"Train your body and mind to run faster: 8 tips and 3 workouts to improve speed over 5K, 10K and the mile". Runner's World. Diakses pada Februari 2026.
"5 Exercises to Help you Run Faster for Longer". Runner's Need. Diakses pada Februari 2026.
"5 Most Effective Exercises to Increase Running Speed". SVRG. Diakses pada Februari 2026.
Latihan untuk Meningkatkan Kecepatan Lari, Gak Cuma Tempo Run

- Sprint interval melatih tubuh beradaptasi dengan lari cepat
- Tempo run melatih tubuh menjaga kecepatan dalam waktu lama
- Hill sprints membantu memperkuat otot kaki dan postur tubuh
Keinginan untuk berlari lebih cepat sering muncul dari hal sederhana, misalnya saat merasa langkah sendiri tertinggal dari pelari lain atau ketika napas sudah ngos-ngosan padahal jarak belum seberapa. Di titik itu, banyak orang mulai sadar kalau kecepatan lari bukan cuma soal niat, tapi juga soal bagaimana tubuh dilatih dari hari ke hari. Tanpa latihan yang tepat, usaha berlari lebih kencang justru sering berujung capek duluan atau badan terasa tidak nyaman.
Seiring waktu, latihan kecepatan lari mulai dilirik karena hasilnya bisa terasa jelas jika dilakukan dengan cara yang benar. Beberapa latihan untuk lari berikut sering digunakan untuk membantu tubuh terbiasa bergerak lebih cepat tanpa harus memaksakan diri sejak awal. Simak sama-sama, yuk!
1. Sprint interval melatih tubuh beradaptasi dengan lari cepat

Sprint interval dilakukan dengan berlari sangat cepat dalam waktu singkat, lalu memberi tubuh jeda untuk menurunkan napas sebelum mengulanginya lagi. Saat fase lari cepat dilakukan, jantung langsung bekerja lebih keras untuk mengalirkan oksigen ke otot kaki. Pola ini membuat tubuh merasakan perbedaan jelas antara lari saat kondisi santai dan lari saat kondisi maksimal.
Karena dilakukan berulang, tubuh perlahan belajar menyesuaikan diri dengan lonjakan detak jantung yang cepat. Otot kaki tidak hanya dipaksa bergerak lebih cepat, tapi juga belajar pulih dalam waktu singkat. Proses ini membantu meningkatkan kapasitas jantung dan paru-paru secara bertahap. Aliran darah menjadi lebih efisien saat tubuh diminta berlari kencang. Risiko kelelahan berlebihan pun bisa ditekan karena ada jeda pemulihan di setiap putaran.
2. Tempo run melatih tubuh menjaga kecepatan dalam waktu lama

Tempo run adalah lari dengan kecepatan yang terasa lebih cepat dari lari santai, tetapi belum sampai membuat tubuh kehabisan tenaga. Kecepatan ini masih memungkinkan napas tetap teratur meski terasa lebih berat. Karena tidak berhenti mendadak, tubuh terbiasa bekerja di satu ritme yang sama dalam waktu lebih lama.
Saat tempo run dilakukan rutin, jantung dan paru-paru terbiasa memasok oksigen secara konsisten. Tubuh belajar mengatur napas agar tidak terputus di tengah lari. Otot kaki juga dilatih bekerja tanpa lonjakan tenaga yang terlalu ekstrem. Adaptasi ini membantu menunda rasa lelah yang biasanya muncul.
3. Hill sprints membantu memperkuat otot kaki dan postur tubuh

Hill sprints dilakukan dengan berlari cepat di jalan menanjak dalam jarak pendek. Medan yang miring memaksa tubuh bekerja lebih keras dibandingkan lari di permukaan datar. Beban tambahan ini membuat otot kaki menerima tekanan alami dari berat tubuh sendiri.
Saat tanjakan dilalui berulang, otot paha, bokong, dan betis menjadi lebih kuat. Dorongan kaki terasa lebih bertenaga karena tubuh harus melawan gravitasi. Postur tubuh juga ikut terlatih agar tetap condong ke depan secara seimbang. Ayunan lengan menjadi lebih aktif untuk menjaga ritme
4. Shuttle run melatih keseimbangan dan respons tubuh

Shuttle run dilakukan dengan berlari bolak-balik dalam jarak pendek, lalu berhenti dan berbalik arah secepat mungkin. Saat tubuh dipaksa berhenti mendadak lalu berlari lagi, otot dan sendi bekerja lebih keras dibandingkan terus berlari secara lurus. Kondisi ini membuat tubuh belajar menghadapi perubahan gerak yang cepat dalam waktu singkat.
Perubahan arah yang dilakukan berulang memaksa otot kaki menahan dan mengendalikan berat badan. Sendi lutut dan pergelangan kaki ikut beradaptasi agar tetap stabil saat arah gerak berubah. Otot inti otomatis aktif untuk menjaga posisi tubuh tetap seimbang. Respons saraf juga menjadi lebih sigap karena harus memberi perintah dalam waktu singkat.
5. Plyometric drills melatih daya dorong langkah kaki

Plyometric drills adalah latihan lompat seperti skipping atau jump squat yang dilakukan dengan ritme cepat. Saat tubuh meloncat dan mendarat berulang, otot kaki dipaksa bereaksi dalam waktu singkat. Gerakan ini melatih kemampuan otot menghasilkan tenaga secara spontan.
Ketika kemampuan tersebut terbentuk, dorongan kaki saat berlari ikut berubah. Setiap pijakan menjadi lebih kuat karena otot terbiasa bekerja cepat sejak menyentuh tanah. Tendon dan sendi ikut beradaptasi menghadapi tekanan berulang. Elastisitas otot meningkat sehingga langkah terasa lebih ringan. Kondisi ini membantu mengurangi risiko cedera saat kecepatan lari meningkat.
6. Strength training membantu tubuh menopang kecepatan lari

Strength training berfokus pada penguatan otot kaki melalui gerakan seperti squat dan lunge. Otot yang kuat dibutuhkan untuk menopang berat badan saat kaki terus menghantam permukaan tanah. Tanpa kekuatan yang cukup, tubuh lebih cepat lelah meski kecepatan belum maksimal.
Saat otot kaki bekerja lebih kuat, sendi lutut dan pergelangan kaki ikut terlindungi. Beban benturan saat berlari tidak langsung ditanggung sendi, tetapi dibagi oleh otot di sekitarnya. Tubuh pun lebih stabil ketika kecepatan lari mulai meningkat. Dengan fondasi ini, kecepatan lari bisa ditingkatkan secara bertahap tanpa mengorbankan kesehatan kamu.
Berbagai latihan seperti sprint interval hingga hill sprints menunjukkan bahwa kecepatan lari bisa dibangun lewat proses yang terukur dan bertahap. Setiap latihan bantu untuk melatih tubuh dengan cara berbeda, mulai dari mengatur napas, memperkuat otot kaki, sampai membantu tubuh pulih lebih cepat setelah lari secara intens. Kira-kira kamu sudah coba latihan untuk menambah kecepatan lari seperti di atas atau belum, nih?
Referensi


















