usia untuk mendapatkan vaksin pertama (biasanya pada usia 9–12 bulan, tergantung program imunisasi) menjadi sangat rentan.

5. Dampaknya bisa jangka panjang

Bahaya campak tidak selalu berhenti setelah anak sembuh. Dalam kasus yang sangat jarang, campak bisa menyebabkan SSPE (subacute sclerosing panencephalitis), yaitu penyakit otak progresif yang fatal dan muncul bertahun-tahun setelah infeksi awal.

Penelitian juga menunjukkan bahwa campak dapat “menghapus” sebagian memori imun tubuh. Artinya, setelah sembuh dari campak, anak bisa menjadi lebih rentan terhadap infeksi lain yang sebelumnya sudah pernah dilawan tubuhnya. Inilah mengapa pencegahan jauh lebih penting daripada pengobatan.

Kabar baiknya, campak bisa dicegah. Vaksin MMR terbukti sangat efektif. Dua dosis vaksin MMR mampu mencegah sekitar 99 persen kasus campak dan memberikan perlindungan jangka panjang. Dengan imunisasi yang lengkap, bukan hanya anak sendiri yang terlindungi, tetapi juga bayi dan individu lain yang belum bisa divaksin.

Campak bukan sekadar ruam merah dan demam biasa. Bagi anak-anak, penyakit ini bisa menjadi sangat serius. Jadi, memastikan imunisasi lengkap adalah salah satu keputusan terpenting yang bisa dilakukan orang tua untuk melindungi buah hati.

Referensi

Barclay, A. J., Foster, A., & Sommer, A. (1987). "Vitamin A supplements and mortality related to measles: a randomised clinical trial." BMJ, 294(6567), 294–296. https://doi.org/10.1136/bmj.294.6567.294.

"About Measles." Centers for Disease Control and Prevention. Diakses pada Februari 2026.

"Measles Fact Sheet." World Health Organization. Diakses pada Februari 2026.

Mina, M. J., Metcalf, C. J. E., De Swart, R. L., Osterhaus, A. D. M. E., & Grenfell, B. T. (2015). "Long-term measles-induced immunomodulation increases overall childhood infectious disease mortality." Science, 348(6235), 694–699. https://doi.org/10.1126/science.aaa3662.

Moss, W. J. (2017). "Measles." The Lancet, 390(10111), 2490–2502. https://doi.org/10.1016/s0140-6736(17)31463-0

"Measles Patients are Mostly Children. Here's Why." PBS News. Diakses pada Februari 2026.

Editorial Team