Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Volume-Based vs Value-Based Healthcare, Apa Bedanya bagi Pasien?

3 min read
Volume-Based vs Value-Based Healthcare, Apa Bedanya bagi Pasien?
ilustrasi dokter merawat pasien (IDN Times/NRF)
  • Volume-based healthcare berfokus pada jumlah layanan seperti konsultasi, tes, atau rawat inap, dengan pembayaran fee-for-service untuk setiap tindakan yang diberikan.

  • Value-based healthcare menilai hasil bagi pasien, termasuk perbaikan kondisi, pencegahan komplikasi, pengalaman pasien, dan penggunaan sumber daya; pendekatannya tidak terbatas pada skema pembayaran.

  • Pada kasus serangan jantung misalnya, terapi efektif dapat menurunkan risiko serangan berulang sehingga bisa menghindari banyak kemungkinan cost lainnya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Setelah mengalami serangan jantung, pasien mungkin masih perlu kontrol rutin, pemeriksaan kolesterol, obat, dan rehabilitasi. Dalam pendekatan volume-based, perhatian sistem lebih banyak tertuju pada layanan yang diberikan, misalnya berapa kali pasien diperiksa atau tindakan dilakukan. Salah satu bentuk pembayaran yang umum dikaitkan dengan pendekatan ini adalah fee-for-service, yang mana penyedia layanan dibayar untuk setiap layanan, seperti konsultasi, tes darah, atau rawat inap.

Dalam value-based healthcare, perhatian bergeser ke hasil (outcome) yang dirasakan pasien. Contohnya, apakah kondisinya membaik, risiko komplikasi berkurang, dan mampu kembali menjalani aktivitas harian. Biaya tetap diperhitungkan, tetapi bukan satu-satunya ukuran. Value di sini dapat mencakup hasil kesehatan, pengalaman pasien, dan sumber daya yang dipakai.

Aspek

Volume-based

Value-based

Fokus

Jumlah layanan atau tindakan

Hasil kesehatan pasien dan sumber daya yang digunakan

Ukuran keberhasilan

Layanan diberikan

Kondisi, mutu, dan pengalaman pasien

Pembayaran

Dalam model fee-for-service, setiap layanan dibayar satu per satu

Sejumlah program mengaitkan pembayaran dengan mutu atau hasil

Kedua istilah ini tidak selalu menunjuk satu cara pembayaran yang seragam. Value-based healthcare juga lebih luas daripada skema insentif bagi penyedia layanan. Pendekatan ini melibatkan cara layanan dirancang dan penilaian hasilnya.

  1. Contoh kasus pada serangan jantung

    Dalam penjelasannya kepada media pada Kamis (15/10) di Jakarta, Honorary Secretary International Pharmaceutical Manufacturers Group (IPMG) Idham Hamzah menggunakan serangan jantung sebagai contoh.

    Setelah serangan pertama, pasien mungkin butuh pengobatan dan pemantauan untuk mengendalikan faktor risiko. Jika terjadi serangan berulang, pasien dapat membutuhkan perawatan lebih intensif, seperti rawat inap atau operasi. Dampaknya juga bisa terasa dalam kehidupan sehari-hari, termasuk waktu kerja yang hilang.

    “Value-based maksudnya memilih service atau obat-obatan yang ada impact outcome," kata Idham saat menjelaskan pendekatan berbasis nilai. "Fokusnya adalah pada outcome kesehatan pasien,” katanya lagi.

    Artinya, penilaian tidak berhenti pada berapa biaya yang dikeluarkan, tetapi juga melihat apakah perawatan membantu pasien tetap sehat dan mencegah masalah lanjutan.

    "Kalau kita mengadopsi value-based healthcare; misalnya saya serangan jantung pertama, lalu diberi obat inovatif. Ini kalau digunakan secara konsisten bisa menurunkan risiko serangan jantung kedua. Dengan menurunkan insiden serangan jantung kedua artinya tidak perlu operasi, tidak perlu dirawat di ICU, tidak perlu fisioterapi, dan lainnya. Jadi value-based healthcare itu menggunakan obat-obat inovatif (salah satunya) supaya menghindari cost lain," ia menjelaskan.

    Namun, manfaat suatu terapi tetap perlu dibuktikan lewat bukti klinis dan dinilai sesuai kondisi pasien. Pendekatan berbasis nilai bukan berarti semua obat harus diganti dengan obat inovatif, “produk yang sudah efektif tetap digunakan,” ujar Idham.

  2. Hasilnya perlu dibuktikan

    Ilustrasi pasien kanker sedang menjalani perawatan infus ditemani oleh seorang dokter dan caregiver di ruang perawatan.
    ilustrasi pasien kanker didampingi oleh dokter dan caregiver (IDN Times/NRF)

    Penilaian teknologi kesehatan atau health technology assessment (HTA) digunakan untuk menilai manfaat klinis, biaya, dan dampak anggaran suatu teknologi kesehatan. Hasil kajian ini membantu pemerintah mempertimbangkan apakah suatu teknologi layak didanai melalui Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

    Meski begitu, layanan kesehatan berbasis nilai selalu berarti biaya lebih rendah atau mutu layanan lebih baik. Tinjauan terhadap 29 penelitian menemukan, dampak skema pembayaran berbasis nilai di rumah sakit terhadap mutu layanan, pengalaman pasien, dan biaya sering kali kecil atau tidak ada perbedaan yang bermakna. Temuan ini hanya menilai skema pembayaran di rumah sakit, sehingga tidak mewakili seluruh konsep value-based healthcare.

    Pada dasarnya, fokusnya adalah apakah keberhasilan layanan diukur dari banyaknya tindakan yang dilakukan atau dari manfaat yang didapat pasien.

    Referensi

    Centers for Medicare & Medicaid Services, “Bundled Payments,” diakses 16 Oktober 2026.

    Marie-Eve Perron, Pierre-Henri Roux-Levy, Sabine Calleja, Marie-Eve Poitras, dan Sylvie D. Lambert, “Revisiting the Meaning of ‘Value’ in Value-Based Healthcare: A Concept Analysis,” Journal of Advanced Nursing, pertama kali terbit 26 Maret 2026, https://doi.org/10.1111/jan.70574.

    Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, “Pedoman HTA (Bahasa Indonesia),” diakses 16 Oktober 2026.

    Shahriyar Mokhtary, Ali Janati, Mahmood Yousefi, dan Behzad Raei, “Evidence on the Effectiveness of Value-Based Payment Schemes Implemented in a Hospital Setting: A Systematic Review,” Journal of Education and Health Promotion 13 (2024): 327, https://doi.org/10.4103/jehp.jehp_873_23.

Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More