ilustrasi media sosial (unsplash.com/Sweet Life)
Terakhir, tanda dukunganmu mulai terlihat seperti performative activism adalah bantuan yang berhenti di level media sosial. Sebenarnya, media sosial memang bisa menjadi tempat penting untuk menyebarkan informasi dan membuat sebuah isu diketahui lebih banyak orang. Namun, ketika seluruh dukungan hanya berupa unggahan, repost, atau penggunaan tagar, kontribusinya bisa berhenti pada ruang digital. Setelah membagikan sesuatu, tidak ada tindakan lain yang kamu lakukan meskipun sebenarnya ada banyak cara untuk terlibat sesuai kemampuan.
Bentuk dukungan tidak selalu harus berupa donasi besar atau keterlibatan langsung dalam aksi. Kamu bisa membaca sumber yang kredibel, membeli produk dari kelompok yang terdampak, menghadiri kegiatan edukasi, membantu menyebarkan informasi yang benar, atau memberikan dukungan kepada organisasi yang memang bekerja pada isu tersebut. Pilihannya tentu berbeda untuk setiap persoalan dan tidak semuanya harus dilakukan.
Sebab yang perlu diperhatikan adalah apakah unggahan menjadi tujuan akhir atau hanya salah satu cara untuk melakukan sesuatu yang lebih berarti. Kalau setelah menekan tombol unggah kamu merasa sudah menyelesaikan kewajiban terhadap sebuah isu, padahal tidak ada usaha lain untuk memahami atau membantu, dukungan tersebut layak diperiksa kembali. Sebab kepedulian tidak selalu membutuhkan penonton untuk bisa tetap dilakukan.
Sebenarnya sulit menentukan apakah seseorang benar-benar peduli terhadap sebuah isu atau tidak. Seseorang bisa saja salah memahami persoalan, terlalu terbawa suasana, atau baru mulai belajar, tanpa berarti seluruh dukungannya palsu. Hal terpenting adalah melihat kembali alasan di balik tindakanmu, terutama ketika tidak ada yang memperhatikan apakah kamu ikut bersuara atau tidak.