Bagi banyak pasien, tantangan dalam pemeriksaan payudara bukan pemeriksaannya, melainkan proses yang harus dilalui dari satu tahap ke tahap berikutnya. Di rumah sakit pada umumnya, setiap departemen menangani berbagai kebutuhan medis, bukan hanya kondisi payudara.
Departemen radiologi misalnya, melayani pemeriksaan untuk pasien dengan berbagai kondisi di seluruh rumah sakit, sehingga jadwal pemeriksaan seperti mamografi, USG atau MRI mungkin perlu menunggu ketersediaan slot.
Hal yang sama dapat terjadi ketika pasien memerlukan pemeriksaan lanjutan, seperti biopsi, maupun konsultasi dengan dokter spesialis, yang masing-masing mengikuti alur dan jadwal layanan tersendiri.
Bagi pasien, rangkaian proses ini dapat terasa panjang dan terpisah-pisah sebelum mendapatkan gambaran yang lengkap. Ketidakpastian itu memiliki biaya yang jarang dihitung. Secara medis, diagnosis yang tersusun terpisah-pisah cenderung kurang presisi dibandingkan diagnosis yang ditinjau bersama oleh satu tim.
Senior konsultan dan dokter spesialis bedah payudara di Solis Breast Care & Surgery Centre, Singapura, dr. Lim Sue Zann, menyebut bahwa banyak pasien datang dengan kekhawatiran akan kabar terburuk. Namun, kemungkinan kabar terburuk ini sering kali diikuti oleh tantangan lain yakni ketidakpastian.
"Tidak adanya kepastian mengenai apa yang akan terjadi selanjutnya dapat membuat situasi yang sudah sulit menjadi makin berat,” ujarnya dalam acara 'Memahami Pentingnya Akurasi dalam Kanker Payudara' di Jakarta, pada Jumat (28/08/2026).
Pertanyaannya bukan hanya apakah diagnosisnya tepat, tetapi berapa lama pasien harus menunggu untuk mengetahuinya, berapa kali ia harus mengulang riwayat kesehatannya dan apakah para dokter yang mengambil keputusan benar-benar telah berbicara satu sama lain.