Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Organ Babi untuk Manusia, Seberapa Dekat Menjadi Terapi?
ilustrasi babi (unsplash.com/@sadmax)
  • Percobaan memindahkan organ hewan ke manusia telah dilakukan sejak awal 1900-an, tetapi lama terhambat oleh penolakan sistem imun.

  • Rekayasa genetika membuat organ babi lebih cocok dengan tubuh manusia, tetapi belum menghilangkan risiko penolakan, infeksi, dan kerusakan pembuluh darah.

  • Per September 2026, xenotransplantasi telah memasuki uji klinis. Namun, organ babi masih bersifat eksperimental dan belum menjadi terapi rutin.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Selama 271 hari, Tim Andrews hidup tanpa dialisis berkat ginjal dari babi yang telah diedit secara genetik. Ketika fungsi organ itu akhirnya menurun, ginjal tersebut diangkat. Delapan puluh dua hari kemudian, Andrews menerima ginjal manusia yang langsung berfungsi.

Kasus yang dilaporkan dalam The Lancet pada September 2026 ini menjadi bukti pertama bahwa ginjal babi dapat dipakai sebagai “jembatan”, artinya menopang pasien sambil menunggu organ manusia, tanpa menutup kesempatan menjalani transplantasi biasa setelahnya.

Pencapaian tersebut merupakan hasil perjalanan yang dimulai lebih dari satu abad sebelumnya.

Percobaan awal berakhir dalam hitungan hari

Xenotransplantasi adalah pemindahan sel, jaringan, atau organ dari satu spesies ke spesies lain. Dalam konteks medis, istilah ini biasanya mengacu pada penggunaan organ hewan untuk manusia.

Pada tahun 1906, ahli bedah Prancis Mathieu Jaboulay menanamkan ginjal babi dan kambing pada dua pasien dengan gagal ginjal. Organ dipasang pada pembuluh darah di lengan agar mudah diamati. Keduanya sempat menghasilkan urine, tetapi harus diangkat sekitar tiga hari kemudian setelah mengalami penggumpalan darah dan kegagalan fungsi.

Pengetahuan mengenai sistem imun ketika itu masih terbatas. Tubuh manusia dapat mengenali jaringan hewan sebagai ancaman, kemudian menyerangnya dalam hitungan menit atau jam. Reaksi ini disebut penolakan hiperakut.

Obat penekan sistem imun yang berkembang pada 1960-an kembali membuka jalan penelitian. Keith Reemtsma dan timnya kemudian memindahkan ginjal simpanse ke sejumlah pasien. Kebanyakan organ hanya bertahan beberapa minggu, tetapi satu penerima dapat hidup selama sekitar 9 bulan.

Pada tahun 1984, seorang bayi yang dikenal sebagai Baby Fae menerima jantung babun karena mengalami kelainan jantung bawaan yang berat. Jantung tersebut bekerja selama 20 hari sebelum mengalami penolakan. Kasus itu sekaligus memperlihatkan persoalan etika, persetujuan tindakan, dan risiko yang harus dipertimbangkan dalam eksperimen pada manusia.

Mengapa penelitian beralih ke babi?

Secara genetik, primata memang lebih dekat secara genetik dengan manusia, tetapi jumlahnya terbatas, berkembang biak lambat, serta membawa persoalan kesejahteraan hewan dan risiko penularan penyakit.

Babi lebih mudah dikembangbiakkan, ukuran organnya mendekati organ manusia, dan dapat dipelihara di fasilitas yang dikontrol ketat. Meski demikian, ginjal atau jantung babi biasa tetap akan segera diserang oleh sistem imun manusia.

Rekayasa genetika mengubah itu. Para ilmuwan dapat menonaktifkan gen yang menghasilkan molekul gula pada permukaan sel babi—sasaran utama antibodi manusia. Gen manusia juga ditambahkan untuk membantu mengendalikan peradangan, pembekuan darah, dan sistem komplemen, yaitu bagian dari pertahanan imun.

Pada tahun 2017, penelitian dalam jurnal Science menunjukkan bahwa CRISPR dapat digunakan untuk menonaktifkan retrovirus bawaan yang tertanam dalam genom babi. Langkah ini ditujukan untuk memperkecil kemungkinan virus tersebut berpindah kepada penerima organ.

Edit gen tidak membuat organ babi sepenuhnya sama dengan organ manusia. Tujuannya adalah mengurangi perbedaan biologis yang paling berbahaya agar organ tidak langsung rusak setelah tersambung dengan aliran darah manusia.

Dari penerima mati otak ke pasien yang masih hidup

ilustrasi operasi transplantasi ginjal (pixabay.com/CARLOSCRUZ ARTEGRAFIA)

Pada tahun 2021, dua ginjal babi yang telah dimodifikasi ditransplantasikan kepada penerima yang telah dinyatakan mati otak dan dipertahankan dengan ventilator atas persetujuan keluarga. Kedua ginjal tetap hidup dan berfungsi selama pengamatan 54 jam, tanpa penolakan hiperakut.

Langkah berikutnya adalah pada Januari 2022. David Bennett menjadi orang pertama yang menerima jantung babi hasil rekayasa genetika saat masih hidup. Jantung tersebut menopang sirkulasinya selama sekitar 2 bulan. Namun, kondisi Bennett kemudian memburuk dan ia meninggal pada hari ke-60.

Pada Maret 2024, Richard Slayman menerima ginjal babi dengan 69 modifikasi genetik—transplantasi pertama organ tersebut kepada penerima hidup. Ginjal segera bekerja dan ia tidak lagi membutuhkan dialisis. Episode penolakan pada hari ke-8 dapat diatasi dengan obat.

Slayman meninggal mendadak pada hari ke-52 karena gangguan jantung. Pemeriksaan setelah kematian menemukan penyakit pembuluh koroner berat dan jaringan parut pada jantung, tanpa bukti bahwa ginjal babi sedang mengalami penolakan.

Ginjal babi memberi Tim Andrews 271 hari tanpa dialisis

Tim Andrews menerima ginjal babi yang juga memiliki 69 modifikasi genetik pada Januari 2025. Organ tersebut langsung bekerja. Penolakan awal yang melibatkan sel T dapat diatasi, sedangkan pemantauan tidak menemukan perpindahan patogen babi kepada Andrews.

Sekitar 6 bulan kemudian, dosis obat penekan imun harus dikurangi ketika Andrews mengalami infeksi. Pembuluh darah kecil pada ginjal kemudian mengalami peradangan dan kerusakan yang berkembang menjadi mikroangiopati trombotik—gangguan ketika gumpalan kecil menghambat aliran darah di dalam organ.

Ginjal akhirnya diangkat setelah 271 hari. Andrews kembali menjalani dialisis sebelum menerima ginjal dari donor manusia pada Januari 2026. Ginjal manusia itu langsung berfungsi dan, selama pengamatan yang dilaporkan, tidak ditemukan bukti bahwa paparan terhadap ginjal babi membuat sistem imunnya menolak organ manusia.

Temuan tersebut belum membuktikan bahwa ginjal babi dapat menggantikan ginjal manusia seumur hidup. Namun, kasus ini menunjukkan bahwa organ tersebut dapat memberi waktu berbulan-bulan tanpa dialisis dan berpotensi menjadi jembatan menuju transplantasi manusia.

Sudah masuk uji klinis, tetapi belum menjadi terapi rutin

Per 3 September 2026, eGenesis—perusahaan yang membuat ginjal untuk Andrews—melaporkan 5 pasien telah menerima ginjal babi melalui program akses khusus.

Tiga pasien memiliki fungsi ginjal berkelanjutan selama lebih dari 8 bulan tanpa dialisis. Satu penerima telah melewati 9 bulan dan masih dipantau, sedangkan 2 pasien kemudian berhasil menerima ginjal manusia.

Data selain kasus Andrews tersebut masih berupa pembaruan perusahaan dan belum seluruhnya diterbitkan sebagai laporan ilmiah lengkap.

Xenotransplantasi juga telah berpindah dari tindakan akses khusus untuk pasien tertentu menuju penelitian formal. Uji klinis EXPAND melakukan transplantasi pertamanya pada November 2025. Penelitian ini menguji ginjal babi dengan 10 edit gen, dimulai pada 6 peserta dan dapat diperluas hingga 50 orang setelah evaluasi keamanan. Program lain yang direncanakan eGenesis akan meneliti 33 pasien mulai 2027.

Izin FDA untuk menjalankan penelitian tidak berarti organ babi telah disetujui untuk penggunaan umum. Peneliti masih harus menjawab berapa lama organ dapat bertahan, obat penekan imun apa yang paling aman, serta bagaimana mencegah penolakan, penggumpalan darah, dan kemungkinan infeksi lintas spesies.

Xenotransplantasi kini bukan lagi sekadar percobaan yang berakhir dalam hitungan hari. Organ babi telah menopang beberapa pasien selama berbulan-bulan dan memasuki uji klinis terkontrol. Namun, bukti saat ini masih berasal dari sedikit penerima dan masa pengamatan yang singkat dibandingkan transplantasi manusia yang dapat berfungsi selama bertahun-tahun.

Referensi

Bailey, Leonard L., Stephanie L. Nehlsen-Cannarella, Waldo Concepcion, and William B. Jolley. “Baboon-to-Human Cardiac Xenotransplantation in a Neonate.” JAMA 254, no. 23 (1985): 3321–29. https://doi.org/10.1001/jama.1985.03360230053022.

Cooper, David K. C. “A Brief History of Cross-Species Organ Transplantation.” Baylor University Medical Center Proceedings 25, no. 1 (2012): 49–57. https://doi.org/10.1080/08998280.2012.11928783.

eGenesis. “eGenesis Announces Clinical Update in Ongoing Expanded Access Study of EGEN-2784 in Patients with Kidney Failure.” September 3, 2026. https://egenesisbio.com/news-media/press-releases/egenesis-announces-clinical-update-in-ongoing-expanded-access-study-of-egen-2784-in-patients-with-kidney-failure.

Griffith, Bartley P., et al. “Genetically Modified Porcine-to-Human Cardiac Xenotransplantation.” New England Journal of Medicine 387, no. 1 (2022): 35–44. https://doi.org/10.1056/NEJMoa2201422.

Harvard Medical School. “Patient Who Received Pig Kidney Becomes First To Progress to Human Kidney Transplant.” Diakses September 2026.

Kawai, Tatsuo, et al. “Xenotransplantation of a Porcine Kidney for End-Stage Kidney Disease.” New England Journal of Medicine 392, no. 19 (2025): 1933–40. https://doi.org/10.1056/NEJMoa2412747.

Montgomery, Robert A., et al. “Results of Two Cases of Pig-to-Human Kidney Xenotransplantation.” New England Journal of Medicine 386, no. 20 (2022): 1889–98. https://doi.org/10.1056/NEJMoa2120238.

Niu, Dong, et al. “Inactivation of Porcine Endogenous Retrovirus in Pigs Using CRISPR-Cas9.” Science 357, no. 6357 (2017): 1303–7. https://doi.org/10.1126/science.aan4187.

Riella, Leonardo V., Thiago J. Borges, Ivy A. Rosales, Claire T. Avillach, Ragnar Palsson, Frank Hullekes, Ruchama Verhoeff, et al. “Porcine Kidney Xenotransplantation as a Bridge to Allotransplantation: A First-in-Human Study.” The Lancet. Published online September 3, 2026. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(26)01295-X.

United Therapeutics Corporation. “United Therapeutics Corporation Announces First Transplant in EXPAND Clinical Trial of UKidney in Patients With End-Stage Renal Disease.” Diakses September 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article