Asap Karhutla Masuk Jakarta, BNPB Imbau Kurangi Aktivitas Luar ruangan

BNPB menerima peringatan BMKG bahwa asap karhutla telah masuk atmosfer Jakarta, serta terdeteksi pula di Banten dan Jawa Barat melalui citra satelit dan analisis meteorologi.
Warga, terutama anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit pernapasan dan jantung, diimbau mengurangi aktivitas luar ruang dan memantau kualitas udara.
Sebaran asap masih berada di atmosfer dan belum dipastikan meningkatkan polutan permukaan; risiko kesehatan ditentukan data PM2.5/AQI, sementara masker KN95, KF94, atau medis disarankan bila harus keluar.
Jakarta, IDN Times - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah menerima peringatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) soal asap dari kebakaran hutan serta lahan yang telah masuk ke atmosfer Jakarta. BNPB pun mengimbau masyarakat agar mengurangi aktivitas di luar ruangan, khususnya bagi kelompok rentan. Terutama anak-anak, lansia, ibu hamil dan penderita riwayat penyakit pernapasan dan jantung.
"Dianjurkan bagi kelompok rentan untuk membatasi aktivitas fisik di luar ruangan yang tidak mendesak," ungkap Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan kepada IDN Times lewat pesan pendek, Jumat (16/10/2026).
Ia juga meminta kepada masyarakat yang tinggal di area Jakarta, Jawa Barat dan Banten agar memantau kualitas udara secara berkala sebelum beraktivitas di luar ruangan. Pengecekan kualitas udara bisa dilakukan lewat kanal resmi pemerintah atau aplikasi pemantau udara.
Namun, seandainya aktivitas luar ruangan tetap harus dilakukan maka Berton mendorong masyarakat menggunakan masker dengan standar kesehatan. "Masyarakat disarankan untuk mengenakan masker seperti jenis KF94, KN95 atau masker medis. Tujuannya untuk menyaring partikel polutan halus (PM2.5) agar tidak terhirup ke saluran pernafasan," tutur dia.
1. BNPB imbau warga untuk waspadai gejala gangguan pernapasan

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan. (Tangkapan layar YouTube BNPB) Lebih lanjut, kata Berton, masyarakat juga harus waspada terhadap gejala gangguan pernapasan. Segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat baik itu puskesmas atau klinik bila mengalami gejala seperti batuk beruntun, sesak napas, iritasi tenggorokan atau perih pada mata yang tidak kunjung membaik.
"Sebaiknya warga memperbanyak minum air putih untuk menjaga tenggorokan tetap lembab dan membantu tubuh membuang racun atau polutan ringan. Konsumsi makanan bergizi seimbang guna mempertahankan daya tahan tubuh," kata Berton.
2. Sebaran asap sudah masuk atmosfer Jakarta terlihat dari pemantauan citra satelit

Citra sebaran asap karhutla (Dok. BMKG) Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyampaikan, sebaran asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sampai ke Jakarta, Banten, dan Jawa Barat (Jabar). Sebaran asap terdeteksi melalui pemantauan citra satelit dan analisis meteorologi.
"BMKG memantau sebaran asap menggunakan citra satelit dan analisis meteorologi. Berdasarkan pantauan terbaru, terdapat indikasi sebaran asap karhutla yang telah mencapai wilayah Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat pada lapisan atmosfer," ungkap Sekretaris Utama BMKG, Guswanto pada Jumat (16/10/2026).Ia mengatakan, penyebab asap karhutla bisa terbawa ke tiga provinsi itu lantaran ada pergerakan angin. "Kondisi ini terjadi karena transport asap yang dipengaruhi arah serta kecepatan angin di berbagai lapisan udara," tutur dia.
3. Sebaran asap karhutla masih pada tahap atmosfer udara

Kondisi kabut asap dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kota Palembang (IDN Times/Rangga Erfizal) Namun, Guswanto menjelaskan bahwa sebaran asap ini masih perlu dipantau. Hal ini dikarenakan sebaran asap kini baru sampai di atmosfer dan belum secara langsung terlihat pada tingkat konsentrasi polutan di permukaan.
"Perlu dipantau terus, apakah konsentrasi yang di Jakarta ini benar-benar meningkat di permukaan, atau hanya melintas di lapisan atmosfer atas," ujarnya.Guswanto menekankan bahwa yang perlu diperhatikan adalah tingkat kualitas udara atau konsentrasi polutan PM2.5.
"Yang paling menentukan risiko kesehatan adalah data kualitas udara (PM2.5/AQI) saat itu, bukan hanya citra satelit sebaran asap," tutur dia.
Sebagai bentuk antisipasi, Guswanto mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar rumah. Guswanto mendorong masyarakat untuk mengenakan masker, khususnya yang bertipe KN95, KF94, atau N95.
"Batasi kegiatan di luar ruangan dulu, lebih baik apa, dibatasi dululah. Kalau olahraga, nge-gym aja di gym, tidak usah lari atau apa di luar ruangan," imbuhnya.


















