Ketika penyintas gempa pindah ke tempat pengungsian, banyak orang tidur dan beraktivitas dalam ruang yang sama, sementara ventilasi, fasilitas kebersihan, dan akses air bersih mungkin terbatas.
Kepadatan dan keterbatasan sanitasi di pusat pengungsian dapat meningkatkan penyebaran penyakit menular, termasuk infeksi saluran pernapasan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan bahwa permukiman sementara yang padat serta terganggunya layanan kesehatan merupakan risiko kesehatan penting dalam minggu-minggu setelah gempa.
Sebagai contoh, setelah gempa dan tsunami Tohoku 2011 di Jepang, sebuah studi multisenter menemukan angka rawat inap akibat pneumonia meningkat 5,7 kali lipat selama tiga bulan setelah bencana, sedangkan kematian terkait pneumonia meningkat 8,9 kali lipat.
Yang menarik perhatian para peneliti, hanya 3,6 persen pasien pneumonia pascabencana yang mengalami hampir tenggelam akibat tsunami.