Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Pasien Religius Sering Berhenti Terapi Psikologi?
ilustrasi konseling (pexels.com/SHVETS production)
  • Pasien religius dapat berhenti terapi ketika terapis kurang memahami peran agama, sehingga nilai dan pengalaman penting mereka terasa tidak dipahami dalam proses konsultasi.
  • Hubungan terapi dapat terganggu bila keyakinan moral atau spiritual pasien dianggap tidak rasional, atau semata-mata diarahkan menjadi masalah coping dan regulasi emosi.
  • Pelatihan kompetensi agama dan spiritualitas bagi psikolog masih terbatas, padahal keyakinan serta komunitas keagamaan dapat menjadi konteks relevan bagi kesehatan dan kesejahteraan pasien.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Terapi psikologi biasanya menjadi tempat bagi seseorang untuk membicarakan masalah hidup dengan lebih terbuka dan aman. Meski demikian, proses tersebut bisa terasa berbeda bagi pasien yang memiliki keyakinan agama yang kuat. Adakalanya nilai agama yang dianggap penting dalam kehidupan justru kurang dipahami ketika masuk ke ruang terapi.

Kondisi ini bisa membuat pasien merasa sudut pandangnya gak benar-benar dipahami oleh terapis. Kalau berlangsung terus, ketidaknyamanan tersebut berpotensi membuat pasien memilih berhenti menjalani terapi. Lantas, apa yang sebenarnya membuat pasien religius sering berhenti terapi psikologi?

1. Terapis kurang memahami persoalan agama

ilustrasi psikolog, psikiater, konsultasi, kesehatan mental, mental health (pexels.com/Timur Weber)

Pasien religius gak selalu mencari terapis yang secara khusus menawarkan pendekatan berbasis agama. Menurut Kressel (2026) dalam Open Inquiry in Mental Health, pasien dengan keyakinan agama tetap bisa memilih terapis umum karena ingin mendapatkan bantuan untuk persoalan tertentu atau merasa lebih nyaman berkonsultasi dengan profesional di luar komunitas agamanya. Meski begitu, ketika persoalan agama berkaitan dengan masalah yang sedang dibahas, pasien tetap dapat berharap terapis mampu memahami dan membicarakannya secara profesional.

Masalah bisa muncul ketika terapis gak memiliki pemahaman yang cukup mengenai agama dan spiritualitas. Pasien mungkin menganggap keyakinan sebagai bagian penting dalam mengambil keputusan, sedangkan terapis melihatnya dari sudut pandang psikologis yang berbeda. Perbedaan ini gak selalu berarti salah satu pihak berniat buruk, tapi dapat membuat komunikasi selama terapi menjadi kurang nyambung. Kalau pasien merasa pengalaman penting dalam hidupnya gak dipahami, kepercayaan terhadap proses terapi pun bisa ikut menurun.

2. Keyakinan pasien dianggap sebagai masalah

ilustrasi pernikahan (pexels.com/brejeq)

Bayangkan kamu sedang menceritakan masalah rumah tangga yang rumit, tapi keputusanmu ternyata berkaitan dengan janji yang pernah dibuat di hadapan Tuhan. Bagimu, janji tersebut mungkin memiliki makna moral dan spiritual yang sangat besar. Namun, apabila terapis langsung melihatnya sebagai keyakinan yang gak rasional, pembicaraan bisa bergerak ke arah yang berbeda dari persoalan yang sebenarnya ingin kamu bahas. Situasi seperti ini dapat membuat pasien merasa sedang dinilai, bukan sedang dibantu memahami masalahnya.

Kressel (2026) dalam Open Inquiry in Mental Health menggambarkan contoh seorang perempuan yang tetap bertahan dalam pernikahan karena merasa memiliki janji di hadapan Tuhan. Terapisnya memandang persoalan tersebut sebagai keyakinan yang gak rasional dan berfokus pada kemampuan pasien untuk membela kepentingan dirinya sendiri. Gak ada pihak yang digambarkan secara terang-terangan bersikap kasar, tapi perbedaan cara memaknai masalah membuat hubungan terapi gak berkembang dan pasien akhirnya berhenti menjadwalkan sesi setelah beberapa pertemuan.

3. Pelatihan tentang agama dan spiritualitas masih terbatas

ilustrasi agama Hindu (vecteezy.com/Tatyana Makarova)

Kesenjangan pemahaman tersebut juga berkaitan dengan pendidikan profesional. Penelitian dalam Spirituality in Clinical Practice oleh Vieten dkk. (2016) menunjukkan bahwa sekitar setengah hingga 80 persen psikolog yang disurvei melaporkan memiliki sedikit atau tidak memiliki pelatihan dalam berbagai kompetensi agama dan spiritualitas. Kondisi ini menunjukkan bahwa membicarakan persoalan keagamaan belum tentu menjadi keterampilan yang dikuasai setiap profesional kesehatan mental. Akibatnya, topik tersebut bisa saja gak banyak disentuh selama proses terapi.

Vieten dan Lukoff (2022) dalam American Psychologist juga membahas pentingnya kompetensi agama dan spiritualitas dalam psikologi. Kompetensi tersebut membantu profesional memahami bagaimana keyakinan pasien dapat berkaitan dengan pengalaman psikologis tanpa otomatis menganggapnya sebagai masalah. Kressel (2026) dalam Open Inquiry in Mental Health juga menyoroti bahwa sebagian terapis dilaporkan tidak pernah mengangkat persoalan agama dalam sesi terapi. Ketika agama memiliki peran besar dalam kehidupan pasien, mengabaikan aspek tersebut bisa membuat pemahaman terhadap masalah terasa kurang lengkap.

4. Terapi terlalu fokus pada coping dan self-care

ilustrasi menyendiri (pexels.com/Alex Green)

Terapi psikologi tentu memiliki ruang untuk membahas emosi, coping, regulasi diri, dan self-care. Namun, gak semua persoalan yang dibawa pasien bisa diselesaikan hanya dengan mencari cara agar perasaan menjadi lebih nyaman. Ada pasien yang sedang bergulat dengan pertanyaan tentang kewajiban, karakter, dosa, tanggung jawab, atau bagaimana menjalani hidup sesuai nilai yang diyakininya. Bagi pasien religius, pertanyaan tersebut bisa memiliki hubungan langsung dengan keyakinan spiritual yang mereka pegang.

Kressel (2026) dalam Open Inquiry in Mental Health menyoroti kekhawatiran bahwa persoalan moral pasien dapat terlalu mudah diterjemahkan menjadi masalah coping atau regulasi emosi. Pendekatan seperti ini mungkin membantu dalam kondisi tertentu, tapi belum tentu menjawab pertanyaan yang sebenarnya sedang dicari pasien. Seseorang mungkin gak hanya ingin tahu bagaimana mengurangi rasa bersalah, tapi juga ingin memahami apa yang sebaiknya dilakukan berdasarkan nilai hidup yang diyakininya. Ketika pertanyaan tersebut terus diarahkan menjadi persoalan mengelola perasaan, pasien bisa merasa ada bagian penting dari dirinya yang tak tersentuh.

5. Keyakinan agama dapat menjadi bagian dari konteks kesehatan

ilustrasi berdoa (pexels.com/Tanvir Khondokar)

Agama gak selalu menjadi faktor yang menghambat proses terapi. Sejumlah penelitian justru menemukan hubungan antara keterlibatan dalam kegiatan keagamaan dan beberapa indikator kesehatan dan kesejahteraan. Penelitian dalam International Journal of Epidemiology menemukan hubungan antara kehadiran dalam kegiatan keagamaan dan kesehatan serta kesejahteraan sepanjang masa dewasa. Penelitian dalam Annals of Behavioral Medicine juga menemukan hubungan antara kehadiran dalam kegiatan keagamaan dan tingkat depresi yang lebih rendah pada perempuan.

Temuan serupa terlihat dalam penelitian lain. Penelitian dalam JAMA Internal Medicine menemukan hubungan antara kehadiran dalam kegiatan keagamaan dan tingkat kematian yang lebih rendah pada perempuan dalam kelompok penelitian tersebut. Sementara itu, penelitian dalam JAMA Psychiatry menemukan hubungan antara kehadiran dalam kegiatan keagamaan setiap minggu dan risiko kematian akibat narkoba, alkohol, serta bunuh diri yang lebih rendah pada tenaga kesehatan di Amerika Serikat.

Temuan tersebut tentu bukan berarti agama otomatis menjadi solusi untuk semua masalah psikologis. Namun, hasil penelitian menunjukkan bahwa agama dan komunitas keagamaan dapat menjadi bagian yang relevan ketika profesional berusaha memahami kehidupan pasien secara utuh. Kressel (2026) dalam Open Inquiry in Mental Health menekankan pentingnya memperlakukan keyakinan pasien sebagai bagian berarti dari kasus yang sedang ditangani, bukan sekadar latar belakang. Dengan pemahaman yang lebih baik, pembicaraan mengenai agama dapat dilakukan secara profesional tanpa terapis harus mengadopsi keyakinan pasien.

Pasien religius sering berhenti terapi psikologi tidak berarti dirinya tidak membutuhkan bantuan. Ada kemungkinan mereka merasa nilai, keyakinan, atau persoalan moral yang penting dalam kehidupannya tidak mendapatkan ruang yang cukup selama proses terapi.

Kompetensi mengenai agama dan spiritualitas dapat membantu terapis memahami konteks tersebut dengan lebih baik tanpa menghakimi keyakinan pasien. Dengan begitu, terapi memiliki peluang lebih besar untuk menjadi ruang yang aman bagi pasien dalam membahas kondisi psikologis sekaligus nilai kehidupan yang mereka anggap penting.

Referensi

“Why Religious Patients Often Quit Therapy.” Psychology Today. Diakses Oktober 2026.

“How Therapists Often Fail Religious Clients.” Open Inquiry in Mental Health | Substack. Diakses Oktober 2026.

“Secular Bias in Psychotherapy.” Open Inquiry in Mental Health | Substack. Diakses Oktober 2026.

“Religious Service Attendance and Deaths Related to Drugs, Alcohol, and Suicide Among US Health Care Professionals.” JAMA Psychiatry. Diakses Oktober 2026.

“Spiritual and religious competencies in psychology.” American Psychologist. Diakses Oktober 2026.

“Religious-service attendance and subsequent health and well-being throughout adulthood: Evidence from three prospective cohorts.” International Journal of Epidemiology. Diakses Oktober 2026.

“Religious Service Attendance and Lower Depression Among Women—A Prospective Cohort Study.” Annals of Behavioral Medicine. Diakses Oktober 2026.

“Association of Religious Service Attendance With Mortality Among Women.” JAMA Internal Medicine. Diakses Oktober 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article