Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sering Terbangun Tengah Malam, Apakah Ini Tanda Alzheimer?
ilustrasi terbangun dari tidur saat tengah malam (pexels.com/cottonbro studio)
  • Sering terbangun malam memiliki banyak kemungkinan penyebab dan bukan tanda khusus penyakit Alzheimer.

  • Penelitian menemukan hubungan tidur yang terputus-putus dengan risiko Alzheimer, tetapi tidak membuktikan sebab akibat.

  • Periksakan diri jika gangguan tidur mengganggu aktivitas, terutama jika disertai penurunan daya ingat atau kemampuan menjalani keseharian.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kamu terbangun dan mengira sudah pagi, ternyata masih tengah malam. Setelah mencoba tidur lagi, beberapa jam kemudian kamu terbangun untuk kedua kalinya. Dan, ini tidak cuma terjadi satu kali. Ketika keluhan ini berulang, beberapa orang mempertanyakan apakah ini kaitannya dengan masalah pada otak, misalnya penyakit Alzheimer.

Sering terbangun pada malam hari tidak berarti menandakan penyakit Alzheimer. Gangguan tidur memang dapat menyertai penyakit ini, tetapi juga dialami orang tanpa demensia.

1. Penyebabnya bisa berkaitan dengan keseharian

Stres, kecemasan, kebisingan, suhu kamar, serta konsumsi kafein atau alkohol dapat mengganggu tidur. Nyeri berkepanjangan, menopause, dan sejumlah obat juga bisa berperan. Sering terbangun malam sendiri termasuk salah satu keluhan insomnia.

Kemungkinan lainnya adalah sleep apnea, yaitu gangguan ketika napas berulang kali berhenti sementara saat tidur. Kondisi ini dapat membuat tidur terputus-putus dan perlu diperiksa oleh dokter.

2. Penelitian menemukan kaitan, tetapi bukan alat diagnosis

ilustrasi terbangun dari tidur pada malam hari (pexels.com/cottonbro studio)

Penelitian dalam jurnal Sleep mengikuti 737 lansia yang belum mengalami demensia. Peneliti menilai keterputusan tidur menggunakan alat pemantau gerakan di pergelangan tangan selama hingga 10 hari, lalu memantau kemampuan berpikir peserta.

Selama masa tindak lanjut rata-rata 3,3 tahun, 97 peserta mengalami Alzheimer. Tidur yang lebih terputus-putus berkaitan dengan risiko Alzheimer yang lebih tinggi serta penurunan kemampuan berpikir yang lebih cepat.

Namun, penelitian ini bersifat observasional. Hasilnya tidak membuktikan bahwa sering terbangun menyebabkan Alzheimer, maupun bahwa seseorang yang mengalami keluhan tersebut pasti akan mengalaminya. Penelitian pada lansia ini juga tidak bisa langsung digunakan untuk memperkirakan risiko semua kelompok usia.

3. Alzheimer juga dapat mengubah pola tidur

Pada orang yang sudah mengalami penyakit Alzheimer, perubahan di otak dapat memengaruhi tidur. Mereka mungkin lebih sering terbangun, lebih lama terjaga pada malam hari, atau lebih banyak tidur pada siang hari. Perubahan ini lebih umum pada tahap lanjut, meskipun dapat ditemukan lebih awal.

Gangguan tidur dapat menyertai penyakit Alzheimer, sementara penelitian juga mengaitkan tidur yang terputus-putus dengan risiko Alzheimer di kemudian hari. Kedua temuan tersebut tidak menjadikan terbangun malam sebagai penanda tunggal penyakit neurodegeneratif ini.

4. Perhatikan perubahan saat beraktivitas

Tanda yang perlu segera diperiksakan mencakup berulang kali menanyakan hal yang sama, melupakan informasi baru hingga mengganggu keseharian, kesulitan mengurus tagihan, atau kebingungan di tempat yang familier.

Untuk keluhan tidur, mulailah dengan waktu bangun yang konsisten, kamar yang tenang dan gelap, serta hindari kafein menjelang waktu tidur.

Temui dokter jika keluhan menetap, perubahan kebiasaan tidak membantu, atau aktivitas harian terganggu. Kamu tidak perlu menunggu munculnya masalah ingatan untuk mencari pertolongan atas tidur yang terus terganggu.

Referensi

Alzheimer’s Association, “Treatments for Sleep Changes,” diakses September 2026.

NHS, “Insomnia,” terakhir ditinjau 19 Maret 2024, diakses September 2026.

Andrew S. P. Lim et al., “Sleep Fragmentation and the Risk of Incident Alzheimer’s Disease and Cognitive Decline in Older Persons,” Sleep 36, no. 7 (2013): 1027–32, https://doi.org/10.5665/sleep.2802.

Alzheimer’s Association, “10 Early Signs and Symptoms of Alzheimer’s and Dementia,” diakses September 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article