Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bukan karena Kecapekan, Ini 5 Kebiasaan Buruk Penyebab Tipes
ilustrasi seseorang sakit tipes atau demam tifoid (pexels.com/Kampus Production)
  • Tipes atau demam tifoid terjadi ketika bakteri Salmonella Typhi masuk melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi.

  • Tidak mencuci tangan, mengonsumsi air yang keamanannya diragukan, dan makan makanan yang tidak ditangani secara higienis dapat meningkatkan risiko.

  • Pencegahannya: pastikan cuma menggunakan air yang aman, cuci tangan dengan sabun, pilih makanan matang, dan jangan membiarkan orang yang masih membawa bakteri menyiapkan makanan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Didiagnosis tipes setelah hari-hari super sibuk sering kali dianggap sebagai kecapekan. Ada juga yang mengaitkannya dengan telat makan atau terlalu banyak bekerja.

Tubuh yang kelelahan tidak dengan sendirinya menyebabkan tipes. Tipes—istilah yang umum digunakan untuk menyebut demam tifoid—adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri Salmonella enterica serovar Typhi atau Salmonella Typhi. Bakteri tersebut biasanya masuk ke tubuh ketika kamu menelan makanan atau air yang telah terkontaminasi tinja manusia yang terinfeksi.

Berikut kebiasaan sehari-hari yang dapat membuka jalan bagi penularan bakteri penyebab tipes.

1. Tidak mencuci tangan dengan sabun

Tangan yang terlihat bersih tetap bisa membawa mikroorganisme. Bakteri bisa berpindah setelah menggunakan toilet, mengganti popok, membersihkan kamar mandi, atau menyentuh permukaan yang terkontaminasi. Ketika tangan tersebut menyentuh makanan, bakteri dapat ikut tertelan.

Sebuah metaanalisis terhadap studi kasus kontrol menemukan bahwa keterbatasan fasilitas dan praktik kebersihan tangan berkaitan dengan peluang tipes yang lebih tinggi. Sebaliknya, tersedianya fasilitas cuci tangan dengan air dan sabun memberikan perlindungan.

Membasahi tangan dengan air saja belum cukup. Gunakan sabun dan air mengalir, terutama:

  • Setelah menggunakan toilet.

  • Sebelum memasak atau menyiapkan makanan.

  • Sebelum makan.

  • Setelah membantu anak menggunakan toilet.

  • Setelah membersihkan tinja atau muntahan orang yang sedang sakit.

Jika tidak ada air dan sabun, pembersih tangan berbasis alkohol dapat digunakan sementara. Namun, cuci tangan dengan sabun tetap lebih diutamakan ketika tangan terlihat kotor.

2. Menganggap air yang jernih pasti aman

ilustrasi minum air (pexels.com/Engin Akyurt)

Air yang tidak berbau dan terlihat jernih belum tentu bebas dari Salmonella Typhi. Kontaminasi dapat terjadi ketika air limbah bercampur dengan sumber air, sistem perpipaan bocor, atau air disimpan dalam wadah yang tidak higienis.

Sebuah tinjauan sistematis menemukan bahwa orang yang terpapar sumber air tidak aman memiliki risiko tipes sekitar 2,5 kali lebih tinggi dibanding mereka yang tidak terpapar. Metaanalisis lain menunjukkan penggunaan air yang tidak diolah hampir menggandakan peluang terkena tipes.

Gunakan air minum yang keamanannya terjamin. Jika ragu, rebus air hingga mendidih atau gunakan metode pengolahan air yang direkomendasikan otoritas kesehatan setempat. Es batu juga harus dibuat dari air yang aman. Suhu dingin tidak otomatis membunuh bakteri.

3. Menyimpan air minum dalam wadah terbuka atau kotor

Air yang awalnya aman dapat terkontaminasi kembali setelah disimpan. Risiko meningkat jika wadah dibiarkan terbuka, jarang dicuci, atau air diambil menggunakan gayung dan tangan yang tidak bersih.

Sebuah tinjauan melaporkan bahwa menyimpan air di wadah tertutup berkaitan dengan peluang tipes yang lebih rendah. Sebaliknya, wadah penyimpanan yang kotor ditemukan berkaitan dengan peluang infeksi yang lebih tinggi, meskipun jumlah penelitian mengenai kebiasaan ini masih terbatas.

Simpan air minum dalam wadah bersih dan tertutup. Pilih wadah bermulut sempit atau yang memiliki keran agar tangan, gelas, dan alat penciduk tidak perlu masuk ke dalamnya. Bersihkan wadah secara berkala sebelum mengisinya kembali.

4. Sering mengonsumsi makanan mentah atau tidak matang sempurna

ilustrasi street food (pexels.com/cottonbro studio )

Makanan yang dimasak hingga matang dan disajikan selagi panas umumnya lebih aman karena pemanasan dapat membunuh bakteri. Namun, jika makanan dibiarkan lama pada suhu ruang, hanya dipanaskan sebagian, atau bersentuhan kembali dengan tangan dan peralatan yang terkontaminasi, itu bisa menjadi masalah.

Buah dan sayuran mentah juga dapat membawa bakteri apabila ditanam, dicuci, atau diproses menggunakan air yang tercemar. Anjurannya, buah dan sayur dicuci menggunakan air bersih serta dikupas jika memungkinkan. Susu mentah dan produk yang dibuat dari susu tidak dipasteurisasi juga sebaiknya dihindari.

Saat membeli makanan, pilih yang:

  • Dimasak hingga matang.

  • Masih panas ketika disajikan.

  • Tidak dibiarkan terbuka terlalu lama.

  • Dipisahkan dari bahan mentah.

  • Ditangani menggunakan peralatan yang bersih.

Kebiasaan makan buah potong atau lalapan tidak otomatis menyebabkan tipes. Risikonya bergantung pada keamanan air, kebersihan tangan, cara penyimpanan, dan penanganan makanan tersebut.

5. Mengabaikan kebersihan saat membeli makanan di luar

Sebetulnya bukan lokasi atau harga makanan yang menentukan keamanan makanan, tetapi bagaimana makanan tersebut disiapkan. Makanan dari restoran mahal pun dapat terkontaminasi jika orang yang mengolahnya tidak mencuci tangan atau menggunakan air yang tidak aman.

Tinjauan sistematis dan metaanalisis menemukan hubungan antara tifoid dan sejumlah paparan makanan atau minuman di luar rumah. Namun, para peneliti juga mengingatkan bahwa kualitas sebagian besar studi yang tersedia masih memiliki risiko bias. Karena itu, yang perlu ditekankan adalah kebersihan tempat dan proses pengolahannya.

Sebelum membeli, perhatikan apakah penjual:

  • Memiliki akses ke air bersih.

  • Memisahkan makanan matang dan bahan mentah.

  • Menutup makanan dari debu dan lalat.

  • Menggunakan alat berbeda untuk mengambil uang dan makanan.

  • Menyajikan makanan dalam keadaan panas.

  • Menjaga tangan serta peralatan tetap bersih.

Orang yang sudah sembuh masih bisa menularkan

ilustrasi beristirahat di rumah untuk pemulihan tipes (magnific.com/jcomp)

Kebiasaan lain yang sering luput adalah menganggap seseorang langsung bebas menularkan setelah demamnya turun. Sebagian pasien masih dapat mengeluarkan Salmonella Typhi melalui tinja setelah gejalanya menghilang. Diperkirakan sekitar 1–4 persen pasien yang telah diobati dapat menjadi pembawa kronis tanpa gejala.

Orang yang sedang dirawat atau baru pulih dari tifoid perlu mencuci tangan dengan sabun setelah menggunakan toilet dan sebaiknya tidak menyiapkan makanan untuk orang lain sampai dinyatakan aman oleh tenaga kesehatan. Antibiotik juga harus dikonsumsi sesuai resep, jangan menghentikannya karena merasa sudah lebih sehat.

Tipes tidak dapat dipastikan hanya dari demam, sakit perut, diare, atau tubuh lemas karena gejalanya dapat menyerupai banyak penyakit lain. Kultur darah dianggap sebagai metode diagnosis yang diutamakan, sedangkan tes Widal memiliki keterbatasan dan tidak dapat diandalkan sebagai satu-satunya dasar diagnosis.

Jika demam terus meningkat selama beberapa hari, terutama setelah mengonsumsi makanan atau air yang diragukan kebersihannya, cari pemeriksaan medis. Jangan membeli antibiotik sendiri karena resistansi antibiotik membuat pengobatan tipes makin rumit.

Referensi

World Health Organization, “Typhoid,” 30 Maret 2023, diakses Juli 2026.

Louise K. Francois Watkins, David C. Shih, dan Layne Dorough, “Typhoid and Paratyphoid Fever,” dalam CDC Yellow Book 2026: Health Information for International Travel, diperbarui 23 April 2025, diakses Juli 2026.

Chaelin Kim et al., “Associations of Water, Sanitation, and Hygiene with Typhoid Fever in Case–Control Studies: A Systematic Review and Meta-Analysis,” BMC Infectious Diseases 23 (2023): 562, https://doi.org/10.1186/s12879-023-08452-0.

Vijayalaxmi V. Mogasale et al., “Estimating Typhoid Fever Risk Associated with Lack of Access to Safe Water: A Systematic Literature Review,” Journal of Environmental and Public Health 2018 (2018): 9589208, https://doi.org/10.1155/2018/9589208.

Sarah Brockett et al., “Associations among Water, Sanitation, and Hygiene, and Food Exposures and Typhoid Fever in Case–Control Studies: A Systematic Review and Meta-Analysis,” The American Journal of Tropical Medicine and Hygiene 103, no. 3 (2020): 1020–1031, https://doi.org/10.4269/ajtmh.19-0479.

Curated For You

Editorial Team

Related Article