Kehilangan anggota keluarga, rumah, pekerjaan, serta ketidakpastian mengenai orang yang masih hilang dapat menimbulkan tekanan psikologis. Korban longsor dapat mengalami konsekuensi kesehatan mental jangka pendek maupun panjang.
Metaanalisis tahun 2026 menemukan, orang yang mengalami banjir memiliki peluang lebih tinggi mengalami PTSD, depresi, dan kecemasan dibanding mereka yang tidak terpapar banjir. Pada sebagian penyintas, dampak kesehatan mental juga dapat dialami selama bertahun-tahun.
Singkatnya, setelah bahaya fisik berlalu, air tercemar, luka, hilangnya akses layanan kesehatan, dan trauma psikologis dapat menjadi bagian dari fase berikutnya dari bencana.
Referensi
World Health Organization, “Floods,” diakses Agustus 2026.
World Health Organization, “Landslides,” diakses Agustus 2026.
Brit Long, Alex Koyfman, and Michael Gottlieb, “Crush Injury and Syndrome: A Review for Emergency Clinicians,” American Journal of Emergency Medicine 69 (2023): 180–187.
Centers for Disease Control and Prevention, “Safety Guidelines: Floodwater,” diakses Agustus 2026.
Mohammad Saatchi et al., “Communicable Diseases Outbreaks after Natural Disasters: A Systematic Scoping Review for Incidence, Risk Factors and Recommendations,” Progress in Disaster Science 23 (2024): 100334, https://doi.org/10.1016/j.pdisas.2024.100334.
Zhengyu Yang et al., “Hospitalization Risks Associated with Floods in a Multi-Country Study,” Nature Water 3 (2025): 561–570, https://doi.org/10.1038/s44221-025-00425-8.
Suleiman Yakubu et al., “Flooding and the Risk of PTSD, Depression, and Anxiety: A Systematic Review and Meta-Analysis,” Environmental Research 296 (2026): 124063, https://doi.org/10.1016/j.envres.2026.124063.