Berdasarkan data BMKG, dikutip Rabu (16/9/2026), sekitar 81 persen Zona Musim (ZOM) di Indonesia mengalami musim kemarau. Musim kemarau ini mengindikasikan kondisi atmosfer yang relatif kering. Hal itu dapat dilihat dari banyaknya wilayah mengalami hari tanpa hujan yang berkepanjangan.
22 Provinsi Masuk Kategori Awas Kekeringan, Termasuk Jakarta

- BMKG menetapkan 22 provinsi berstatus Awas kekeringan pada Dasarian II September 2026, saat sekitar 81 persen zona musim Indonesia mengalami kemarau dan kondisi atmosfer relatif kering.
- Sebanyak 1.637 titik mengalami lebih dari 60 hari tanpa hujan berturut-turut, terutama di selatan Indonesia; suhu maksimum juga melampaui 36 derajat Celsius di sejumlah wilayah.
- BMKG memprakirakan curah hujan rendah akibat pasokan uap air terbatas dan El Nino sangat kuat, serta mengimbau penghematan air, pencegahan pembakaran, dan pemantauan informasi cuaca.
Jakarta, IDN Times - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis wilayah Indonesia untuk Dasarian II September 2026 atau periode 11-20 September 2026.
1. Wilayah di Indonesia yang masuk kategori Awas

Bibit siklon tropis 97S yang menjadi pemicu cuaca ekstrem di wilayah NTB. (dok. BMKG) Berdasarkan Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis BMKG untuk Dasarian II September, provinsi-provinsi ini berada pada kategori Awas, yaitu Sumatra Selatan, Bangka Belitung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku dan Maluku Utara.
Sementara itu, kategori Siaga dan Waspada juga tersebar di berbagai daerah lainnya.
2. Suhu di sejumlah daerah mencapai lebih dari 36 derajat Celsius

Ilustrasi matahari (IDN Times/Sunariyah) BMKG juga mencatat suhu maksimum mencapai lebih dari 36 derajat Celsius di sejumlah wilayah, di antaranya Lampung, Aceh, Banten, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Utara.
Cuaca kering juga membuat tutupan awan berkurang sehingga radiasi matahari yang mencapai permukaan bumi meningkat.
Suhu tinggi tersebut dapat mengurangi kenyamanan dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, serta masyarakat yang banyak beraktivitas di luar ruangan.
3. Wilayah Indonesia yang lama tidak mengalami hujan

Ilustrasi tanah sawah mengering akibat kemarau di Semarang, Jawa Tengah. (IDN Times/Dhana Kencana) BMKG mencatat, terdapat 1.637 titik yang mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) kategori ekstrem, yakni lebih dari 60 hari berturut-turut tanpa hujan.
Wilayah dengan HTH ekstrem tersebut terutama berada di Indonesia bagian selatan, termasuk Lampung, sebagian besar Jawa, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi Selatan, Maluku, Bali, Nusa Tenggara, dan Papua Selatan.
Kondisi ini menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan dalam pemantauan kekeringan meteorologis.
4. Perkiraan curah hujan di wilayah Indonesia

Peta prakiraan curah hujan Indonesia pada Dasarian II Agustus 2026 menunjukkan sebagian besar wilayah berada pada kategori curah hujan rendah. (dok. BMKG/bmkg.go.id) BMKG memprakirakan, pada 15–21 September 2026 hujan masih berpotensi terjadi di sebagian Sumatra, Kalimantan, Sulawesi bagian tengah dan selatan, Papua Pegunungan, serta Papua.
Bahkan pada 10–13 September 2026, hujan lebat tercatat terjadi di Riau, Aceh, dan Sumatra Utara. Kondisi tersebut juga memicu banjir dan longsor di beberapa wilayah Aceh dan Sumatra Utara.
Hal ini menunjukkan status kekeringan meteorologis tidak berarti suatu daerah sama sekali tidak mengalami hujan.
Namun, untuk Dasarian II September 2026, BMKG memperkirakan curah hujan rendah atau kurang dari 50 mm per dasarian. BMKG menyebut, kondisi tersebut berkaitan dengan terbatasnya pasokan uap air untuk pembentukan awan hujan, salah satunya akibat pengaruh El Nino.
5. El Nino sangat kuat masih memengaruhi kondisi Indonesia

Ilustrasi kekeringan akibat kemarau panjang dan fenomena El Nino terjadi di Indonesia, Senin (18/9/2023). Cover Grafis IDN Times BMKG mencatat, fenomena El Nino berada dalam kategori sangat kuat yang cenderung mengurangi suplai kelembapan ke wilayah Indonesia.
BMKG memperkirakan fenomena El Nino tersebut masih dapat bertahan hingga awal 2027. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang mendukung atmosfer lebih kering di sejumlah wilayah Indonesia.
6. Masyarakat diminta menghemat air dan menggunakannya dengan bijak

ilustrasi mata air (pexels.com/Jens Johnsson) BMKG mengimbau masyarakat mengantisipasi dampak kekeringan dengan menghemat air dan menggunakannya dengan bijak. Selain itu, masyarakat diimbau agar tidak melakukan pembakaran sampah maupun lahan, serta mengurangi aktivitas di luar ruangan pada siang hari.
Masyarakat juga dianjurkan untuk terus memantau informasi mengenai cuaca dan iklim melalui website resmi BMKG.

























