Penguatan ekosistem dan kapabilitas klinis tersebut telah menghasilkan berbagai capaian yang terukur dalam praktik robotik di Siloam. Dokter Grace Frelita, MM, Chief Medical Officer Siloam International Hospitals menjelaskan bahwa pemanfaatan bedah robotik menunjukkan manfaat yang terukur dalam aspek presisi, keselamatan, dan pemulihan pasien.
“Melalui Siloam Knee Arthroplasty Registry yang membandingkan operasi lutut robotik dan konvensional dari empat rumah sakit Siloam, kami menemukan tingkat keamanan yang setara, dengan 0 persen readmisi 30 hari dan 0 persen infeksi pada kedua kelompok,” dr. Grace mengatakan.
Namun, pasien yang menjalani prosedur robotik menunjukkan pemulihan lebih cepat dengan rata-rata lama rawat inap 4,5 hari dibanding 6,2 hari pada prosedur konvensional. Dari sisi presisi, hampir seluruh prosedur robotic yang dievaluasi mencapai target keseimbangan sendi lutut sesuai rencana operasi.
Temuan ini sejalan dengan berbagai penelitian internasional yang menunjukkan bahwa teknologi robotik mendukung tingkat presisi yang tinggi dalam operasi penggantian sendi lutut.
Melalui Siloam Robotic Summit 2026, Siloam menegaskan komitmennya untuk memperkuat kapabilitas klinis sekaligus mempercepat pengembangan ekosistem bedah robotik di Indonesia melalui kolaborasi, pendidikan, penelitian, dan inovasi klinis.
Dengan mempertemukan para ahli dari berbagai disiplin dan negara, rumah sakit mendorong transfer pengetahuan serta adopsi praktik bedah presisi guna memperluas akses masyarakat terhadap layanan bedah minimal invasif berstandar global, sehingga manfaat teknologi ini dapat dirasakan oleh lebih banyak pasien di seluruh Indonesia.