Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Lebaran Bisa Memicu Stres Tanpa Disadari?

Kenapa Lebaran Bisa Memicu Stres Tanpa Disadari?
ilustrasi stres (vecteezy.com/Thatphichai Yodsri)
Intinya Sih
  • Menjelang Lebaran, gangguan kecemasan meningkat hingga 27 persen akibat tekanan sosial, tuntutan finansial, dan dinamika keluarga yang kompleks.

  • Pertanyaan sensitif saat kumpul keluarga serta pengeluaran besar untuk mudik dan perayaan memicu stres emosional dan finansial bagi banyak orang.

  • Penting untuk menetapkan batas psikologis agar tetap sehat mental dengan menyeimbangkan waktu bersosialisasi dan waktu untuk diri sendiri.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Di balik tawa, obrolan, dan pelukan saat Lebaran, ada banyak orang yang menahan napas. Untuk banyak orang, momen yang seharusnya hangat itu justru memicu kecemasan. Bisa karena ekspektasi keluarga, beban biaya, atau luka lama yang tiba‑tiba muncul kembali.

Indonesia Health Insights Q1 2026 yang dirilis Halodoc mencatat kenaikan gangguan kecemasan hingga 27 persen menjelang Idulfitri. Angka ini merupakan hasil dari kombinasi tekanan sosial, tuntutan finansial, hingga dinamika keluarga yang kompleks.

Table of Content

1. Tekanan sosial yang membebani

1. Tekanan sosial yang membebani

Salah satu pemicu utama stres saat Lebaran adalah ekspektasi sosial yang tinggi. Momen kumpul keluarga besar sering kali menuntut seseorang untuk terlihat baik-baik saja, walaupun aslinya kondisi mental tidak demikian.

Pertanyaan-pertanyaan seperti: “Kapan menikah?”, “Kerja apa/di mana?”, “Kok belum punya anak?”, terdengar biasa, tetapi ini dapat memicu tekanan psikologis, terutama jika menyentuh area sensitif dalam hidup seseorang. Dalam psikologi, ini disebut sebagai social evaluative stress, yaitu stres yang muncul karena merasa dinilai oleh orang lain. Akibatnya, seseorang bisa mengalami kelelahan emosional karena harus memakai "topeng sosial” sepanjang acara.

2. Pengeluaran yang besar

Ilustrasi suasana Lebaran.
ilustrasi suasana Lebaran (pexels.com/RDNE Stock project)

Tradisi mudik juga menjadi faktor stres tersendiri. Perjalanan panjang, kelelahan fisik, hingga kepadatan lalu lintas dapat memicu stres akut. Namun, yang lebih kompleks adalah dinamika keluarga. Bertemu kembali dengan anggota keluarga dalam waktu lama bisa membuka kembali konflik lama atau ketegangan yang sebelumnya terpendam.

Gejala yang sering muncul antara lain:

  • Sulit tidur.
  • Jantung berdebar.
  • Dada terasa sesak.
  • Mudah tersinggung.

Ini menunjukkan bahwa tubuh merespons situasi sosial sebagai ancaman, walaupun secara sadar kamu menganggapnya sebagai momen bahagia.

Lebaran juga identik dengan pengeluaran besar, selain untuk mudik, baju baru dan THR. Belum lagi hidangan seperti opor, rendang, dan aneka kue/camilan.

Bagi sebagian orang, terutama dengan kondisi ekonomi terbatas, ini bisa memicu financial stress. Tekanan untuk ikut standar sosial sering kali membuat seseorang mengeluarkan biaya di luar kemampuan. Dalam jangka pendek, ini memicu kecemasan. Dalam jangka panjang, bisa berdampak pada kesehatan mental dan kestabilan finansial.

3. Tips tetap sehat mental selama masa Lebaran

Psikolog sekaligus dosen Fakultas Ekologi Manusia IPB University, Nur Islamiah, MPsi, PhD, dalam situs resmi menyebut, salah satu langkah penting adalah mengatur ekspektasi diri dengan menetapkan batas psikologis atau psychological boundaries

Ketika suasana Lebaran terasa sangat ramai, penting untuk mengenali batas diri kamu. Misalnya dengan memilih percakapan yang ingin diikuti atau mengambil waktu sejenak untuk menenangkan diri tanpa merasa bersalah.

Menetapkan batas waktu dan energi untuk bersosialisasi bukan berarti tidak menghargai orang lain, melainkan bentuk upaya menjaga kesehatan mental. Ia menekankan pentingnya memberi ruang bagi diri sendiri di tengah aktivitas silaturahmi untuk menjaga kapasitas emosional agar tidak mudah merasa lelah atau tersinggung.

Keseimbangan antara kebersamaan dengan keluarga dan waktu untuk diri sendiri sangat penting. Salah satu cara sederhana adalah menyempatkan waktu sejenak untuk diri sendiri, seperti bangun lebih pagi menikmati ketenangan atau beristirahat beberapa menit di kamar.

Lebaran memang identik dengan kebahagiaan, tetapi di saat yang sama juga bisa menjadi sumber stres. Tekanan sosial, beban finansial, hingga dinamika keluarga berperan besar dalam memicu kondisi ini. Menyadari bahwa stres saat Lebaran itu valid menjadi langkah awal untuk mengelolanya dengan lebih sehat.

Referensi

"Indonesia Health Insights Q1 2026". Halodoc. Diakses Maret 2026.

"Navigating Emotional Challenges and Depression During Eid". Muslim Pro. Diakses Maret 2026.

"Managing stress during Eid-ul-Fitr 2024: 8 tips to avoid last-minute rush and maintain mental well-being". Hindustan Times. Diakses Maret 2026.

"The Essence of Eid Al-Fitr". MindTales. Diakses Maret 2026.

"Tetap Sehat Mental Saat Hari Raya, Ini Tips dari Psikolog IPB University". IPB University. Diakses Maret 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More