- Nyeri saat ereksi.
- Benjolan atau bagian yang terasa keras.
- Penis terlihat semakin pendek.
- Penyempitan atau lekukan pada batang.
- Bentuk menyerupai jam pasir.
- Kesulitan mempertahankan ereksi.
- Hubungan seksual menjadi sulit atau nyeri.
Jenis Penis Laki-laki Berdasarkan Bentuknya

Secara medis tidak ada klasifikasi resmi penis berdasarkan bentuk seperti “pisang”, “jamur”, atau istilah populer lainnya.
Penis bisa lurus atau melengkung ke atas, bawah, maupun samping. Kelengkungan ringan yang sudah ada sejak lama dan tidak menimbulkan keluhan umumnya bukan masalah.
Kelengkungan yang baru muncul, makin berat, terasa nyeri, disertai benjolan keras, atau membuat batang menyempit seperti jam pasir perlu diperiksa karena dapat mengarah pada penyakit Peyronie.
Ketika membandingkan penis, laki-laki sering kali hanya terpaku pada ukuran. Padahal, banyak ciri lain yang bisa menjadi perhatian. Salah satunya adalah bentuknya. Panjang, lingkar, proporsi kepala dan batang, arah saat ereksi, hingga derajat kelengkungannya dapat berbeda antara satu laki-laki dan lainnya.
Perlu diluruskan bahwa dalam dunia kedokteran tidak ada daftar resmi jenis penis berdasarkan bentuk. Penelitian anatomi lebih sering mengukur panjang, lingkar batang, diameter glans, atau derajat dan arah kelengkungan dibanding memberi label bentuk tertentu.
Jika dilihat dari kontur dan arah saat ereksi, beberapa variasi berikut dapat ditemukan. Simak berikut ini!
Table of Content
1. Penis relatif lurus
Sebagian penis terlihat hampir lurus ketika ereksi. Namun, “lurus” tidak harus berarti tanpa sedikit pun penyimpangan. Sedikit kelengkungan masih bisa menjadi variasi anatomi normal. Penis dapat sedikit mengarah ke kanan, kiri, atas, maupun bawah tanpa adanya penyakit.
Bentuk penis dipengaruhi oleh susunan jaringan erektilnya. Batang terutama terdiri dari sepasang corpora cavernosa serta corpus spongiosum, yang berlanjut membentuk glans atau kepala penis. Perbedaan perkembangan dan elastisitas jaringan tersebut dapat menghasilkan kontur yang sedikit berbeda antarindividu.
2. Melengkung ke atas
Ada penis yang saat ereksi mengarah atau melengkung ke atas (dorsal curvature atau lengkungan dorsal). Kelengkungan seperti ini tidak otomatis abnormal jika sudah ada sejak pubertas atau sejak seseorang mulai memperhatikan ereksinya, tidak bertambah berat, tidak terasa sakit, serta tidak mengganggu fungsi seksual.
Dalam kasus kelengkungan penis bawaan (congenital penile curvature), atau kelengkungan yang terbentuk sejak perkembangan penis, arah ke atas sebenarnya lebih jarang dibanding kelengkungan ke bawah atau ke samping.
Pedoman European Association of Urology (EAU) mencatat sekitar 5 persen kasus kongenital dalam data yang dikutipnya memiliki arah dorsal.
3. Melengkung ke bawah

ilustrasi penis melengkung ke bawah (pexels.com/Deon Black) Kelengkungan ke bawah (ventral curvature) merupakan arah yang paling sering ditemukan pada kelengkungan penis bawaan.
EAU mencatat sekitar 48 persen kelengkungan penis kongenital mengarah ke bawah. Kondisi ini diyakini berkaitan dengan perkembangan jaringan penis yang tidak sepenuhnya simetris.
Kelengkungan kongenital biasanya baru terlihat jelas ketika seseorang mulai mengalami ereksi setelah pubertas. Jika ringan dan tidak menimbulkan masalah, terapi tidak selalu dibutuhkan.
4. Melengkung ke kiri atau kanan
Penis juga dapat sedikit mengarah ke salah satu sisi ketika ereksi.
Dalam data EAU, kelengkungan lateral atau ke samping ditemukan pada sekitar 24 persen kasus kelengkungan penis bawaan.
Survei populasi terhadap 1.782 laki-laki usia 35–75 tahun di Australia juga menunjukkan kelengkungan bukan keluhan langka: sekitar 19 persen responden melaporkan adanya lengkungan pada penis. Namun, penelitian tersebut menggunakan laporan mandiri dan tidak berarti seluruh kelengkungan yang ditemukan merupakan kelainan medis.
5. Memiliki kelengkungan gabungan atau seperti huruf S
Tidak semua penis hanya melengkung dalam satu arah. Sebagian mempunyai kelengkungan pada lebih dari satu bidang sehingga dari sudut tertentu dapat tampak seperti huruf S (multiplanar).
Pada kelengkungan penis bawaan, EAU melaporkan kombinasi kelengkungan ke bawah dan samping pada sekitar 23 persen kasus.
Bentuk multiplanar juga dapat terjadi pada penyakit Peyronie. Karena itu, hal yang lebih penting diperhatikan adalah sejak kapan kelengkungan tersebut ada dan apakah bentuk penis berubah dari sebelumnya.
6. Penis tampak sedikit berputar

ilustrasi masalah pada penis (magnific.com/benzoix) Selain melengkung, sebagian penis dapat terlihat mengalami rotasi pada porosnya. Kondisi ini disebut torsio penis (penile torsion).
Derajat rotasinya bisa sangat ringan hingga terlihat jelas. Torsio penis dapat merupakan variasi kongenital dan kadang ditemukan bersamaan dengan kelainan lain seperti hipospadia atau kelengkungan penis bawaan.
Jika rotasinya ringan dan tidak mengganggu buang air kecil maupun fungsi seksual, penanganan tidak selalu diperlukan.
Bagaimana dengan penis berbentuk seperti jamur atau bagian kepalanya lebih besar?
Istilah seperti mushroom-shaped, cone-shaped, atau penis dengan glans besar sering muncul dalam artikel populer. Namun, itu bukan klasifikasi medis standar.
Glans dan batang memang merupakan struktur yang secara anatomi berbeda. Tinjauan dalam jurnal Sexual Medicine Reviews menjelaskan bahwa keduanya berbeda dalam susunan jaringan erektil, persarafan, pembuluh darah, hingga struktur histologinya.
Karena itu, proporsi glans terhadap batang dapat berbeda antara individu. Studi terhadap lebih dari 14 ribu laki-laki di Vietnam, misalnya, mengukur diameter glans dan lingkar batang sebagai parameter yang terpisah—menunjukkan bahwa keduanya memang mempunyai variasi antropometri sendiri.
Selama bentuk tersebut sudah lama ada dan tidak menimbulkan gejala mengganggu, perbedaan proporsi kepala dan batang biasanya dianggap merupakan variasi anatomi.
Kapan bentuk penis tidak lagi dianggap sebagai variasi normal?
Perhatikan perubahan bentuk yang baru muncul saat dewasa. Penyakit Peyronie terjadi ketika terbentuk jaringan parut atau plaque pada tunica albuginea, lapisan fibrosa yang membungkus jaringan erektil. Jaringan parut tersebut dapat menarik satu sisi penis sehingga muncul kelengkungan baru.
Keluhan lainnya dapat berupa:
Pada penelitian terhadap pasien Peyronie, deformitas tidak selalu berupa kelengkungan. Para peneliti juga menemukan indentasi satu sisi, penyempitan seperti jam pasir, dan bagian distal penis yang makin mengecil.
Berapa derajat kelengkungan yang masih normal?

ilustrasi jenis bentuk penis (pexels.com/Dainis Graveris) EAU menyebut kelengkungan kongenital lebih dari 30 derajat umumnya dianggap signifikan secara klinis, tetapi menekankan bahwa sebagian laki-laki dengan kelengkungan lebih besar pun tidak mengalami masalah.
Faktor yang lebih menentukan kebutuhan terapi adalah apakah kelengkungan mengganggu fungsi, menimbulkan nyeri, atau menyebabkan masalah saat berhubungan seksual.
Yang lebih disarankan untuk diperiksa adalah jika ada perubahan pada penis. Penis yang sebelumnya relatif lurus kemudian melengkung, kelengkungan makin berat, muncul rasa sakit atau jaringan keras, atau bentuknya mulai mengganggu fungsi seksual. Dalam situasi ini, dokter urologi dapat membantu membedakan variasi anatomi normal dari penyakit seperti Peyronie.
Referensi
David Veale et al., “Am I Normal? A Systematic Review and Construction of Nomograms for Flaccid and Erect Penis Length and Circumference in up to 15,521 Men,” BJU International 115, no. 6 (2015): 978–86, doi:10.1111/bju.13010.
Cleveland Clinic, “Penile Curvature: What It Means & What’s Normal,” diakses Agustus 2026.
Letian Wei et al., “Differences between the Glans and Shaft of the Penis: A Review,” Sexual Medicine Reviews 12, no. 4 (2024): 659–63, doi:10.1093/sxmrev/qeae019.
European Association of Urology, “Congenital Penile Curvature,” EAU Guidelines on Paediatric Urology, 2026.
Eric Chung et al., “Prevalence of Penile Curvature: A Population-Based Cross-Sectional Study in Metropolitan and Rural Cities in Australia,” BJU International 122, suppl. 5 (2018), doi:10.1111/bju.14605.
Nguyen Hoai Bac et al., “Data from 14,597 Penile Measurements of Vietnamese Men,” Andrology 9, no. 3 (2021): 906–15.
Jacob M. Margolin et al., “Beyond Curvature: Prevalence and Characteristics of Penile Volume-Loss Deformities in Men with Peyronie’s Disease,” Sexual Medicine 6, no. 4 (2018): 309–15, doi:10.1016/j.esxm.2018.09.004.




![[QUIZ] Tebak Mana Olahraga Low Impact dan High Impact](https://image.idntimes.com/post/20260811/gambar-artikel-88_a0d2c204-98d6-41f0-954e-b4f448a7c9b1.png)



![[QUIZ] Mana yang Lebih Tinggi Natrium? Kamu Bisa Tebak?](https://image.idntimes.com/post/20260804/mwuep2hrca5w9qlbdxkci8rch_0a3c7963-22c0-42a8-afa2-de6c989c3307.png)












