Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Amir Nasional Ahmadiyah Silaturahmi dengan Tokoh Yogyakarta

Amir Nasional Ahmadiyah Silaturahmi dengan Tokoh Yogyakarta
Pertemuan Sejumlah Tokoh Yogya dan Muslim Muhammadiyah
Intinya Sih
  • Amir Nasional Ahmadiyah, Zaki Firdaus, menghadiri silaturahmi kebangsaan di Yogyakarta bersama tokoh lintas agama dan akademisi untuk membahas dampak konflik global terhadap persatuan umat.

  • Zaki menekankan pentingnya memperluas dialog dan kolaborasi antarumat beragama di Indonesia guna memperkuat persaudaraan serta mencegah perpecahan akibat perbedaan pandangan.

  • Jaringan Gusdurian menegaskan komitmennya mendampingi komunitas Ahmadiyah dalam isu keberagaman dan kemanusiaan, termasuk melalui kegiatan literasi seperti bedah buku refleksi 100 tahun Ahmadiyah.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Amir Nasional Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia, Zaki Firdaus, menghadiri silaturahmi kebangsaan dengan sejumlah tokoh lintas pemikiran dan masyarakat di Yogyakarta pada Senin, 6 Mei 2026.

Pertemuan tersebut berlangsung di tengah dampak politik dan ekonomi dari meningkatnya ketegangan geopolitik dunia akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran terhadap negara-negara Muslim. 

1. Konflik global dan risiko terpecahnya persatuan umat

Peluncuran Rudal Iran, Qadr, dari peluncur truk dalam Latihan Angkatan Laut Velayat-90. (commons.wikimedia.org/Mohammad Sadegh Heydari)
Peluncuran Rudal Iran, Qadr, dari peluncur truk dalam Latihan Angkatan Laut Velayat-90. (commons.wikimedia.org/Mohammad Sadegh Heydari)

Dalam pertemuan yang dikemas dalam obrolan makan malam santai ini, Zaki menekankan bahwa akibat konflik dan perang yang terjadi di berbagai belahan dunia, kerap terjadi perpecahan di tengah umat. Perpecahan ini sering dimanfaatkan oleh para elite global untuk kepentingan ekonomi dan politik.

Baginya, perbedaan-perbedaan kecil sering kali diperbesar hingga memicu konflik berkepanjangan yang pada akhirnya melemahkan persatuan negara-negara Muslim. 


2. Pentingnya ruang dialog dan kerja sama antar umat

Silaturahmi Amir Nasional Muslim Ahmadiyah dengan Tokoh Yogyakarta
Pertemuan Sejumlah Tokoh Yogya dan Muslim Muhammadiyah

Oleh karena itu, Zaki menekankan pentingnya kesadaran bersama di kalangan pemimpin umat di Indonesia untuk terus membuka ruang perjumpaan, memperluas dialog, dan memperkuat kerja sama lintas kelompok. 

“Indonesia memiliki modal besar berupa budaya gotong royong dan persaudaraan. Karena itu, tugas para tokoh agama dan tokoh masyarakat hari ini bukan memperlebar jarak perbedaan, tetapi menghadirkan kesepahaman, membangun kolaborasi, memperkuat persatuan, dan memajukan perdamaian,” ucap Zaki dalam pertemuan yang juga dihadiri tokoh Yogyakarta antara lain Pengasuh Pondok Pesantren Ummahat sekaligus Koordinator FPUB (Forum Persaudaraan Umat Beriman) Yogyakarta, K.H. Abdullah Muhaimin; Wakil Rektor UIN Sunan Kalijaga Yigkarta, Mohammad Shodik; Koordinator Sekretaris Nasional Jaringan Gusdurian, Jay Ahmad; Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Alimatul Qibliyah; Direktur ICRS ( Indonesian Consortium for Religious Studies), Syamsul Maarif; serta Ketua AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Yogyakarta, Hartanto Adi Saputra.

Dari pihak Muslim Ahmadiyah, turut hadir Juru Bicara Nasional Ahmadiyah, Yendra Budiana; Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Ahmadiyah Yogyakarta, Didit Barianto; dan Mubaligh Daerah Ahmadiyah Yogyakarta, Basyirudin Suhartono. 


3. Komitmen Gusdurian terhadap isu keberagaman

Silaturahmi Amir Nasional Muslim Ahmadiyah dengan Tokoh Yogyakarta
Koordinator Sekretariat Nasional (Seknas) Jaringan Gusdurian, Jay Akhmad (dekat mik) (IDN Times/Ilman Nafi'an)

Koordinator Seknas Gusdurian, Jay Ahmad, mengungkapkan bahwa Jaringan Gusdurian lahir dari peristiwa Cikeusik yang menewaskan tiga pengikut Muslim Ahmadiyah karena mempertahankan keyakinan mereka.  

Peristiwa itu mendorong kesadaran akan pentingnya bagian masyarakat yang menjaga penghormatan terhadap keragaman dan perbedaan, termasuk dalam isu keagamaan. Hal ini juga merupakan nilai yang diperjuangkan oleh Gus Dur. 


4. Kolaborasi Gusdurian dan Muslim Ahmadiyah

Sejak saat itu, Jaringan Gusdurian di berbagai daerah turut hadir mendampingi Muslim Ahmadiyah, baik dalam persekusi maupun dalam kerja-kerja kemanusiaan. 

Salah satunya adalah acara yang baru saja dilakukan, yaitu kegiatan bedah buku Muslim Ahmadiyah & Indonesia yang digelar Rabu, 7 Mei 2026, di Kampus Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta. 

Buku tersebut ditulis oleh 100 tokoh Indonesia non-Ahmadiyah yang merekam refleksi atas peran, kontribusi, serta perjalanan 100 tahun kerja kemanusiaan dan keberagamaan Muslim Ahmadiyah di Indonesia. 


Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sunariyah Sunariyah
EditorSunariyah Sunariyah
Follow Us

Related Articles

See More