ilustrasi ramah (pexels.com/Ernst-Günther Krause)
Ada orang yang bisa sangat sopan ketika berbicara dengan atasan, orang berpengaruh, atau seseorang yang dianggap dapat membantu kariernya. Nada bicaranya lembut, perhatiannya lebih besar, bahkan hal kecil yang dilakukan orang tersebut bisa mendapat respons yang sangat baik. Namun, ketika berhadapan dengan orang yang dianggap tidak punya pengaruh terhadap kehidupannya, sikapnya berubah menjadi jauh lebih kasar atau bahkan meremehkan. Perubahan tersebut sering kali terlihat jelas dari cara berbicara kepada pelayan, petugas keamanan, pegawai toko, atau orang lain yang dianggap tidak perlu dijaga kesannya.
Tentu saja, cara berbicara memang dapat menyesuaikan dengan situasi dan hubungan seseorang dengan lawan bicaranya. Bersikap formal kepada atasan dan lebih santai kepada teman bukan berarti seseorang sedang berpura-pura. Yang berbeda adalah rasa hormat yang tetap ada meskipun orang di hadapannya tidak punya sesuatu untuk diberikan. Kalau keramahan hanya muncul kepada mereka yang memiliki jabatan, uang, koneksi, atau pengaruh, sementara orang lain diperlakukan sesuka hati, kebaikan tersebut akan lebih mudah dibaca sebagai bagian dari citra yang ingin ditampilkan daripada sikap yang benar-benar melekat pada dirinya.
Perilaku baik memang tidak harus selalu dilakukan diam-diam agar bisa disebut tulus. Ada orang yang senang membantu secara terbuka, membagikan pengalamannya, atau aktif menyuarakan persoalan yang sedang ramai, dan itu belum tentu berarti ia sedang mencari perhatian. Situasi yang membuat perilaku baik terlihat performative justru ketika pola tersebut terus berulang dan tindakan baik tampak lebih bergantung pada penonton, pengakuan, keuntungan, atau posisi orang yang sedang dihadapi.