Pneumonia dapat menimbulkan batuk, demam atau menggigil, sesak napas, kelelahan, dan nyeri dada.
Pada lansia, kebingungan juga dapat menjadi salah satu gejalanya.
Karena itu, penyintas gempa yang tidak mengalami cedera tetap perlu memperhatikan kondisi tubuh selama beberapa hari berikutnya. Batuk yang disertai demam dan sesak, terlebih pada lansia, anak kecil, atau orang dengan penyakit kronis, perlu dievaluasi medis.
Gempa memang berlangsung dalam hitungan detik atau menit, tetapi risiko kesehatannya bisa berlanjut jauh setelah guncangan berhenti—dan pneumonia adalah salah satu komplikasi yang bisa muncul tanpa satu pun luka akibat gempa.
Referensi
World Health Organization, “Pneumonia,” diakses Agustus 2026.
Centers for Disease Control and Prevention, “Infection Control Guidance for Community Evacuation Centers Following Disasters,” diakses Agustus 2026.
World Health Organization Regional Office for Europe, “Protecting Health after Earthquakes: Learning from a Community-Centred Approach in Türkiye,” diakses Agustus 2026.
Hisayoshi Daito et al., “Impact of the Tohoku Earthquake and Tsunami on Pneumonia Hospitalisations and Mortality among Adults in Northern Miyagi, Japan: A Multicentre Observational Study,” Thorax 68, no. 6 (2013): 544–550, https://doi.org/10.1136/thoraxjnl-2012-202658.
Keisuke Maeda, Hiroshi Shamoto, and Satoshi Furuya, “Feeding Support Team for Frail, Disabled, or Elderly People during the Early Phase of a Disaster,” Tohoku Journal of Experimental Medicine 242, no. 4 (2017): 259–261, https://doi.org/10.1620/tjem.242.259.
Shinya Ohkouchi et al., “Deterioration in Regional Health Status after the Acute Phase of a Great Disaster: Respiratory Physicians’ Experiences of the Great East Japan Earthquake,” Respiratory Investigation 51, no. 2 (2013): 50–55, https://doi.org/10.1016/j.resinv.2012.12.003.