Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Ancaman Gigitan Ular Mengintai Baduy, Antibisa jadi Kebutuhan Utama

Suku Baduy berjalan kaki (IDN Times/Muhammad Iqbal)
Suku Baduy berjalan kaki (IDN Times/Muhammad Iqbal)
Intinya sih...
  • Antibisa tidak bisa disimpan jumlah besar di wilayah Baduy, melainkan ditempatkan di puskesmas rujukan
  • Warga Baduy butuh antibisa ular karena jarak puskesmas rujukan yang menyediakan antibisa dari wilayah Baduy mencapai sekitar satu setengah jam perjalanan
  • Antibisa tidak disediakan berlebihan, melainkan sebagai langkah antisipasi dalam kondisi darurat
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kementerian Kesehatan memberi perhatian khusus terhadap risiko gigitan ular di wilayah Baduy, Kabupaten Lebak, Banten. Isu tersebut menjadi salah satu fokus dalam kunjungan kerja Sekretaris Jenderal Kemenkes, Kunta Wibawa Dasa Nugraha, ke kawasan Baduy.

Kunta menyampaikan, kebutuhan antibisa ular atau antivenom menjadi perhatian, mengingat sebagian besar masyarakat Baduy beraktivitas sebagai petani di ladang dan kawasan hutan. Namun, dia menegaskan pemberian antibisa harus dilakukan sesuai prosedur medis.

"Kalau antibisa kan tidak bisa sembarangan ya. Itu harus dicek dengan cukup. Antibisa sudah tersedia di puskesmas, tapi memang tidak banyak," ujar Kunta dalam keterangan, Jumat (2/1/2025).

1. Antabisa tidak bisa disimpan jumlah besar

ilustrasi antibisa ular (pexels.com/Artem Podrez)
ilustrasi antibisa ular (pexels.com/Artem Podrez)

Kunta menjelaskan, antibisa ular tidak disimpan dalam jumlah besar di wilayah Baduy, melainkan ditempatkan di puskesmas rujukan yang memiliki tenaga kesehatan dengan kompetensi khusus dalam penanganan kasus gigitan ular.

Apabila terjadi kasus gigitan ular, Kunta menyebut penanganan awal dapat dilakukan untuk mencegah penyebaran racun sebelum pasien dirujuk ke fasilitas kesehatan rujukan. Puskesmas akan melakukan koordinasi untuk memastikan penanganan lanjutan dapat segera diberikan.

"Minimal diikat dulu supaya tidak menyebar. Nanti puskesmas akan datang memberikan penanganan," katanya.

2. Warga Baduy butuh antibisa

0615D4DA-92A2-4DA5-99CE-1AAEAF26F3DD.jpeg
Warga Baduy Dalam, Repan di Jakarta Barat, Rabu (5/11/2025). (IDN Times/Irfan Fathurohman)

Kunta mengakui jarak puskesmas rujukan yang menyediakan antibisa dari wilayah Baduy mencapai sekitar satu setengah jam perjalanan. Meski demikian, Kemenkes memastikan koordinasi tetap berjalan agar penanganan dapat dilakukan secepat mungkin.

Di sisi lain, masyarakat Baduy menilai ketersediaan antibisa masih menjadi kebutuhan penting. Warga Desa Cihuni, Baduy Luar, Narja, menyampaikan antibisa ular merupakan salah satu kebutuhan utama masyarakat, mengingat tingginya risiko gigitan saat bekerja di ladang.

3. Antibisa tidak disediakan berlebihan

Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan RI, Kunta Wibawa Dasa Nugraha. (IDN Times/Tunggul)
Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan RI, Kunta Wibawa Dasa Nugraha. (IDN Times/Tunggul)

Menurutnya, antibisa tidak diminta untuk disediakan secara berlebihan, melainkan sebagai langkah antisipasi dalam kondisi darurat. Dia juga menyebut keterbatasan obat tersebut kerap menjadi tantangan bagi tenaga kesehatan di lapangan.

"Bukan menyediakan, tapi buat jaga antisipasi saja. Masalah obat bisa itu, Pak Kapus juga sering nangis, soalnya susah, nggak ada," ujar Kunta.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Satria Permana
EditorSatria Permana
Follow Us

Latest in News

See More

KUHP dan KUHAP Versi Terbaru Resmi Berlaku Mulai Hari Ini

02 Jan 2026, 12:27 WIBNews