Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Studi Indonesia: Dari Gejala Stroke hingga Trombektomi 7 Jam 48 Menit

5 min read
Studi Indonesia: Dari Gejala Stroke hingga Trombektomi 7 Jam 48 Menit
ilustrasi pasien stroke menjalani CT scan (IDN Times/NRF)
  • Studi preprint di dua rumah sakit rujukan Jakarta mencatat median 468 menit, atau 7 jam 48 menit, dari munculnya gejala stroke hingga dimulainya trombektomi pada 259 pasien.

  • CT scan median dilakukan 9 menit setelah pasien tiba, tetapi keputusan tindakan memerlukan 101 menit dan tindakan dimulai 272 menit kemudian; hambatan utama muncul setelah pencitraan.

  • Keterlambatan juga terjadi sebelum rumah sakit dan saat rujukan antarfasilitas. Gejala stroke "FAST" perlu dikenali, pertolongan medis segera dicari, serta waktu terakhir pasien normal dicatat.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pada stroke, waktu sangat menentukan. Namun, perjalanan pasien menuju pengobatan tidak hanya berlangsung di ruang gawat darurat. Waktu terus berjalan sejak gejala muncul, saat keluarga mengenali kondisi tersebut, saat pasien dipindahkan ke rumah sakit, hingga tim medis menyiapkan tindakan.

Sebuah studi preprint yang meneliti jalur penanganan trombektomi di dua rumah sakit rujukan tersier di Jakarta mencatat median 468 menit, atau 7 jam 48 menit, sejak gejala stroke muncul hingga dimulainya tindakan melalui pembuluh darah di lipat paha.

Tindakan tersebut disebut groin puncture, yaitu saat dokter mulai memasukkan kateter melalui pembuluh darah di lipat paha untuk mencapai pembuluh darah otak yang tersumbat.

  1. Angka 468 menit bukan waktu tunggu semua pasien

    Dalam penelitian berjudul “Time Metrics of Acute Stroke Pathways for Mechanical Thrombectomy in Indonesia”, peneliti meninjau pasien yang menjalani trombektomi di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo dan Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono pada periode 2017–2025.

    Dari 330 pasien yang tercatat, sebanyak 71 dikeluarkan karena data penting tidak lengkap. Analisis akhir mencakup 259 pasien.

    Angka 468 menit merupakan median, bukan rata-rata dan bukan waktu maksimum. Artinya, sekitar separuh pasien dalam kelompok penelitian mencapai tahap tersebut dalam waktu kurang dari 468 menit, sementara separuh lainnya butuh waktu lebih lama.

    Angka ini juga tidak berlaku untuk semua pasien stroke. Trombektomi hanya diberikan kepada pasien tertentu, terutama pasien stroke iskemik dengan sumbatan pembuluh darah besar atau large vessel occlusion yang memenuhi kriteria pemeriksaan dan tindakan.

    Studi tersebut masih berupa preprint sehingga belum melalui proses peer review. Karena itu, hasilnya merupakan gambaran awal mengenai alur penanganan trombektomi di dua rumah sakit rujukan.

  2. Di mana waktu paling banyak terpakai?

    Peneliti mencatat beberapa ukuran waktu dalam perjalanan pasien.

    Median waktu dari pasien tiba di rumah sakit hingga CT scan adalah 9 menit. Namun, median dari kedatangan hingga keputusan tindakan mencapai 101 menit, sedangkan waktu dari kedatangan hingga dimulainya tindakan di lipat paha mencapai 272 menit (272 menit).

    Temuan tersebut menunjukkan bahwa pemeriksaan awal bisa berlangsung cepat, tetapi waktu masih dapat terpakai setelah pencitraan dilakukan. Dokter perlu menilai hasil pemeriksaan, memastikan pasien memenuhi syarat, menghubungi tim terkait, memperoleh persetujuan tindakan, dan menyiapkan ruang serta peralatan.

    Peneliti menyebut keterlambatan setelah pemeriksaan pencitraan sebagai salah satu hambatan utama di rumah sakit. Mereka merekomendasikan perbaikan pada proses pengambilan keputusan, mobilisasi tim, dan koordinasi sebelum pasien tiba di rumah sakit.

  3. Rujukan dan ketimpangan layanan ikut berperan

    Menurut laporan ASEAN Stroke Response Insights Report dari Siemens Healthineers yang dirilis pada September 2026 menyebut 231 kabupaten atau kota telah memiliki kemampuan trombolisis, sedangkan 81 wilayah memiliki layanan trombektomi. Sayangnya, pusat layanan trombektomi masih lebih banyak terkonsentrasi di wilayah barat Indonesia.

    Akibatnya, pasien dengan sumbatan pembuluh darah besar bisa perlu dipindahkan dari rumah sakit pertama ke pusat rujukan yang memiliki fasilitas dan tenaga untuk melakukan trombektomi. Proses ini mencakup komunikasi antarrumah sakit, pemeriksaan, transportasi, administrasi, pencitraan ulang, serta persiapan tim tindakan.

    Laporan tersebut menyebut keterlambatan sistemik banyak terjadi pada tahap prarumah sakit dan transfer antarfasilitas. Karena itu, rujukan idealnya bukan cuma jarak rumah sakit, tetapi juga pada kemampuan fasilitas dalam memberikan pengobatan yang dibutuhkan.

  4. Penelitian lain menunjukkan keterlambatan sebelum tiba di rumah sakit

    Studi peer-reviewed terhadap 126 pasien stroke iskemik akut di tiga rumah sakit di Surabaya juga menemukan masalah pada tahap sebelum pasien tiba di rumah sakit.

    Penelitian tahun 2019 tersebut mencatat rata-rata keterlambatan prarumah sakit sebesar 1.004 menit (16 jam 44 menit) dan rata-rata waktu menuju CT scan sebesar 189 menit (3 jam 9 menit).

    Hanya 18 dari 126 pasien yang tiba dalam jendela waktu 4,5 jam untuk trombolisis intravena. Pada akhirnya, hanya tiga pasien yang menerima terapi tersebut.

    Peneliti mengaitkan keterlambatan dengan kurangnya pemahaman tentang gejala dan kegawatan stroke, kondisi stroke yang muncul saat pasien tidur, serta sistem rujukan yang belum efektif.

    Lokasi, periode, dan ukuran waktu studi ini berbeda dari studi preprint Jakarta, sehingga angkanya tidak dapat dibandingkan secara langsung. Meski demikian, keduanya sama-sama menunjukkan bahwa waktu dapat terbuang sebelum pasien memperoleh terapi yang dibutuhkan.

  5. Kenali gejala dan segera cari pertolongan medis

    Ilustrasi stroke sebagai kondisi medis akibat gangguan aliran darah ke otak yang memerlukan penanganan segera.
    ilustrasi stroke (IDN Times/Novaya Siantita)

    Masyarakat dapat mengingat tanda stroke melalui prinsip FAST, yaitu:

    • Face: salah satu sisi wajah turun atau mencong.
    • Arm: salah satu lengan tiba-tiba lemah atau sulit diangkat.
    • Speech: bicara pelo, sulit berbicara, atau sulit memahami ucapan.
    • Time: segera mencari pertolongan medis.

    Catat waktu ketika pasien terakhir kali terlihat normal. Informasi ini penting karena dokter menggunakannya untuk menentukan pilihan pemeriksaan dan terapi.

    Penanganan stroke yang lebih cepat membutuhkan rantai layanan yang terhubung, mulai dari pengenalan gejala, transportasi, pemeriksaan pencitraan, komunikasi rujukan, hingga kesiapan tenaga dan ruang tindakan.

    Angka 468 menit atau 7 jam 48 menit dalam studi preprint ini tidak menggambarkan pengalaman setiap pasien, tetapi menunjukkan bagaimana berbagai tahapan dapat terakumulasi dalam perjalanan menuju terapi.

    Referensi

    Affan Priyambodo Permana et al., “Time Metrics of Acute Stroke Pathways for Mechanical Thrombectomy in Indonesia: A Descriptive Study on Two Tertiary Major Hospitals,” medRxiv preprint, July 16, 2026, https://doi.org/10.64898/2026.07.14.26358067.

    Rizqi Haqqum Minalloh et al., “Pre-Hospital and In-Hospital Delay in Acute Ischemic Stroke Patients in Indonesia: A Multi-center Study,” Indonesian Journal of Pharmacy 33, no. 2 (2022): 299–306, https://doi.org/10.22146/ijp.2036.

    Siemens Healthineers, ASEAN Stroke Response Insights Report: Strengthening Stroke System Readiness Across ASEAN (2026).

    William J. Powers et al., “2019 Update to the 2018 Guidelines for the Early Management of Acute Ischemic Stroke,” Stroke 50, no. 12 (2019): e344–e418, https://doi.org/10.1161/STR.0000000000000211.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More