Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
4 Kebiasaan Digital yang Diam-diam Menguras Energi, Kelihatannya Sepele!
Ilustrasi kebiasaan digital (pexels.com/Anastasia Shuraeva)
  • Doomscrolling, atau menggulir konten negatif terus-menerus, dapat memicu stres, kecemasan, kelelahan mental, sulit konsentrasi, gangguan tidur, hingga sakit kepala.
  • Digital hoarding terjadi saat foto, screenshot, e-mail, file, dan bookmark menumpuk tanpa digunakan, sehingga menciptakan stres, kekacauan, serta beban mental saat membuka perangkat.
  • Multitasking digital dan kebiasaan mengecek notifikasi membuat fokus sering berpindah, membagi perhatian, menurunkan konsentrasi, memicu kelelahan kognitif, dan membuat pikiran terus siaga.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sebagai generasi yang terhubung dengan dunia digital, tidak terasa kita punya 'kebiasaan digital' yang tanpa disadari menghabiskan waktu dan energi. Kebiasaan tersebut dapat membuat pikiran terus menerima informasi, berpindah fokus, dan berada dalam kondisi siap merespons sepanjang hari.

Jika tidak disadari dan diatur kembali, aktivitas kita sehari-hari bisa terpengaruh hingga ke kesehatan mental, lho! Lantas, apa saja kebiasaan digital yang diam-diam menguras energi? Cari tahu di sini!

1. Doomscrolling

Ilustrasi kebiasaan digital (pexels.com/Vitaly Gariev)

Doomscrolling adalah kebiasaan terus-menerus menggulir konten di media sosial atau aplikasi berita yang bernada negatif, di mana satu unggahan demi unggahan lainnya membuatmu terus terpaku. Seiring waktu, gempuran scroll ini dapat berdampak buruk pada kesehatan mental dan fisik.

"Doomscrolling dapat menggelapkan pandangan terhadap dunia sekaligus menciptakan stres, kecemasan, dan kelelahan mental. Rasanya seperti melangkah ke pasir hisap. Negativitas dapat dengan cepat menarik kamu ke bawah," kata psikolog Susan Albers, PsyD, menggambarkan dampak doomscrolling, mengutip laman Cleveland Clinic.

Doomscrolling diam-diam menguras energi karena berdampak buruk pada pikiran, tubuh, dan kebiasaan sehari-hari. Berikut dampak kesehatan mental dan fisik dari doomscrolling:

  • Secara mental: kebiasaan ini dapat meningkatkan kecemasan dan stres sekaligus menciptakan perasaan tidak berdaya serta putus asa. Seiring waktu, hal ini juga dapat menyebabkan kelelahan mental dan kesulitan berkonsentrasi.

  • Secara fisik: menghabiskan waktu lama terpaku pada konten yang mengganggu, dapat mengusik waktu tidur, terutama jika membuka media sosial di malam hari. Negativitas tanpa henti juga dapat menciptakan rasa tegang, kelelahan, atau terlalu terstimulasi. Sakit kepala juga bisa terjadi.

2. Digital hoarding

Ilustrasi kebiasaan digital (pexels.com/Plann)

Perilaku menimbun (hoarding) melibatkan akumulasi benda fisik yang berlebihan dan keengganan terus-menerus untuk melepaskannya. Hoarding disorder adalah kondisi kesehatan mental yang diakui, dengan dampak mendalam pada individu dan orang-orang terkasih mereka.

Di era teknologi, kekacauan digital (digital clutter) menjadi masalah yang semakin meningkat dalam kehidupan. Lonjakan e-mail yang diterima hingga terjadi peningkatan kapasitas penyimpanan foto dan video. Semuanya telah menyebabkan peningkatan signifikan dalam volume file digital yang disimpan.

Psikolog Richard Brown PhD pada tulisannya yang berjudul "5 Warning Signs You’re a Digital Hoarder" yang dipublikasikan di laman Psychology Today, mengatakan perilaku hoarding juga bisa terjadi di dunia digital. Namanya adalah digital hoarding.

"Digital hoarding didefinisikan sebagai akumulasi file digital hingga kehilangan perspektif, yang pada akhirnya mengakibatkan stres dan kekacauan. Para 'penimbun digital' sering mengumpulkan sejumlah besar konten digital dan kesulitan dalam mengatur serta membuang file mereka yang ekstensif," ungkap Brown.

Menyimpan terlalu banyak foto, screenshot, file, e-mail, atau bookmark yang sebenarnya tidak pernah digunakan, juga dapat menciptakan “beban mental” kecil setiap kali membuka perangkat.

3. Digital multitasking

Ilustrasi kebiasaan digital (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Meskipun seharusnya berupaya untuk fokus pada satu tugas saja, kita memiliki perangkat dan sumber daya teknologi yang memupuk kebiasaan multitasking. Dengan smartphone di tangan dan earbud terpasang, kita merasa mampu menyelesaikan semua tugas harian sekaligus atau tetap terhubung secara terus-menerus.

Aktivitas bersamaan ini membiasakan diri untuk berpindah fokus dengan cepat antar-aplikasi dan tugas dalam waktu singkat. Tanpa sadar, kebiasaan digital ini diam-diam menguras energi hingga menghambat kemampuan untuk melakukan tugas-tugas sederhana sekalipun. Hal ini dapat berdampak sangat negatif pada perhatian, pembelajaran, dan mindfulness.

Terlalu sering berpindah platform termasuk digital multitasking, misalnya dari Instagram, TikTok, WhatsApp, lalu kembali ke e-mail. Sementara itu, banyak membuka tab atau aplikasi juga membuat perhatian terbagi dan pekerjaan terasa lebih melelahkan. Pergantian konteks terus-menerus menguras kapasitas perhatian.

4. Mengecek notifikasi

Ilustrasi kebiasaan digital (pexels.com/SHVETS production)

Mengecek notifikasi HP maupun di peringkat digital lainnya terdengar kebiasaan sepele, namun ternyata dapat mengurangi energi mental karena otak harus terus-menerus memindahkan fokus dan memproses informasi baru dalam waktu singkat. Proses peralihan ini memicu kelelahan kognitif meskipun tubuh tidak bergerak.

Selain diam-diam menguras energi, mengecek notifikasi hp menurunkan konsentrasi. Bunyi atau getaran kecil saja sudah cukup memecah fokus dan memperlambat kerja otak. Kebiasaan digital ini bahkan juga memicu rasa cemas alias membuat pikiran siaga terus, berujung pada rasa lelah berlebihan.

Nah, itulah kebiasaan digital yang diam-diam menguras energi, baik mental maupun fisik. So, kamu wajib mengatur penggunaan media digital dan bijaksana dalam memakainya,agar tidak berlebihan!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article