2 Tahun Sekolah Roboh, Murid SDN Kebayoran Lama 09 Ketakutan Tertimpa

- Ratusan siswa SDN Kebayoran Lama Selatan 09 terpaksa menumpang belajar di SDN Kebayoran 11 selama dua tahun akibat bangunan sekolah mereka hampir roboh.
- Bangunan sekolah ambruk pada 27 November 2024 saat libur Pilkada, diduga karena kondisi struktur yang sudah rapuh dan hujan deras, beruntung tidak ada korban jiwa.
- Siswa harus belajar bergantian hingga tiga shift dan berharap pembangunan kembali sekolah segera dilakukan agar kegiatan belajar bisa berlangsung normal dan nyaman.
Jakarta, IDN Times –Ratusan siswa SD Negeri Kebayoran Lama Selatan 09, Jakarta Selatan merasa khawatir apabila bangunan kelas yang sudah hampir roboh akan melukai mereka saat beraktivitas di sekitar sekolah.
Meski, mereka melakukan pembelajaran di SDN Kebayoran 11 namun siswa masih menjalankan aktivitas di sekitar sekolah seperti olahraga dan bermain.
"Takut tiba-tiba jatuh atau roboh. Takut kalau kita kegiatan di sini roboh takut terkena orang. Pingin dibangun cepat, dibangun di SD sebelah," ucap siswa SDN Kebayoran 9 saat berolahraga di lokasi, Senin (20/7/2026).
1. Ratusan siswa terpaksa menumpang di SDN Kebayoran 11

Kepala SDN Kebayoran Lama Selatan 09, Kenhayati Dwi Rahmini mengatakan sebanyak 274 siswa terpaksa menumpang belajar di SDN Kebayoran Lama Selatan 11. Keterbatasan ruang membuat kegiatan belajar mengajar dilakukan bergantian hingga tiga shift selama dua tahun.
"Siswanya itu sementara menumpang di sebelah, Itu siswanya 274 kalau gak salah. Ada 10 rombel (rombongan belajar)," ucapnya saat ditemui IDN Times di lokasi, Senin (20/7/2026).
2. Bangunan roboh saat Pilkada

Kenhayati mengingat kembali peristiwa yang mengubah aktivitas belajar di sekolahnya. Saat itu, sekolah libur karena bertepatan dengan momen Pilkada tepatnya 27 November 2024.
Kenhayati menduga bangunan roboh karena sudah rapuh sehingga pada pagi hari, penjaga sekolah mendengar suara atap jatuh. Terlihat rangka jatuh hingga atapnya berkeping-keping. Beruntung tidak ada korban.
"Robohnya itu saat libur Pilkada, tepatnya 27 November 2024. Awalnya atapnya melengkung namun setelah hujan deras menjelang Magrib akhirnya ambruk," ujarnya kepada IDN Times.
3. Siswa harus berbagi kelas

Sejak insiden itu, ratusan siswa harus berbagi kelas dengan menumpang di sekolah tetangga. Kenhayati memaparkan siswa kelas 1 baru bisa melaksanakan pembelajaran pukul 11.00 WIB hingga 13.00 WIB. Setelah itu, ruangan yang sama digunakan siswa kelas lainnya hingga pukul 17.00 WIB.
"Kalau murid yang dampaknya agak terasa karena mereka biasanya mengaji ketika sore hari, nah ini tidak bisa. Kemarin ada beberapa wali murid yang mengeluhkan, mengajukan permohonan kepada para siswa bisa masuk pagi walaupun di musala begitu. Tapi musala kan kurang nyaman. Makanya terus akhirnya yang mengalah mengajinya, yang gak bisa mengaji," ucapnya dengan mata berkaca-kaca
4. Sekolah ingin dibangun kembali

Sebenarnya, pihak sekolah sudah melaporkan ke Dinas Pendidikan DKI Jakarta bahkan sudah menjalani berbagai tahapan administrasi. Mulai dari pelaporan, penyusunan kronologi, hingga penyelesaian Detail Engineering Design (DED) pada 2025. Dinas Cipta Karya juga telah melakukan analisis kondisi tanah.
Menurut Kehayati, pihaknya mendapat informasi bahwa pembangunan kembali diusulkan untuk dilaksanakan pada 2027.
"Harapan kami sama seperti orang tua murid, semoga sekolah ini segera dibangun kembali agar anak-anak bisa belajar dengan nyaman. Kalau belajar pagi, mereka juga lebih segar daripada harus pulang menjelang petang," imbaunya.
IDN Times sudah mengkonfirmasi kepada Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Nahdiana, namun hingga berita ini diturunkan belum ada respons.





















