Awalnya, vaksin HPV direkomendasikan sebagai rangkaian tiga dosis untuk anak perempuan mulai usia 11 tahun, lalu diperluas untuk anak laki-laki.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sejak tahun 2022 merekomendasikan:
Jadwal satu atau dua dosis untuk anak perempuan usia 9–14 tahun.
Jadwal satu atau dua dosis untuk anak perempuan dan perempuan usia 15-20 tahun
Dua dosis dengan interval 6 bulan untuk perempuan di atas 21 tahun
Kementerian Kesehatan RI juga menerapkan jadwal serupa.
Beberapa negara bahkan menyediakan vaksin satu dosis karena lebih terjangkau bagi anggaran kesehatan mereka.
Walaupun banyak badan kesehatan yang masih menyarankan minimal dua dosis, tetapi penelitian makin kuat mendukung satu dosis saja sudah aman dan efektif. Studi dalam Journal of the National Cancer Institute pada 2024 merangkum 13 studi yang mendukung efektivitas vaksin HPV satu dosis. Ini dianggap kabar baik, karena kalau satu dosis terbukti efektif, maka makin banyak anak yang akan divaksinasi karena lebih praktis dan biaya pun lebih ringan.
Fakta menariknya, data awal efektivitas satu dosis justru muncul secara tidak sengaja. Dalam uji klinis di Kosta Rika pada tahun 2004, sekitar 20 persen peserta hanya menerima satu atau dua dosis karena tidak kembali untuk suntikan lanjutan. Namun, peneliti tetap memantau sampel serviks dan darah mereka selama bertahun-tahun, dan hasilnya tingkat infeksi HPV penyebab kanker serviks tetap rendah, tidak peduli berapa dosis yang diterima.
Uji klinis terkontrol pertama khusus satu dosis, yang dilakukan di Kenya, menunjukkan satu dosis saja lebih dari 97 persen efektif melawan HPV16 dan HPV18—jenis virus yang bertanggung jawab atas sekitar 70 persen kasus kanker serviks di dunia. Para peneliti menjelaskan bahwa HPV lebih sulit menetap dalam tubuh dibandingkan dengan virus lain, sehingga antibodi dari satu dosis vaksin saja cukup untuk melindungi tubuh.