ilustrasi berdoa (pexels.com/Tanvir Khondokar)
Agama gak selalu menjadi faktor yang menghambat proses terapi. Sejumlah penelitian justru menemukan hubungan antara keterlibatan dalam kegiatan keagamaan dan beberapa indikator kesehatan dan kesejahteraan. Penelitian dalam International Journal of Epidemiology menemukan hubungan antara kehadiran dalam kegiatan keagamaan dan kesehatan serta kesejahteraan sepanjang masa dewasa. Penelitian dalam Annals of Behavioral Medicine juga menemukan hubungan antara kehadiran dalam kegiatan keagamaan dan tingkat depresi yang lebih rendah pada perempuan.
Temuan serupa terlihat dalam penelitian lain. Penelitian dalam JAMA Internal Medicine menemukan hubungan antara kehadiran dalam kegiatan keagamaan dan tingkat kematian yang lebih rendah pada perempuan dalam kelompok penelitian tersebut. Sementara itu, penelitian dalam JAMA Psychiatry menemukan hubungan antara kehadiran dalam kegiatan keagamaan setiap minggu dan risiko kematian akibat narkoba, alkohol, serta bunuh diri yang lebih rendah pada tenaga kesehatan di Amerika Serikat.
Temuan tersebut tentu bukan berarti agama otomatis menjadi solusi untuk semua masalah psikologis. Namun, hasil penelitian menunjukkan bahwa agama dan komunitas keagamaan dapat menjadi bagian yang relevan ketika profesional berusaha memahami kehidupan pasien secara utuh. Kressel (2026) dalam Open Inquiry in Mental Health menekankan pentingnya memperlakukan keyakinan pasien sebagai bagian berarti dari kasus yang sedang ditangani, bukan sekadar latar belakang. Dengan pemahaman yang lebih baik, pembicaraan mengenai agama dapat dilakukan secara profesional tanpa terapis harus mengadopsi keyakinan pasien.
Pasien religius sering berhenti terapi psikologi tidak berarti dirinya tidak membutuhkan bantuan. Ada kemungkinan mereka merasa nilai, keyakinan, atau persoalan moral yang penting dalam kehidupannya tidak mendapatkan ruang yang cukup selama proses terapi.
Kompetensi mengenai agama dan spiritualitas dapat membantu terapis memahami konteks tersebut dengan lebih baik tanpa menghakimi keyakinan pasien. Dengan begitu, terapi memiliki peluang lebih besar untuk menjadi ruang yang aman bagi pasien dalam membahas kondisi psikologis sekaligus nilai kehidupan yang mereka anggap penting.
Referensi
“Why Religious Patients Often Quit Therapy.” Psychology Today. Diakses Oktober 2026.
“How Therapists Often Fail Religious Clients.” Open Inquiry in Mental Health | Substack. Diakses Oktober 2026.
“Secular Bias in Psychotherapy.” Open Inquiry in Mental Health | Substack. Diakses Oktober 2026.
“Religious Service Attendance and Deaths Related to Drugs, Alcohol, and Suicide Among US Health Care Professionals.” JAMA Psychiatry. Diakses Oktober 2026.
“Spiritual and religious competencies in psychology.” American Psychologist. Diakses Oktober 2026.
“Religious-service attendance and subsequent health and well-being throughout adulthood: Evidence from three prospective cohorts.” International Journal of Epidemiology. Diakses Oktober 2026.
“Religious Service Attendance and Lower Depression Among Women—A Prospective Cohort Study.” Annals of Behavioral Medicine. Diakses Oktober 2026.
“Association of Religious Service Attendance With Mortality Among Women.” JAMA Internal Medicine. Diakses Oktober 2026.